BNP NTT bakal Merehabilitasi 1.919 Pecandu Narkoba

ZONALINENEWS-KUPANG,- Badan Narkotika Provinsi (BNP) Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam waktu dekat , bakal merehabilitasi 1.919 orang pecandu narkoba di Provinsi NTT. Hal ini menyusul adanya gerakan rehabilitasi 100 ribu pecandu narkoba di Indonesia yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. Demikian disampaikan Kepala BNP NTT, Alosyus Dando Dengi di ruang kerjanya, Jumat 20 Februari 2015.

Kepala BNN Provinsi NTT, Drs. Aloysius D. Dando, MM

Kepala BNN Provinsi NTT, Drs. Aloysius D. Dando, MM

Dikatakan Alo Dando, berdasar penelitian oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, jumlah pecandu narkoba di Indonesia mencapai 4,2 juta orang. Sehingga, pemerintah ingin merehabilitasi 100 ribu pecandu per tahun yang pelaksanaannya dimulai pada tahun 2015.

“Di NTT sendiri, kami akan merehabilitasi 1.919 pecandu narkoba. Ini upaya pemerintah untuk melakukan pengobatan dan penyembuhan,” ujarnya.

Menurutnya, upaya rehabilitasi yang dilakukan merupakan satu dari empat tugas utama BNN, selain pencegahan, pemberantasan dan pemberdayaan masyarakat. Upaya pencegahan yang dilakukan, jelas dia, dilakukan melalui sosialisasi, advokasi dan kegiatan-kegiatan pagelaran yang bertujuan menginformasikan kepada masyarakat, tentang bahaya penggunaan narkoba. Upaya pencegahan, lanjut dia, perlu dilakukan, karena penggunaan narkoba masih dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menyeleseikan masalah.

“Mereka (pecandu dan pengedar) berpikir masalah keluarga, pendidikan dan pergaulan bisa diselesaikan dengan narkoba. Padahal, tidak!,” tandasnya.

Upaya pemberantasan bagi para pengedar dan pecandu, jelas Alo Dando, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan kepolisian maupun TNI untuk menangkap para pengguna maupun pengedar narkoba.

“Seperti kerja sama dengan Polda, dimana kami melakuklan operasi di tempat-tempat hiburan. Jadi, kami merazia tempat-tempat itu. Targetnya adalah orang-orang yang dicurigai,” ungkapnya. Ia mengakui, jaringan perdagangan narkoba yang masuk di NTT terbanyak melalui Negara Demokratik Timor Leste (RDTL). “Tapi, ada juga yang masuk dari Bali, NTB dan Makasar menuju pelabuhan Labuan Bajo dan Ngada,” ucapnya.

Terkait kendala yang dihadapi, ungkap dia, NTT memiliki daerah kepulauan dan topografi bergunung, maka peredaran narkoba tidak dilakukan melintasi pelabuhan maupun airport resmi, melainkan melalui transportasi darat maupun laut lain yang luput dari penjagaan anggota TNI maupun Polri. Selain itu, ungkapnya, belum tersedianya x-ray (alat pendeteksi narkoba) yang disiapkan di setiap pintu masuk pelabuhan, maupun airport untuk mendeteksi narkoba.

Kendati demikian, ia mengaku, telah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk menyediakan anjing pelacak. “Mungkin anjing pelacak akan lebih mudah, karena sudah terlatih,” katanya.

Dikatakannya, usai melakukan penangkapan, maka pihaknya akan melakukan pemeriksaan. Dalam pemeriksaan tersebut, tim assessment (penilai, red) BNN akan mengambil tindakan, bila pecandu murni, maka direhabilitasi dan bila pengedar, maka akan diproses hukum.

Lapor Diri, Bila Tak Ingin Dihukum Mati

Menariknya, Alo Dando meminta para pecandu maupun pengedar agar melaporkan diri untuk direhabilitasi secara gratis. “Jadi, seluruh biaya rehabilitasi ditanggung oleh pemerintah, asalkan para pecandu bisa melaporkan diri,” katanya. Bila para pecandu dan pengedar melapor diri, maka tidak dilakukan proses hukum, namun dilakukan rehabilitasi. Sebaliknya, bila para pecandu dan pengedar ditangkap, maka akan diproses sesuai aturan hukum yang berlaku. Apalagi, kata dia, dengan adanya keputusan presiden, maka para pelaku yang ditangkap akan diproses hukum, dimana minimal penjara seumur hidup dan maksimal hukuman mati. (*K2)

 


TAG