Polda NTT Diminta Bongkar Dugaan Korupsi Rp 5 Miliar di UMK

Media Group : Zonalinenews,Erende Pos –Kupang– Pekerjaan proyek bangunan baru dan renovasi gedung Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) dengan anggaran sebesar Rp 5 miliar dikerjakan tanpa ditender. Dana APBN dari Kementerian Agama RI Tahun Anggaran 2012-2013 itu dikerjakan tanpa dilelang. Hanya bermodal konsultasi dan meminta pendapat dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembagunan (BPKP) Nusa Tenggara Timur (NTT) beraninya pihak UMK mengerjakan proyek itu dengan swakelola.

Kampus Muhamadiyah Kupang

 

Sumber zonalinenews mengatakan, sesuai pengakuan dari pihak yang diperiksa di Polda NTT bahwa UMK tidak melakukan proses lelang karena mengacu pada petunjuk teknis (Juknis) dari Kementerian Agama RI yang mengatur tentang pengelolaan dana block grand untuk lembaga pendidikan tinggi swasta termasuk UMK yang dikerjakan secara swakelola.

“Sesuai pengakuan dari orang-orang yang diperiksa di Polda NTT bahwa mereka kerja berdasarkan Juknis dari Kementerian Agama RI,” kata sumber tersebut di Kupang, Rabu 17 Desember 2014

Menurut sumber yang layak dipercaya itu, bahwa dana sebesar Rp 5 miliar untuk proyek gedung baru dan renovasi gedung UMK dicairkan bersamaan dengan Rp 8 miliar untuk pembangunan Masjid Raya Kupang. Anehnya, anggaran Rp 8 miliar untuk Masjid Raya Kupang ditender dan dimenangkan oleh dua rekanan. Satu rekanan beralamat di Kupang dan satunya di Surabaya, Jawa Timur. Proyek pembangunan Masjid Raya Kupang sudah selesai dibangun tanpa masalah.  Yang sumber anggaranya berasal dari dana block grand Kementerian Agama RI tahun 2012-2013.

 

Informasi yang diperoleh di Polda NTT kalau kasus tersebut sudah dilidik dengan melakukan pengumpulan bahan dan keterangan (Pulbaket). Penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda NTT juga sudah memeriksa sejumlah pihak terkait dengan dugaan kasus korupsi tersebut sekitar tiga bulan lalu namun belum ditetapkan tersangkanya.

Dari hasil pemeriksaan itu, Polda NTT telah menemukan dana sebesar Rp 5 miliar dikerjakan tanpa dilelang. Karena tidak dilelang maka ditemukan indikasi korupsi yang mengakibatkan kerugian negara yang tidak sedikit.

“Betul kasus itu sudah dilidik oleh Polda NTT dan penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus sudah memeriksa beberapa orang. Polda NTT tetap bongkar kasus itu,” kata sumber itu.

Saat ditanya tentang siapa yang sudah diperiksa tim penyidik Ditreskrimus Polda NTT, sumber tersebut enggan menyebutkan nama dan identitasnya. Dalam waktu dekat penyidik Polda NTT kembali memanggil pihak UMK untuk diperiksa terkait dugaan kasus korupsi tersebut.

Dari sumber lain menyampaikan, semestinya dana Rp 5 miliar dikerjakan melalui proses tender yakni dilelang. Sebab, tidak ada aturan yang mengatur kalau dana Rp 5 miliar dikerjakan dengan swakelola atau tanpa ditender. Dugaan kasus korupsi tersebut pernah diproses di Polres Kupang Kota namun mandek. Diduga pihak UMK dibekingi pihak tertentu untuk mengerjakan proyek tersebut tanpa ditender.

Jika dilihat, kondisi fisik gedung UMK yang baru dibangun dan direnovasi masih terbengkalai. Folume pekerjaan tidak sebanding dengan plafon anggaran sebesar Rp 5 miliar. Diduga, folume pekerjaan tidak mencapai 50 persen namun anggaran yang tersedia sudah habis terpakai oleh pihak pengelola.

Sebuah sumber di UMK mengatakan, sejak 2012-2013 gedung kampus tersebut dibangun dan direnovasi. Namun, tidak diketahui nama rekanan atau kontraktor yang mengerjakannya.

“Ia memang betul kampus UMK dibangun tapi tidak tahu perusahaan yang mengerjakan proyek itu,” jelas dia. (*wan)