Markus : Aksi Kami Itu Murni, Tidak Ada Yang Dibayar

KUPANG, MEDIA GROUP– Aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Katolik Mandira (Unwira) Kupang, yang berujung pemukulan terhadap mahasiswa dan penyerangan ke Marga Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) oleh aparat kepolisian beberapa waktu lalu, dinilai banyak pihak merupakan aksi tandingan atau aksi bayaran terhadap aksi yang dilakukan oleh keluarga Lamaholot terkait kasus penganiayaan yang dilakukan Rudy Soik terhadap Ismail Pati Sanga (30), warga Adonara beberapa waktu lalu.

Isu tentang aksi yang diduga merupakan aksi bayaran tersebut dilontarkan oleh keluarga besar Lamaholot yang berada di Kupang, yang dinahkodai, John Ricardo, menuntut Brigpol Rudy Soik segera diproses hukum atas aksi brutalnya menganiaya salah satu saudara mereka, Ismail Pati Sanga.

Menanggapi isu tersebut, Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Unwira Kupang, Markus Gani, angkat bicara.

Markus yang dikonfirmasi, Minggu (7/12) kemarin, mengatakan, aksi yang dilakukan bersama kawan-kawannya tersebut, merupakan murni idealismenya sebagai mahasiswa yang kritis terhadap berbagai persoalan  di Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk persoalan perdagangan manusia (Human Trafficking) yang selama ini marak dengan kuat dugaan adanya keterlibatan oknum perwira Polda NTT. Dan Pihak kepolisian dinilai lamban menanganinya.

Menurutnya, tanpa ada pengawalan dari mahasiswa terhadap kasus tersebut, maka tidak mengherankan kasus tersebut akan didiamkan.

“Aksi itu atas inisiatif saya, dan itu murni tanpa ada bayaran atau suruhan pihak tertentu. Jadi salah besar orang beranggapan seperti itu. Karena sebagai mahasiswa saya mempunyai hak mengawal dan mengontrol bahkan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Tanpa aksi mahasiswa kasus ini bisa saja dihilangkan,” ujarnya.

Menyinggung soal salah satu tutuntan mahasiswa mendesak Kapolda NTT untuk membebaskan Rudy Soik, dirinya mengatakan, kuat dugaan Rudy Soyk di kriminalisasikan oknum-oknum yang terlibat dalam kasus Trafficking.

“Rudy itu mau bongkar petingi-petingginya di Polda, jadi kami sebagai mahasiswa merasa ada kejanggalan disana, jadi kami tetap mendukungnya,” katanya.

Terpisah, Ketua PMKRI Cabang Kupang, Juventus Kago, kepada wartawan, Sabtu (6/12), mengatakan, aksi brutal anggota polisi Polda NTT yang melakukan penyerangan ke marga PMKRI beberapa waktu lalu mau menunjukan kinerja kepolisian di Polda NTT masih sangat jauh dari harapan masyarakat.

Ia melanjutkan, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama Polda NTT, Kamis (4/12), pihak Polda sudah mengungkapkan permohonan maaf kepada pihak PMKRI. Namun untuk pelaku penganiayaan tetap diproses sesuai hukum yang berlaku.

Untuk diketahui, massa dari keluarga besar Lamaholot Kupang, menggelar aksi unjuk rasa di Polda NTT beberapa waktu lalu, menyusul penganiayaan terhadap Ismail Pati Sanga, yang dilakukan oleh Brigpol Rudy Soik, bersama keempat kawannya, (29/10) lalu.

Kasus yang melibatkan oknum Polda NTT ini, Rudi Soik kini ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak penyidik Polda NTT dan segera menjalani sidang perdananya di Pengadilan Negeri (PN) Kelas I A Kupang. (amr)