Dua Sungai Di NTT Miliki Sedimentasi Tinggi

Media Group: Zonalinenews-Kupang,- Sungai Benanain di Kabupaten Belu dan Noemuti di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan dua Sungai yang pengendapannya (sedimentasi) sangat tinggi sehingga lokasi banjir juga selalu berpindah-pindah.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Tini Tadeus

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Tini Tadeus

 

Untuk mengantisipasi banjir di sungai Benanain dan Noeuke bisa dilakukan dengan normalisasi dan penggerukan pada setiap tahun. Sedangkan relokasi warga adalah bukan solusi yang tepat karena masyarakat sudah menyatu dengan lokasi pemukiman yang semula.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Tini Tadeus menjelaskan selain dilakukan normalisasi dan penggerukan sungai, pemerintah juga telah berupaya membangun tanggul darurat untuk jangka waktu pendek.

“Dibutuhkan biaya besar untuk penanganan banjir di Sungai Benanain dan Noeuke.Dua Sungai besar itu harus dilakukan normalisasi dan penggerukan karena memilik sedimentasi tinggi,” kata Tini di Kupang, Selasa 20 Januari 2015.

Setiap musim hujan menurutnya , sekitar 350 anak sungai yang bermuara ke Sungai Benanain. Sehingga terbawanya material hasil dari pengikisan dan pelapukan oleh air ke Sungai Benanain yang kemudian terjadi pengendapan. Karena terjadi pengendapan maka lokasi banjir selalu berpindah-pindah sehingga sulit diatasi.

Lebih Lanjut Kata Tini Tadeus , Sungai Benanain juga sangat panjang dan berkelok-kelok sehingga membutuhkan anggaran yang lumayan besar untuk pembangunan tanggul guna mengatasi terjangan banjir. Pada setiapa tahun, korban banjir di Sungai Benanain lebih tinggi jika dibandingkan dengan Sungai Noemuti. Namun, dua sungai itu sama-sama memiliki sedimentasi yang cukup tinggi sehingga dibutuhkan penanganan.

“Sungai Benanain sangat panjang dan berkelok-kelok berbentuk “S”. Sungai itu merupakan induk dari 350 sungai kecil yang bermuara ke sana,” jelas Tini.

Ia menyampaikan sebanyak 895 staf BPBD di seluruh NTT masih berstatus tenaga kontrak. Jika dikaitkan dengan penanganan bencana maka dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) masih belum siap.

Adapun hal-hal yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dilakukan, misalnya sampai dengan saat ini BPBD di seluruh kabupaten/kota di NTT masih melakukan penghitungan kerugian akibat bencana yang melanda 13 dari 22 kabupaten/kota  di daerah itu.

Mengenai anggaran untuk penanganan bencana, Tini menyampaikan pada 2015 Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) BPBD Provinsi NTT sebesar Rp 3,1 miliar. Besar anggaran itu tidak menentu karena disesuaikan dengan kebutuhan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) NTT Andre Koreh menegaskan untuk mengatasi masalah Sungai Benanain secara keseluruhan dibutuhkan dana sekitar Rp 10 triliun. Dana itu digunakan untuk penanganan mulai di bagian hulu hingga ke hilir sungai termasuk pembangunan tanggul sepanjang 38 kilometer.

“Butuh biaya besar untuk pembangunan tanggul di Sungai Benanain guna mengantisipasi banjir yang melanda warga setiap tahun,” kata Andre. (*Ega)