Faperta UKAW Bangun Water Planting

KUPANG, MEDIA GROUP – Mengantisipasi kekurangan air dan genangan banjir pada musim hujan di Kota Kupang, Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Artha Wacana (UKAW) Kupang, membangun beberapa lubang penyerapan air (Water Planting, red) pada sejumlah titik di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima.

Pantauan wartawan di Jalan Monitor tepatnya di RT. 019/RW. 007, Sabtu (13/12), belasan mahasiswa asal Faperta UKAW, bergotong royong melakukan penggalian lubang yang berfungsi untuk menyerap air pada saat musim hujan.

Ketua kelompok, Renjes Lamawitak kepada wartawan mengatakan, kegiatan itu merupakan program sukarela dan merupakan program jangka panjang yang dibuat oleh Dekan Faperta UKAW.

Untuk itu, dirinya berharap agar warga disekitar dapat menjaga bantuan tersebut.

“Ini program jangka panjang Bapak Dekan, yang kita harapkan agar warga bisa menjaganya dan mengetahui fungsinya,” ucapnya.

Ketua RT. 19, RW. 07 mengatakan, program yang dicanangkan Dekan Faperta UKAW tersebut, merupakan salah satu program yang sangat brilian yang seharusnya mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah (Pemda) sangat bermanfaat buat warga sekitar.

“Terima kasih buat Bapak Dekan dan mahasiswa, karena lubang penyerapan ini sangat membantu masyarakat,” ujarnya.

Terpisah, Dekan Faperta UKAW, Ir. Z. Malelak, M. Si, Minggu (14/12) kemarin mengatakan, program yang diciptakannya tersebut, sudah digunakan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan sudah menyebar di beberapa Kabupaten Kota di NTT.

Program itu menurutnya, terinspirasi saat melihat fenomena wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang selalu kekurangan air. Padahal menurutnya, di NTT terdapat cukup banyak titik mata air.

Hal tersebut, dikarenakan, tidak adanya tempat penampungan atau penyerapan air pada saat musim hujan. Sehingga air hujan mengalir begitu saja ke laut tanpa diserap. Apalagi lanjutnya, hujan yang mengalir ke laut membawa kotoran-kotoran berupa pelastik dan bahan kimia lainnya sehingga dapat juga merusak ekosistem laut.

Ia mencontohkan, di Negara Mesir, pemerintah membangun drainase yang pada bagian bawahnhya tidak di tutup dengan semen yang mengelilingi kota, sehingga pada saat musim hujan air hujan yang turun tidak mengalir ke laut, tetapi akan diserap.

Menurutnya, di wilayah NTT program Water Planting tersebut, sangat bermanfaat karena selain fungsinya untuk menyerap air, program tersebut juga merupakan salah satu program untuk menyelamatkan generasi masa depan terkait kebutuhan akan air.

Olehnya, dirinya sudah merencanakan pada tahun 2015 nanti, akan dibuat satu juta lubang penyerapan di seluruh Kota Kupang. “Tahun depan kami buat satu juta lubang penyerapan. Satu rumah bisa mendapatkan empat lubang,” katanya.

Dirinyapun sempat mengkritisi pemerintah soal program sumur bor yang selama ini gencar dilakukan. Menurutnya, sumur bor tersebut hanya menghabiskan populasi air yang terkandung di bumi. Seharusnya pemerintah dari sekarang memikirkan bagaimana untuk bisa menghasilkan dan membudidayakan air.

“Di NTT masalah air juga di politisasikan. Kapan kita bisa maju kalau begini terus. Masalah air merupakan masalah yang harus diperjuangkan. Karena hal itu untuk menyelamatkan anak cucu kita ke depan,” pungkasnya. (amr)