Camat Maulafa Minta Tokoh Masyarakat Jangan Hambat Pembangunan

ZONALINENEWS-KUPANG,- Oknum warga masyarakat yang berinisial HT dan HB di Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa Kota Kupang beberapa tahun terakhir diduga kuat menghalang-halangi niat baik pemerintah dan masyarakat di kelurahan tersebut dalam proses pembangunan, hal ini di benarkan Goris Takene Ketua RW 03 Kelurahan Bello yang ditemui dikediamnya.

Camat Maulafa, Corinus Tuan SH

Camat Maulafa, Corinus Tuan SH

Menurut Takene beberapa tahun terakhir sejumlah warga yang datang melapor kepada dirinya, lantaran ada oknum Tokoh Masyarakat (Tomas) yang menghalang-halangi keinginan warga untuk secara swadaya membangun jalan lingkungan menuju pemukiman dan perkebunan milik warga yang ada di wilayah hukum RW 03. “Saya sering mendapat pengaduan baik dari warga yang menetap di lingkungan RW 03 maupun warga yang tidak menetap di Bello, sebab ketika mereka hendak membuka jalan rintisan menuju pemukiman baru dan ke areal perkebunan dilarang oleh oknum tokoh masyarakat,” jelasTakene dengan nada sedikit meninggi sebab kecewa dengan tindakan sejumlah oknum tokoh masyarakat di maksud.

Yang lebih mengecewakan lagi menurut mantan wartawan itu, yang diduga menghalang-halanggi niat baik pemerintah dan masyarakat tersebut adalah oknum RT dan oknum aparatur pemerintah di Kelurahan Bello.

Kasus tersebut menurut Takene selalu di laporkan tertulis dan lisan kepada Lurah Bello dan Camat Maulafa sehingga kasus ini pula telah diikuti lurah serta camat sejak setahun yang lalu. Puncak dari peristiwa itu masih menurut Takene, dialami Yusup Tuan warga sekitar yang hendak mengembalakan ternak sapi melewati jalan yang telah dirintis ternyata jalan dimaksud telah dipagari dengan bambu. Sehingga dua orang utusan warga ditemani Ketua RW 03 melaporkan secara langsung kasus yang dialami warga kepada Camat Maulafa, sebagai sesepuh dan tokoh adat di Kelurahan Ballo. Dalam laporan tersebut Camat Maulafa Corinus Tuan bersedia menemui warga serta seluruh pemilik lahan guna diselesaikan Kamis 19 Februari 2015, Namun dalam pertemuan tersebut tidak semua pemilik lahan hadir sehingga proses penyelesaian ditunda.

Meskipun pertemun tersebut gagal namun PantuanZonalinenews kepada sejumlah warga dan tokoh masyarakat yang hadir saat itu, Camat Maulafa Corinus Tuan, meminta kepada seluruh warga terutama tokoh masyarakat (Tomas) untuk tidak mengahalang-halangi atau menghambat niat baik masyarakat untuk secara sukarela dan swadaya merintis jalan baru ke areal perkebunan dan juga untuk menghubungkan wilayah Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. “ Saya minta kepada semua warga terutama tokoh masyarakat yang ada di wilayah RW 03 dan RW 04 yang diduga menghambat proses pembangunan untuk tidak menghambat pembangunan,” ungkap Corinus dengan nada sedikit meninggi dan sesekali menggunakan bahasa dawan Timor Bello.

Camat Maulafa menambahkan, sebenarnya ini tidak ada persoalan tetapi karena ada rasa kecemburuan sesame pemilik lahan yang juga masih memiliki hubungan kekeluargaan maka rencana akses jalan untuk menghubungkan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang beberapa tahun terakhir gagal.

Untuk itu menurut Corinus atas kesepakatan warga dalam pertemuan itu mengagendakan ulang untuk dilakukan pertemuan minggu mendatang bertempat di lokasi jalan yang direncanakan. Apabila gagal maka akan ditempuh dengan cara lain berdasarkan kesepakatan warga yang membutuhkan rencana pembukaan jalan lingkungan di maksud.

Salah seorang tokoh masyarakat yang hadir saat itu Imanuel Bistolen mengatakan, mediasi penyelesaiaan persoalan penutupan akses jalan itu sudah beberapa kali dilakukan baik oleh camat sendiri maupun lurah namun selalu gagal karena sejumlah oknum tokoh masyarakat yang diduga sebagai dalang tidak hadir.

Andreas Tuan salah satu tokoh masyarakat yang hadir saat itu mengatakan, sebagai tokoh masyarakat apa lagi sebagai Ketua RT di lingkungan mestinya menjadi contoh dan panutan tidak menjadi profokator dalam setiap persoalan di lingkungan. Andrean dengan nada tinggi karena kecewa dengan tindakan sejumlah oknum tokoh masyarakat di lingkungannya yang menghambat rencana rintisan jalan.

Is Amalo salah satu warga Kolhua yang mengaku membelise bidang tanah dari warga Bello juga mengaku kecewa dengan tindakan oknum masyarakat yang menutup akses jalan masuk kelahan miliknya. “Saya bukan warga Bello tetapi satu tahun lalu saya membeli sebidang tanah di Bello, hanya saja saat saya akan membangun akses jalan yang dirintis warga ditutup oknum tertentu dengan alas an tidak pasti,”jelas Amalo. Masih menurut Amalo beberapa bulan lalu dirinya pernah mengumpulkan semua pemilik lahan untuk membayar tanah rencana akses jalan dimaksud dengan harga Rp.200.000/meter tetapi tidak disetujui pemilik lahan. Sehingga kasus itu dilaporkan ke Ketua RT dan RW termasuk Lurah Bello dan Camat Maulafa untuk diselesaikan secara keleluargaan namun belum ada titik temu.(*tim)