Kampus Sebagai Institusi Pendidikan Dalam Membangun Kesadaran

Oleh : Fathur Dopong, Ketua Umum Komisariat FAI.Ikatan Mahasiswa Muammadiyah (IMM) Universitas Muammadiyah Kupang.
Media Group : Zonalinenews,- Jika ingin ditanya, sebuah pusat institusi yang sangat strategis mencetak ekstrainer yang unggul pembangun bangsa, maka itu adalah kampus. Kampus seyogianya dibangun pada institusi pendidikan tinggi, dapat mewadahi para penuntut ilmu dalam mengembangkan jiwa kritis dan berpikir kreatif.Mahasiswa sebagai salah satu objek pendidikan tinggi, terlihat lebih banyak menjalankan peran sosialis dan realis, yang saat ini banyak kehilangan kesempatan dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Fathur Dopong

Fathur Dopong

Lembaga Kemahasiswaan
Sejak tahun lalu 2014, jika kita berkunjung di salah satu fakultas Agama Islam Universitas Muhamadiyah Kupang (UMK) terdapat sesuatu hal yang kurang , dimana FAI dikatakan sebagai ruhnya kampus , namum saat ini eksitensinya masih jauh di atas awan, entah kemana arahnya atau dibawa kemana arah angin …. ?

 
tPersolan di Fakutas Agama Islam (FAI) UMK mendapatkan respon , tak tanggung para aktivis kampus Ikatan MahasiswaMuammadiyah (IMM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM),yang selama ini selalu pun meradang. Sejuta bentuk protes dan kecaman muncul. Mareka tak menerima keputusan birokrasi yang menurutnya adalah keputusan yang “menindas”. Tak ayal memang, ketika kampus hanya dipandang berfungsi sebagai tempat proses belajar-mengajar saja. Rasanya ada yang hilang ketika lembaga kemahasiswaan yang dulunya sebagai bagian dari kampus, tiba-tiba lenyap dan tidak lagi menunjukkan eksistensinya pada para kaum muda yang selalu haus akan ilmu. Tak ada lagi sebuah wadah yang membangkitkan dan merangsang secara intensif jiwa kreatifitas dan pikiran kritis mahasiswa.

 
Padahal jika diamati, lembaga kemahasiswaan adalah salah satu lembaga yang selama ini sangat berperan aktif mengolah dan menghasilkan kreatifitas dan jiwa kritis mahasiswa. Mengapa? Karena lembaga mahasiswa dengan tujuan dan keunikannya masing-masing, telah banyak memberikan pengetahuan nonformal kepada para anggotanya.
Kritis dan Kreatif
Kritis dan kreatif adalah hal penting yang dimiliki setiap lembaga kemahasiswaan. Lembaga kemahasiswaan umumnya dibentuk berdasarkan hal tersebut.
Memang, kesadaran kritis dan berpikir kreatif dikalangan kaum muda saat ini cukup intensif diciptakan. Kedua hal ini umumnya ditanamkan pada kaum muda yang aktif berkiprah pada organisasi. Sangat kurang peran kegiatan belajar mengajar dalam peningkatan dua kemampuan ini pada mahasiswa.
Tak heran jika mereka yang berstatus aktivis lebih condong menerapkan dua kemampuan ini dalam kegiatan dan pemikirannya sehari-hari. Bagi mereka, segala lini kehidupan sebaiknya berjalan sesuai yang diinginkan. Tidak ada yang merasa tertindas dan meninndas. Lebih tepatnya, konsep idealis yang dominan.

 
Kesadaran kritis dan berpikir kreatif adalah dianggap modal lebih jika keduanya dimiliki seseorang. Kritis adalah hasil dan bentuk nyata dari proses berpikir kreatif. Kritis adalah suatu keadaan yang menggambarkan sikap tidak mudah menerima suatu keadaan ataupun pernyataan yang telah ada.
Sedangkan berpikir kreatif adalah proses kerja otak yang berdaya cipta, menemukan, dan menghasilkan. Orang-orang yang berpikir kreatif dianggap sebagai orang-orang yang mampu berpikir “diluar kotak” yang tidak seperti kebanyakan orang. Karena berpikir kreatif pula yang menyebabkan seorang yang terbiasa berpikir kreatif dapat dengan mudah memecahkan masalah (problem solving).
Kesadaran kritis merupakan sebuah modal utama yang harus dimiliki oleh mahasiswa. Mengapa? Sebab sikap “tidak mudah menerima” adalah sikap yang bisa memicu timbulnya perubahan karena adanya solusi-solusi yang bisa saja tercipta. Kesadaran kritis juga selalu dapat menuntut kebenaran ataupun hal yang tersembunyi pada sebuah realita.

 
Maka dengan mengasah kesadaran kritis dan paradigga berpikir kreatif mahasiswa, lingkungan kampus bisa saja diharapkan menjadi unsur penting dalam pengembangan kretifitas, nalar, dan segudang kemampuan mahasiswa.
Diharapkan pula, kampus bukan hanya dianggap sebagai tempat produksi akademik, namun pula menjadi sentral kegiatan mahasiswa yang mampu mengukir nama baik institusi (universitas), baik secara regional maupun secara nasional.

“Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” (*)