UAS di SMAN 8 Kupang Gunakan K-13

Media Group : Zonalinenews, Erende Pos-Kupang,– Meski Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Anies Baswedan telah menghentikan pemberlakuan Kurikulum tahun 2013 (K-13). Namun SMA Negeri 8 Kota Kupang masih menggunakan kurikulum tersebut sebagai acuan dalam pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS).

Sebab, jika menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) dikuatirkan peserta UAS tidak mampu mengaplikasikan kurikulum itu dengan baik. Sehingga, untuk memuluskan pelaksanaan ujian semester ganjil, sekolah itu masih menggunakan K 13.

Hal ini disampaikan Kepala Sekolah Negeri 8 Kota Kupang, Haris Akbar kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu 10 Desember 2014.

Menurutnya, penghentian sementara penerapan K 13 tidak berpengaruh terhadap proses UAS yang saat ini tengah berlangsung. Sementara untuk semester yang akan datang di gunakan KTSP dan pemberlakuannya dimulai januari mendatang.

“ Ujian semester tahun ini kita masih pakai K 13, tapi masuk tahun 2015 kita sudah kembali menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajar (KTSP),” Kata Akbar .

Ia mengatakan, dirinya setuju dengan kebijakan Mendikdasmen yang menghentikan pelaksanaan K 13 sebab pelaksanaan kurikulum itu terkesan dipaksakan kepada pihak sekolah untuk menggunakannya.

Menurut Akbar, pemerintah seharusnya mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan sarana dan prasarana maupun pelatihan dalam menerapkan K 13, terutama Sumber Daya Manusia.

Masih menurutnya, guru harus dipersiapkan secara matang supaya saat K 13 diberlakukan bukan menjadi masalah lagi. Namun, yang terjhadi adalah guru-guru tidak mampu menerapkan K 13 tersebut.

“ Hampir semua mata pelajaran guru tidak mampu menerapkan K 13, ini menjadi persoalan. Sehingga denga penutupan ini para guru diharapkan pemerintah mempersiapkan tenaga guru secara baik dan benar,” jelas Akbar.

Berdasar pengamatannya, di Provinsi NTT bukan saja persoalan terbesar dalam menerapkan kurikulum tahun 2013 terletak pada buku pelajaran Tapi, juga permasalahannya adalah kemampuan guru dalam melaksanakan Kutikulum itu.

“ Bukan saja buku yang menjadi persoalan dalam menerapkan K 13 tapi juga persoalan pemahaman guru-guru di NTT masih kurang,” tutur Akbar.

Di sisi lain kata Akbar, buku pelajaran baru di terima sekolah pada akhir November 2014. Hal ini menandahkan kesiapan Negara untuk mengelola dunia pendidikan masih lemah.

“ Kita baru saja terima buku pelajaran akhir Noivember ini,” tutur Akbar.(chu)