Derita Martinus Oemenu alias Topan dan Air Mata Sang Isteri

Media Group: Zonalinenews-Kupang, – Martinus Oemenu alias Topan, seorang  suami berumur 30 tahun  yang selama ini menjadi tukang ojek, demi menghidupi sang isteri dan anak semata wayangnya, kini hanya meratapi nasibnya di balik jeruji besi sambil menunggu kapan sang hakim menentukan nasibnya.

Sidang Martinus Oemenu alias Topan

Sidang Martinus Oemenu alias Topan

 

Menyayat hati saat menyaksikan  setiap kali dirinya disidangkan. Isteri serta anak kesayangannya selalu setia menemani sang suami didakwa sang Jaksa. Melihat kesetiaan anaknya dalam pelukan isterinya, Topan selalu meneteskan air mata. Dengan pandangan penuh kerinduan, Topan menatap sang isteri dan anaknya sambil berjalan menuju mobil tahanan. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut sang isteri. Hanyalah air mata mengiringi sang suami menaiki mobil tahanan hingga hilang dari area Pengadilan Tipikor Kupang, Senin 26 Januari 2015 lalu.

 
Sambil mengelus rambut anaknya, kepada wartawan sang isteri, Yuliana Nakmofa Koreuli, menuturkan, sebagai isteri, dirinya sangat yakin, jika suaminya tidak melakukan pembunuhan seperti yang dituduhkan itu. Karena menurutnya, saat kejadian pembunuhan tersebut, dirinya serta Topan berada di rumah orangtuanya di Takari, Kabupaten Kupang. “Saya yakin suami saya tidak bersalah. Karena saya tau jika Topan melakukan sesuatu pasti dia akan beritahu saya. Dia itu orangnya jujur. Apalagi waktu kejadian saya dengan Topan ada di Takari,” katanya.

 
Lanjutnya, saat polisi datang menangkap suaminya di Takari, Topan tidak melarikan diri dan melakukan perlawanan. Bahkan ketika polisi bertanya dimana Topan, Topan dengan tegas mengaku bahwa dirinya bernama Topan. “Jika suami saya pembunuh, kenapa suami saya tidak lari sembunyi jauh dari Kupang. Seseorang kalo sudah bunuh orang tidak mungkin dia masih tinggal di Kupang sini,” ungkapnya.

 
Dirinya berharap, dalam memberikan putusan terhadap suaminya, hakim juga harus memperhatikan pengakuan suaminya. Karena apa yang diakui Topan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, adalah sebuah ungkapan hati yang jujur.

 
“Saya minta Pak hakim tolong adil. Karena pengakuan suami saya itu benar-benar jujur. Kami hanya orang kecil. Jika suami saya dipenjara, saya harus sendirian berusaha untuk membesarkan anak kami,” pungkasnya sambil meneteskan air mata. (*amar)