Kajati NTT Yakin Buronan Kasus Pupuk Bisa Ditangkap

KUPANG, MEDIA GROUP – Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT)  memiliki keyakinan bahwa dapat menangkap Kalumban Mali yang sudah lama berstatus buronan dan masuk daftar pencarian orang (DPO).

Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan bahan atau obat-obatan untuk intensifikasi tanaman padi dan palawija di Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distambun) NTT TA. 2009 itu, diyakini masih berada di Indonesia.

Buronan ini terdeteksi selalu berpindah lokasi yakni dari satu daerah ke daerah lain. Ini dibuktikan dengan nomor ponselnya yang terus berubah. Setiap kali nomor ponselnya terdeteksi, lokasinya selalu berubah.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT, John Walingson Purba kepada wartawan belum lama ini, mengatakan pihaknya terus melakukan pelacakan.

Dijelaskan Purba terdakwa di deteksi menggunakan teknologi yang dimiliki Adhiyaksa Monitoring Center (AMC), dirinya optimis Kalumban segera ditemukan.

“Kami punya keyakinan bahwa Kalumban Mali bias ditangkap. Kalumban selalu berpindah-pindah tempat. Dari satu tempat ke tempat yang lainnya, “ kata Purba.

Untuk melacak Kalumban, Lanjut Purba, pihaknya juga meminta bantuan aparat kepolisian dan TNI, serta pihak kedutaan Timor Leste.

Untuk diketahui, sesuai Diktum putusan banding Pengadilan Tinggi Kupang (PTK), menjatuhkan hukuman 13 tahun penjara atas Kalumban Mali. Putusan itu naik lima tahun dibandingkan putusan pengadilan tingkat pertama atau Pengadilan Tipikor Kupang yang memvonis Kalumban dengan hukuman 8 tahun penjara.

Selain pidana penjara 13 tahun, Kalumban juga dibebani membayar denda Rp 300 juta, subsidair 3 bulan penjara, serta membayar uang pengganti Rp 503.504.908, subsidair 2 tahun penjara.

Vonis terhadap Kalumban, tertuang dalam berkas perkara No.55/Pidsus/2014/PTK yang diputus dalam sidang di PTK yang dipimpin ketua majelis hakim, Yab A. Rafael, dengan anggota Sahman Girsang dan Idrus, dibantu panitera penggani, Abraham Punuf. (che)