AMPKK Tuntut Kapolda NTT Usut Tuntas Kematian Gaspar Molan

Media Group : Zonalinenews-Kupang,- Aliansi Masyarakat Pengawas Kinerja Kepolisian (AMPKK) – NTT, Rabu 4 Februari 2015 melakukan aksi damai ke Polda NTT, menuntut penuntasan dugaan kasus pembunuhan Linus Notan warga desa Jontona, kecamatan Ile Ape Timur Kabupaten Lembata pada tanggal 3 September 2014 lalu. Kasus ini hampir 5 bulan tidak ada kejelasan penyelesain hukum dari polres Lembata.

Masa Aksi AMPKK Tuntut Kapolda NTT Usut Tuntas Kematian Gaspar Molan

Masa Aksi AMPKK Tuntut Kapolda NTT Usut Tuntas Kematian Gaspar Molan

Koor dinator AMPKK , Bedy Roma Rabu 4 Februari 2015 pukul 11.00 wita meminta Kopolda NTT segara meminta pertanggungjawaban dari polres lembata atas kematian Gaspar Molan yang ditemukan tewas dalam ruangan identifikasi polres Lembata pada tanggal senin,02 Februari 2015 lalu . Gaspar Molan merupakan saksi kunci pembunuhan Linus Notan sekaligus diduga sebagai salah pembunuh, yang sejak tanggal 22 oktober 2014 mengamankan diri di polres Lembata.

Aktivis AMPKK – NTT ini memulai aksi damai dari jam 09 pagi dengan titik start depan kampus Undana Lama dengan massa sekitar 30 orang lebih. Masa aksi terlihat membawa banyak tulisan dispanduk. Diantarnya, Bongkar Mafia Hukum, Copot Kapolres dan Kasat Reskrim Lembata, Polisi Lembata Muka Uang, Polres Lembata IQ Jongkok, Polisi Lembata Pencabut Nyawa dan tulisan – tulisan lain yang bernada kecaman terhadap Polres Lembata.

Pada aksi ini, Massa aksi ini diterima langsung oleh Kapolda NTT, Brigjen Polisi Drs. Endang Sunjaya, SH, MH, dan didampingi Kabid Humas Polda NTT, AKBP Agus Santoso. Sedangkan

Massa aksi yang dikoordinir oleh Bedi Roma sebagai koordinator umum dan Igo Halimaking sebagai koordinator lapangan langsung berdialog dengan Kapolda NTT di depan pintu pagar polda, namun karena hujan, dialog dilanjutkan di ruangan pos penjagaan.

Dalam dialog ini Kapolda, Polisi Drs. Endang Sunjaya, SH, MH menyatakan dirinya ingin menuntaskan kasus Linus Notan , bahkan dari tim Polda NTT sudah ke Lembata pada tanggal 30 januari 2015 yang dipimpin oleh Gede Nilla, Haryanto Sakbahan dan Roland. Tim ini baru pulang ke kupang tanggal 01 Februari 2015.

Namun setelah tim pulang, ia menrima kabar bahwa Gaspar Molan yang merupakan saksi kunci pembunuhan Linus Notan sekaligus diduga sebagai salah pembunuhditemukan tewas dalam ruangan identifikasi polres Lembata pada tanggal senin,02 Februari 2015.

Sehingga menurut kapolda ia sudah menerjunkan tim pada hari itu juga yaitu tanggal 02 Februari 2015. Tim ini terdiri dari Tim penyidik Polda NTT, dipimpin langsung AKBP Bambang, Kabid Propam Polda NTT, AKBP I Gede Mega Suparwitha, bersama tim DVI dari Polda NTT.

Kapolda menjelaskan bahwa tim ini bertugas meyelidiki kematian Gaspar Molan apakah murni gantung diri atau digantung dan juga tim ini juga ditugaskan untuk langsung menuntaskan dugaan kasus pembunuhan Linus Notan. Menurut Kapolda Tim ini tidak boleh pulang ke kupang sebelum kasus ini tuntas.

Terkait kematian Gaspar Molan menurut Kapolda, ini merupakan kelalaian dari kepolisian lembata, karena menurut informasi selama ini Gaspar bebas keluar masuk ruangan. Ia berjanji akan menindak tegas kepolisan Lembata. Sedangkan terkait kasus linus notan, menurut kapolda ada banyak kejanggalan – kejanggalan dalam kematiannya, sehingga harus cepat diungkapkan.

Dalam aksi ini , Aliansi Masyarakat Pengawas Kinerja Kepolisian (AMPKK) – NTT menyampaiknan poin tuntutannya diantaranya , meminta Kapolda NTT untuk mengambil alih proses penyidikan dugaan kasus pembunuhan Linus Notan di Lembata secara transparan karena diduga Polres Lembata ingin menghilangkan kasus ini.

Menuntut Kapolda NTT meminta pertanggungjawaban Kapolres Lembata, Wresni H.S.Nugroho, Kasat Reskrim Polres Lembata, Arif Sadikin, penyidik Polres Lembata yang menangani kasus kematian Linus Notan dan piket yang bertugas harus bertanggungjawab penuh atas kematian Gaspar Molan, serta Meminta Kapolda NTT, Endang Sunjaya mengirim tim khusus untuk menuntaskan kasus Linus Notan dalam waktu 4 x 24 jam dan Gaspar Molan 7 x 24 jam sejak hari ini.

Rekaman pengakuan Gaspar Molan baik video maupun audio harus menjadi bukti yang sah dalam mengusut kasus Linus Notan sampai ke pengadilan sehingga AMPKK Menuntut kapolda NTT segera menindak secara tegas Kasat Reskrim Polres Lembata Arifin Sadikin dan salah seorang penyidiknya Yanris Sinlaeloe yang mengeluarkan pernyataan palsu dan makian terhadap keluarga korban.serta mendesak polres Lembata agar segera mengumumkan hasil otopsi kepada keluarga korban Linus Notan.

AMPKK juga Menuntut Kapolda NTT untuk segera mencopot Kapolres Lembata, Wakapolres, Kasat Serse, Kasat Sabara, Kasat Intel karena tidak mampu menangani kasus ini . Serta segera mengambil alih dan menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang masih mandek di Polres Lembata

“ AMPKK juga Mendukung Kapolda NTT untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang terjadi di NTT Menuntut reformasi total di tubuh institusi Kepolisian Negara. Bila tuntutan ini tidak ditindaklanjuti maka keluarga Besar Linus Notan, Gaspar Molan dan seluruh Masayarakat Jontona akan menduduki Polres Lembata, dan AMPKK kembali menduduki Polda NTT,” Ungkap Bedi Roma Koordinator AMPKK.(*tim)