Diduga Polres Lembata, Ingin Hilangkan Kasus Linus Notan

Media Group : Zonalinenews-Kupang,- Aliansi Masyarakat Pengawas Kinerja Kepolisian (AMPKK) – NTT, Rabu 4 Februari 2015 melakukan aksi damai ke Polda NTT, menuntut penuntasan dugaan kasus pembunuhan Linus Notan warga desa Jontona, kecamatan Ile Ape Timur Kabupaten Lembata pada tanggal 3 September 2014 lalu. Kasus ini hampir 5 bulan tidak ada kejelasan penyelesain hukum dari polres Lembata.

AMPKK meminta Kapolda NTT Bongkar Mafia Hukum di Polres lembata

AMPKK meminta Kapolda NTT Bongkar Mafia Hukum di Polres lembata

Koordinator Umum AMPKK , Bedy Roma Rabu 4 Februari 2015 dalam melakukan aksinya dan berdialog menyampikan tuntutannya kepada  Kapolda NTT. Pada kesempaten tersebut AMPKK menyatakan bahwa pihaknya , menduga Polres Lembaga berupaya menghilangkan kasus Linus Lotan .

Bedy menyebutkan Beberapa indikasi yang mengarah kepada dugaan Polres Lembata ingin menghilangkan kasus Kematian Linus Notan, pada tanggal 3 September 2014 dekat Pohon Lontar, di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata misalnya :

