Disband APJATI , Completion Alternative for TKI Problem


Zonalinenews – Kupang. Disband the association of mobilization of indonesian worker service (APJATI) is one of the worst alternative to solve the problem of Indonesian migrant workers in abroad, so hopefully there will be no more case such Wilfrida Soik in the future.  This was confirmed by the Chairman of Labour communication Forum of East Nusa Tenggara Province ( ForkomNaker ), Ariyanto Joseph Lu Tef’lopo , on Friday, September 27, 2013 at 15:00 pm at the secretariat of ForkomNaker NTT.

Ariyanto Lu Tef’lopo  dan Dubes Indoneisa Malaisya yang Mulia Herman Prayitno

Ariyanto Lu Tef’lopo dan Dubes Indoneisa Malaisya yang Mulia Herman Prayitno

“Talking about the case of wilfrida soik, we are supposed to review the history and cultural relationship between Indonesia and Malaysia where these two countries ever had a strong emotional and cultural relationship in the past. Here, we are expected to take a lesson learn
from Wilfrida case and there is an expectation for us to be able to talk through cultural aspect and find the root of the problem. So, the problems that come up will be seen not as an act of interstate
sentiment, or no concern between countries or aspects of law enforcement, so on the accounts of employment cconsolidation expansion is not just talks as the goddess Fortuna, but it’s rooted culture that would become the goddess Fortuna, so the cultural refference would play a role in resolving the issue” Said Ariyanto.

Ariyanto reiterated that, in 1950, 1960, 1970 and 1980 there was no issue between Indonesia and Malaysia, because at that time there was strong cultural approachment. After the presence of labor brokers and Indonesia began to see its labor as a land of lucrative business, since many labors went to abroad to solve their economic problem, because they can’t be able to prosperous by their own nation.

“According to me, the issue about Wilfrida Soik is not an extraordinary case. Culture and socio- economic approach to be taken by the Government of Indonesia and the Government of Malaysia will provide space for the development of Indonesia’s labor economy that would be much more favorable in the future.” Said Ariyanto.
.
Ariyanto Lu Tef’lopo added, “82 workers from NTT who had returned back on the 28th January 2013 by ForkomNaker as a way to solve labors casetrouble in Malaysia. ” I propose three alternatives in an attempt to settle problems faced by our labors: First , the President of Indonesia should repatriate the workers in abroad. The second, replace the Minister of Manpower and Transmigration, and the last one is disperse APJATI , ” said Ariyanto . (*John Pereira / Rusdy Maga)

 

Indonesian Version

 

Bubarkan APJATI, Alternatif Penyelesain masalah TKI
Zonalinenews-Kupang.Bubarkan Asosiasi Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) sebagai salah satu alternatif terburuk  untuk menyelesaikan masalah tenaga kerja Indonesia yang dikirim ke luar negeri, sehingga diharapkan tidak terjadi  lagi masalah Wefrida Soik lainnya. Hal itu ditegaskan oleh Ketua Forum Komukasi Tenaga Kerja Provinsi Nusa Tenggara Timur (ForkomNaker) Yoseph Ariyanto  Lu Tef’lopo,  Jumat 27 September 2013  jam 15.00 Wita di sekertariat ForkomNaker NTT.

“Berbicara kasus Wilfrida Soik,  bukan setelah ada kasus baru kia berbicara, tetapi  kita berbicara masalah ini harus terlebih dahulu membuka dari tabir sejarah dan kultur antara  Negara Indonesia dan Negeri Jiran Malaysia yang juga serumpun melayu serta  mempunyai hubungan emosional dan kultur  tinggi pada  masa lampau. Jadi kita tidak berbicara setelah ada kasus, tetapi berdasarkan pelajaran kasus ini diharapkan agar kita mampu membuka tabir  bagi kita untuk berbicara dari aspek kultur atau berbicara dari akar persoalan.

“Kita tidak berbicara setelah ada kasus, tapi pelajaran dari kasus ini diharapkan akan membuka tabir bagi kita untuk berbicara dari masalah kultur, memahami  akar persoalan  dan sejarah tentang
bagaimana hubungan mesra antara Malaysia dan Indonesia pada masa lalu, sehingga persoalan-persoalan  yang timbul ke permukaan saat ini tidak dilihat sebagai sebuah tindakan sentimen antar negera atau tidak ada kepedulian antar negara, atau  aspek penegakan hukum semata, tetapi
seharusnya direview kembali  perjalanan sejarah dan budaya antara kedua negara. Sehingga pada pemaparan-pemaparan konsoludasi ekspansi ketenagakerjaan tidak saja  rana hukum selalu berbicara sebagai dewi fortuna tetapi  kultur  yang berakar itu yang akan menjadi dewi fortuna, sehingga referensi  kultur yang berakar akan sungguh berperan dalam  menyelesaikan persoalan.

Ariyanto kembali menegaskan bahwa kenapa pada  tahun 1950,1960 , 1970 dan 1980  tidak ada persoalan berlebihan dengan negeri jiran ini itu, karena pada masa itu pendekatan kultur sangat berperan kuat. Ketika hadirnya para pengusaha dan makelar-makelar tenaga kerja dan Indonesia
mulai melihat para tenaga kerja Indonesia sebagai lahan bisnis yang menggiurkan, karena persoalan para tenaga kerja di daerah ini terpaksa harus bekerja ke luar negeri sebagai persoalan ekonomi yang dihadapinya, karena mereka yang tidak dapat disejahterakan  oleh bangsanya sendiri.

Menurut saya, persoalan wilfrida Soik bukanlah suatu  peristiwa yang luar biasa. Pendekatan kultur dan sosial ekonomi yang harus dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Malaysia secara bersinergi sungguh akan memberikan ruang gerak  bagi pengembangan perekonomian
ketenagakerjaan Indonesia yang akan jauh lebih kondusif di masa depan.

Ariyanto Lu Tef’lopo menambahkan,  82 orang tenaga kerja asal NTT yang sudah dipulangkan pihaknya pada tanggal 28 januari 2013.  ForkomNaker memulangkan para TKI  sebagai upaya penanganan kasus tenaga kerja bermasalah di negeri Jiran tersebut. “ Ada tiga  alternatif  yang saya usulkan dalam upaya penyelesain masalah Tenaga kerja Indonesia yang bekerja  di luar negeri  : Pertama,  Presiden Indonesia harus memulangkan TKI yang ada di luar Negeri.  Kedua, segera mengrantikan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI serta bubarkan APJATI.”(*John Pereira/Rusdy Maga)