REVITALISASI TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI DALAM PERSPEKTIF MAHASISWA

Oleh: Fathur Dopong

Penulis adalah Ketua Umum Komisariat IMM Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Kupang
Media Group Ketika keadaan bangsa ini hancur secara bathiniyah yang tidak dapat dirasakan secara fisik. Roda pemerintahan tidak seindah papan struktural kabinet yang terpampang di istana Negara, apa yang dapat di lakukan sekarang atau nanti untuk bangsa ini?. Bukan lagi hal yang asing ketika konteks keadaan bangsa di kaji pada forum mahasiswa di Indonesia. Bendera dan warna menghiasi indahnya roda politik perebutan kekuasaan di negeri ini. Peran mahasiswa hanya terlihat ketika kebijakan yang dianggap menyimpang disikapi dengan aksi radikal penurunan pemimpin secara prakmatis dan terkesan memaksa. Dimana letak citra bangsa Indonesia yang beragam dan berbudaya?, mahasiswa harus dapat mengembalikan nilai-nilai luhur yang religius dan akademis.

Fathur Dopong

Fathur Dopong

Ketika di universitas tercantum semboyan tri dharma perguruan tinggi yang isinya tentang pendidikan, penelitian dan pengembangan serta pengabdian, hal ini dirasa kurang bahkan tidak menghasilkan apapun. Maka dari itu perlu adanya sebuah revitalisasi tentang semboyan tri dharma perguruan tinggi supaya terbentuk sebuah mekanisme nilai-nilai dasar perjuangan yang berbasis intelektualitas dan religius. Seringkali terlihat di kalangan masyarakat sosok mahasiswa yang terkesan anarkis dan suka membuat ricuh di negeri ini, padahal mahasiswa turun aksi dengan mencurahkan darah juang mereka demi memperjuangkan nasib rakyat yang termarjinalkan sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang politis.

Hal ini tidak dapat di pungkiri karena adanya sebuah permainan politik antara pemerintah yang membuat citra mahasiswa bukan sebagai seorang akademisi lagi tapi menjadi kelompok yang radikal dan anarkis. Pergerakan mahasiswa terbentuk karena adanya gejolak sosial yang membuat paradigma mereka menjadi sama. Tetapi perlu adanya sebuah kajian lebih lanjut tentang mahasiswa yang terlahir sebagai insan akademis, pencipta dan pengabdi yang berjuang demi rakyat Indonesia. Pembahasan tentang hal ini telah sering di lakukan, akan tetapi tidak adanya nilai-nilai

Perjuangan yang tertanam pada mereka membuat pergerakan-pergerakan dibuat menjadi omong kosong yang tidak ada nilai guna bagi bangsa ini. Melalui citra mahasiswa sebagai insan akademisi inilah sebuah perubahan akan tercapai, dengan pemikiran-pemikiran yang berbasis pada keilmuan maka akan tercipta sebuah tatanan masyarakat yang adil dan makmur dengan berdasarkan pada nilai-nilai religius yang benar. Segudang ilmu dan teori telah Tuhan tanamkan di bumi, semua permasalahan yang muncul pasti ada jalan keluarnya, tinggal bagaimana paradigma yang mengatur pikiran dan qolbu bekerja.

Sebuah pergerakan tidak harus bernuansa radikalisme tapi dapat juga diterapkan sebuah konsep tentang masa depan negeri ini yang akan mengatur roda pemerintahan selanjutnya. Konsep-konsep tersebut akan muncul ketika paradigma mahasiswa berorientasi pada kesejahteraan bangsa yang adil dan makmur. Intelektualitas mahasiswa merupakan senjata ampuh melawan liberalisme, kapitalisme dan kebijakan-kebijakan yang salah di negeri ini. Dirasa intelektualitas para tunas bangsa terkubur oleh peradaban yang sadis dan kejam, rasa memiliki akan bangsa ini telah di permainkan oleh strategi politik yang menjurus pada kapitalisme duniawi. Para cendikiawan Indonesia adalah seorang figur yang dirasa sangat tepat sebagai contoh kaum intelektual yang berjiwa nasionalis dan religious, ukiran prestasi telah mereka ukir di sepanjang sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun mengapa para tunas penerus bangsa mengubur dalam-dalam Intelektualitas mereka untuk bumi pertiwi ini.

Makna dari Tri Dharma Perguruan tinggi masih belum menyatu dengan denyut nadi mereka, intelektualitas politik menjadi topic yang paling hangat dan akan terus di tanamkan. Sebuah kebodohan besar yang selayaknya harus di revitalisasi, bukan lagi guru, ustad, ataupun dosen yang harus melakukannya tapi mahasiswa sendiri sebagai seorang agen perubahan (agent of change) yang harus mengeksekusi kebodohan tersebut. Intelektualitas mahasiswa sangat dibutuhkan dalam membangun peradaban bangsa yang lebih maju. Perjuangan dari pahlawan revolusi adalah sebuah motivasi dalam memperjuangkan nasib negeri ini, mahasiswa adalah pahlawan revolusi dengan musuh bukan lagi penjajah tapi koruptor dan politikus yang keji menjajah negeri sendiri. Dengan modal intelektualitas yang tinggi mahasiswa dapat merubah peradaban Indonesia menjadi Negara yang bermartabat dan mempunyai citra yang baik di mata dunia.

Mahasiswa terlahir bukan hanya untuk belajar tapi juga untuk memperjuangkan hak-hak orang-orang yang dimarjinalkan oleh penguasa negeri ini, mahasiswa terlahir sebagai insan akademis, pencipta dan pengabdi untuk bangsa ini. Ketika lagu darah juang berkumandang, bukan lagi air mata yang terjatuh perlahan di medan aksi tapi rasa intelektual dan radikal menghiasi indahnya perjuangan merebut hak-hak rakyat yang tertindas. Agama, ras, golongan, suku dan budaya adalah sebuah keindahan yang mewarnai perjuangan mahasiswa sebagai agen perubahan.

Introspeksi akan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang tercantum dalam Tri dharma perguruan tinggi tentunya harus dapat direalisasikan, melalui sebuah kajian dan diskusi tentunya mahasiswa dapat berfikir bagaimana nasib bangsa ini di masa depan. Dengan pemikiran yang jenius, keberanian laksana harimau lapar saat aksi, dan sifat kritis inilah yang akan mengembalikan fitrah mahasiswa sebagai insan akademis, pencipta dan pengabdi yang sesungguhnya. Ketika keyakinan yang bernafaskan kepercayaan, usaha yang di dasarkan pada ikhtiar pasti sebuah perubahan menuju masyarakat yang adil dan makmur akan tercapai. Modal terpenting dalam revitalisasi Tri dharma perguruan tinggi adalah naluri intelektual yang berbasis pergerakan dengan pedoman nilai-nilai dasar perjuangan yang kuat serta jiwa nasionalis dan religius yang akan mengembalikan peran mahasiswa seutuhnya dan benar-benar akademis.(*)