  • beberapa hari setelah laporan masuk ke Polres Lembata dengan beberapa bukti yang mengarah pada dugaan pembunuhan, Kasat Reskrim Polres Lembata, Rahman Aba Mean dan salah seorang penyidik bernama putu memberitahukan kepada keluarga korban bahwa darah yang menempel pada batu dan kayu itu bukan darah manusia. Bukan hanya itu, Kapolres Lembata Wresni Nugrhoho juga sudah mengambil sample darah di    TKP tetapi sampai dengan saat ini tidak ada kejelasan.
  • polisi tidak memasang police line di Tempat Kejadian Perkara sejak almarhum ditemukan sampai saat ini. Polisi juga tidak memasang police line saat membongkar kuburan tanggal 15 Oktober 2014.
  • Indikasi lain selama penyelidikan, pihak Penyidik Rekrim Polres Lembata belum pernah menerbitkan SPDP kepada Kejaksaan Negeri Lewoleba bahkan SP2HP selama lima bulan proses hukum ini berjalan baru diterbitkan satu kali.
  • Penyidik Berusaha Mengarahkan keterangan Saksi. Pada saat pemeriksaan saksi turut terlibat yang saat ini sedang mengamankan diri di Polres Lembata, Gaspar Molan, penyidik memberikan pemahaman kepada Gaspar Molan bahwa apabila gaspar Bercerita dengan jujur dengan melibatkan kelima orang tersebut diatas maka hukuman yang dijalani selama 18 tahun, 20 tahun bahka seumur hidup karena termasuk pembunuhan berencana. Akan tetapi apabila Gaspar Molan bersaksi dengan jujur bahwa karena dirinya meminjam motor kepada korban tetap korban tidak mau dan Gaspar dendam lalu memukul sendiri korban dengan batu sampai meninggal maka hukuman yang dijalani hanya 3 sampai 4 tahun. Pemahaman ini disampaikan oleh penyidik bernama Putu dihadapan penyidik bernama Syamsudin.
  • Perintah Penangkapan Terhadap Wartawan Sandro Wangak yang juga wartawan Suksesi-Group Memorandum jpnn, dan pemred WEEKLYLINE.NET yang merekam pengakuan kematian Linus Notan puntuk kepentingan investigasi jurnalistik tetapi Kapolres Lembata di hadapan Kasat Reskrim Rahman Aba Mean, kapospol Ile Ape dan Kepala Desa Jontona, memerintahkan intel dan kapospol Ile Ape untuk menangkap wartawan yang bernama Sandro Wangak tersebut.
  • Awalnya, Tanggal 6 Januari 2015, setelah dilantik menjadi Kasat Reskrim Polres Lembata, Arifin Sadikin bertemu dengan keluarga dan meminta agar keluarga membantu polisi membongkar kasus ini. Seminggu setelah itu, Tanggal 14 Januari Kasat Reskrim Polres Lembata, Arifin Sadikin, bersama beberapa anggota polisi turun ke TKP. Setelah mengamati pohon lontar, menerima telp sambil angguk angguk-geleng geleng kepala Kasat Reskrim Arief Sadikin memberikan pernyataan kepada Kepala Desa Jontona bahwa Linus Notan murni jatuh dari Pohon Lontar karena menurut Dia Pohon Lontar memang bengkok tetapi ke atasnya lurus dan keterangan para saksi yang memberikan keterangan bahwa Linus Notan mati dibunuh direkayasa.
  • Tanggal 15 Januari 2015 dihadapan istri almarhum dan Goris Making di ruangan kerjanya, Kasat Reskrim Arifin Sadikin menyatakan hal yang sama, bahwa menurut pengamatan dia (Kasat-red) Linus Notan Jatuh Murni dari Pohon Tuak. Soal keterangan para saksi Kasat masih menyatakan bahwa itu rekayasa dan keterangan para saksi setengah setengah. Hari yang sama Kasat menyatakan bahwa Hasil Otopsi tidak dapat diketahui oleh keluarga korban dan hanya bisa dibuka bila diminta oleh Pengadilan. Pernyataan ini disampaikan oleh Kasat ARIFIN SADIKIN dihadapan Goris Making dan Istri Almarhum Linus Notan, mama Bulu Keluli.Kesimpulan yang disampaikan Kasa Reskrim ini bukan berdasarkan hasil otopsi atau seluruh proses hukum yang sudah dilakukan tetapi berdasarkan pengamatan kasat mata oleh kasat Reskrim sendiri.
  • Kejadian yang mengejutkan pada hari yang sama, 15 Januari 2015 adalah, salah seorang penyidik reskrim Polres Lembata bernama Yandris Sinlaeloe, mengeluarkan kalimat tidak sopan dan mencacimaki keluarga korban. ‘Panta Lobang. Kelurga ini bikin pusing, lama lama saya injak satu satu”. Kalimat ini diungkapkan Yandris ketika Keluarga Koban, Sandro Wangak menanyakan Laporan Polisi tanggl 8 September 2014 tentang dugaan pembunuhan yang belum diterima oleh Keluarga korban.
  • Berita Acara Pemeriksaan para terduga yang pertama ini tidak diserahkan oleh Penyidik Polres Lembata kepada Penyidik Polda NTT.
  • Tanggal 30 Januari 2015 Tim Penyidik yang dikirim Kapolda NTT, Endang Sunjaya ke Lembata, untuk mengusut tuntas kasus dugaan pembunuhan Linus Notan.
  • Tim Penyidik dari Polda NTT ini diketuai oleh, Gede Nilla, dan anggota tim, Roland dan Haryanto Sakbahan.
  • Kasat Reskrim Polres Lembata, Arief Sadikin menyangkal. Sadikin di hadapan puluhan masyarakat Jontona dan Kepada Desa Jontona, Nikolaus Ake Watun dan beberapa keluarga Korban, menyangkal bahwa pernyataan tentang Linus Notan jatuh dari pohon tidak pernah disampaikan oleh dirinya.
  • 2 hari bekerja tim penyidik polda NTT setelah memenuhi permintaan keluarga memeriksa saksi alibi langsung pulang dikawal oleh Kasat Reskrim Polres Lembata, Arief Sadikin tanpa melakukan konfrontir dengan para terduga.
  • Ketika didesak pihak keluarga agar bisa memeriksa saksi lain yang belum diperiksa, ketua Tim Polda NTT,Gede Nila memberikan jawaban mereka manusia dan mereka lelah. Mereka capeh. Tolong beri kesempatan kepada mereka untuk beristirahat.
  • Hanya 2 hari Tim polda menyelidiki kasus ini. Tanpa memberikan kejelasan kepada keluarga terhadap kasus ini. Minggu 01/02/2015 Tim Polda Kembali Ke Kupang.
  • Senin 02/02/2015saksi turut terlibat yang saat ini sedang mengamankan diri di Polres Lembata, Gaspar Molan tewas gantung.

Bedy Roma menegaskan Dari semua cerita kronologis tersebut Keluarga merasa kecewa juga menyesal dengan Pihak Polres Lembata. “ Kuat dugaan pihak penyidik reskrim polres Lembata ingin menghilangkan kasus dugaan pembunuhan Linus Notan. bahkan keluarga korban merasa sedang dipermainkan oleh pihak kepolisian Polres Lembata,” Ungkap Bedy.

Bedy Menambahkan, keluarga merasa Polres Lembata mengganggap Linus Notan bukan nyawa manusia tetapi nyawa binatang yang tidak pantas ntuk mendapat keadilan hukum.

Sementara itu Kapolda NTT,  Brigjen Polisi Drs. Endang Sunjaya, SH, MH Ketika berdiolag dengan masa aksi AMPKK berjanji akan mengusut tuntas kasus ini dengan mengirimkan tim ke polres Lembata (*tim)