Diduga Proyek MBR Desa Malanuza Ngada dikerjakan Asal Jadi

Media Group, Bajawa- Puluhan keluarga penerima bantuan perumahan rakyat (MBR) di Desa Malanuza Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Flores kecewa atas ulah rekanan kontraktor proyek yang menurunkan material kayu balok jenis kayu kemiri dan kapok hutan kepada para penerima bantuan perumahan, MBR.

salah satu  rumah MBR di Ngada

salah satu rumah MBR di Ngada

Informasi dihimpun zonalinenews, penghujung Januari 2015, sejumlah tokoh Kampung Lodo Malanuza bersama warga kampung Hobosara, warga kampung Malanuza, sebagian warga kampung Koli menyampaikan rasa kecewanya terhadap rekanan proyek MBR di Kabupaten Ngada yang menurunkan kayu kemiri dan jenis kayu kapok hutan kepada puluhan keluarga tidak mampu. Kelompok penerima program MBR Kementerian Perumahan Rakyat di Kabupaten Ngada.

Moses Ngai

Moses Ngai

“Mulai dari Kampung Malanuza, Lodo, Hobosara sampai Kampung Koli banyak yang terdaftar sebagai penerima MBR tetapi hasilnya mengecewakan masyarakat. Kami minta balok untuk kerja rumah tetapi kayu-kayu yang dibawa kesini hanya kayu-kayu berukuran 4×6 meter saja. Kayunya juga dari jenis kayu kapok hutan, kayu kemiri campur albesia. Mereka bagi-bagikan kayu yang mutu tidak jelas kepada masyarakat”, ungkap warga Lodo Malanuza, Moses Ngai.

Petrus Bao, warga Malanuza Kampung Lodo menambahkan, Warga disini banyak yang tolak kayu-kayu itu. Di dusun sebelah sana sampai kampung Koli banyak warga kecewa dengan proyek MBR. Sebenarnya, kayu kapok hutan dan kayu kemiri pantang untuk buat balok rumah. Lihat sendiri banyak bahan yang tidak dipakai dan kami tolak.

Menurut warga, praktek nakal ini sudah terjadi lama. Warga mengaku sudah menyampaikan hal ini kepada Ketua RT setempat, RT Malanuza, Petrus Foa. Pantauan media group  Februari 2015, luapan kekecewaan dan amarah warga diekspresi beragam. Sebagian warga mengaku mulai distribusi material awal mula proyek, sebagian warga sudah menolak kayu-kayu yang dibagikan kepada para penerima sebab ditemukan material kayu terlalu campur aduk antara kayu kemiri, kayu kapok hutan dan kayu albesia. Warga menuding modus campur aduk kayu ini sengaja dibuat untuk mengelabui penerima bantuan MBR agar tidak mengetahui adanya kayu kapok hutan dan kayu kemiri yang didistribusikan. “Ini terindikasi dari campur aduk kayu albesia yang diduga disisip diantara balok kayu kemiri dan balok kayu kapok hutan yang diterima warga penerima program MBR,” ungkap salah satu warga

Sebagian warga lainya mengaku pasrah dan langsung menggunakan kayu kemiri dan kapok hutan tersebut untuk membuat daun pintu dan jendela, sekaligus sebagai bukti proyek MBR di Ngada Desa Malanuza menggunakan material kayu kapok hutan dan kayu kemiri. Sebagiannya lagi mengeluh tidak berdaya sebab mereka sangat yakin pihak rekanan proyek yang menang tender pengadaan MBR adalah orang-orang kuat di daerah yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan pihak penguasa di daerah.

Warga Kampung Lodo Malanuza cukup resah dengan proyek MBR yang masuk di desa mereka tetapi tidak berjalan maksimal khususnya pada aspek mutu material. Pasalnya, tidak hanya masalah kayu, sampai saat ini di Kampung Lodo masih terdapat warga miskin penerima MBR yang belum menerima distribusi material dari pihak rekanan pengadaan material proyek MBR di Bajawa. Seorang ibu, warga kampung Lodo Malanuza kepada media group bertutur kesal atas ulah rekanan yang belum memberikan haknya. Keluarga tidak mampu ini berulangkali menerima janji dari rekanan kontraktor bahwa akan menurunkan material kayu, seng, paku dan lain-lain sesuai hak nya tetapi hingga awal tahun 2015 ini belum terealisasi lapangan. Akibatnya keluarga susah ini nekat bangun rumah dengan bermodal meminjam paku, seng, balok dan beberapa material lainnya dari para tetangga, dengan jaminan akan segera diganti usai kontraktor MBR turunkan jatahnya ke Kampung Lodo Malanuza Golewa-Ngada.

Penelusuran media group 1 Februari 2015, pemerintah terbawah RT Malanuza melalui Ketua RT, Petrus Foa kepada media group membenarkan adanya temuan kayu kemiri dan kayu kapok hutan, atau sebagaimana laporan masyarakat penerima MBR Desa Malanuza Kecamatan Golewa Ngada. Menurut dia, pengaduan masyarakat sudah dilanjutkan ke tingkat teratas sejak tahun 2014 lalu, bahkan sudah sejak saat awal mula pendistribusian material proyek MBR kepada warga Malanuza. Tetapi, menurut dia, tidak ada respon serius dari para pihak yang lebih berkompeten teratas atas masalah ini. Dia menyebut, rekanan kontrakor pun terkesan acuh tak acuh saat dirinya selaku Ketua RT menyampaikan persoalan dan rakyat menuntut agar kayu kapok hutan dan kayu kemiri harus diganti dengan jenis kayu yang lenih baik lagi

“Warga sudah mengadu masalah ini ke saya selaku ketua RT dan sebagai pemerintah terdekat.  Saya juga sudah lihat langsung kondisi lapangan dan hasilnya dalah dugaan pratek nakal melalui material kayu kemiri dan kapok hutan diberikan ke warga penerima, itu benar dan sesuai fakta lapangan. Saya sudah laporkan ini ke pihak-pihak yang lebih tinggi diatas, tetapi sampai hari ini belum ada kejelasan tanggapan”, tegas Ketua RT Malanuza, Petrus Foa.

Dia menambahkan, masalah ini sudah disampaikan juga kepada pihak rekanan tetapi ada kesan tidak mau gubris. “Saya sudah menghubungi pihak rekanan tetapi kelihatan mereka tidak serius tanggapi keluhan kami. Mungkin karena kami orang kecil jadi mereka anggap sepeleh. Berulangkali saya berkoordinasi dengan pihak rekanan untuk segera mengganti kayu-kayu yang tidak layak ini, tetapi pihak rekanan hanya berjanji akan mengganti dan hasilnya belum ada realisasi. Saya juga menolak permintaan pihak rekanan yang menurut saya terlalu berebihan. Bayangkan, sudah ada masalah seperti ini, rekanan malah menyuruh  bersama masyarakat membawa sendiri kayu kemiri dan kayu kapok hutan, muat antar ke bengkel di Bajawa untuk mereka ganti dengan jenis kayu yang lebih baik. Silahkan ditulis kalau ada koran yang jujur menulis suara kami rakyat kecil ini,” tambah Ketua RT Malanuza, Petrus Foa.

Menurut data RT Malanuza, sekitar tujuh puluhan keluarga miskin warga Desa Malanuza Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada menerima bantuan program perumahan, MBR. Semuanya mengalami nasib sama yakni diduga menerima perlakuan nakal rekanan proyek melalui modus material kayu kapok hutan, kayu kemiri bercampur albesia. Kepada wartawan, Ketua RT Malanuza sangat menyesalkan perilaku rekanan proyek MBR yang diduga tidak serius kerja untuk masyarakat. ”Besaran anggaran MBR untuk Desa Malanuza Golewa Ngada adalah setengah milyar rupiah lebih”, sebut Foa. Hinga berita ini diturunkan media group belum berhasil mengkonfirmasi pihak rekanan guna dimintai keterangan.

Sementaraitu Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa dan Pemberdayaan Perempuan (BPMPDPP) Kabupaten Ngada, Yohanes Watu Ngebu, S.Sos. M.Si melalui telepon kepada wartawan senin 16 Februari 2015 menyatakan, selama ini pihaknya belum menerima input pengaduan masalah ini, tetapi melalui informasi media, BPMPDPP Ngada akan langsung merespon persoalan ini dan turun ke lapagan guna melakukan klarifikasi kepada masyarakat sekaligus mendata persoalan MBR yang terjadi di Desa Malanuza-Golewa-Ngada. “Terimakasih atas masukannya dan terusterang kami belum mendapat input dari bawah atas dugaan ini. Besok saya langsung tindaklanjut hal ini secara internal dan kami akan turun langsung ke lapangan untuk melakukan klarifikasi dengan masyarakat,”ungkap Watu Ngebu. (*iwn)