DIDUGA “RAPORT MERAH” BUPATI MARIANUS SAE, MULAI DARI RANJANG RUJAB

Rangkuman Exclusive Tim Media Group-BAJAWA,– Mendulang Sial ataupun mimpi buruk janji politik bisa menimpa siapa saja, tidak terkecuali kader partai politik jika rapuh konsistensi dan sekarat militansi. Sapaan ini dapat menimpa siapa saja termasuk para pemangku kekuasaan, ataupun bagi para Bupati dan Wakil Bupati di daerah-daerah. Duet kepemimpinan Bupati Ngada Marianus Sae dan Wakilnya, Paulus Soliwoa yang pernah didengung-dengung sebagai idola baru warga Ngada menuai potret buram, bahkan menimang keluhan raport merah. Demikian siratan kajian Forum Masyarakat Ngada dan Diaspora melalui Ketua Forumnya, Fritz Doze kepada media ini, Kamis 19 Februari 2015.

Bupati Ngada, Marianus Sae

Bupati Ngada, Marianus Sae

Penelusuran media ini, sejumlah pihak di Bajawa Kabupaten Ngada perlahan mengurai sakit hati nya terhadap sosok pengemban amanat rakyat Ngada, Bupati Marianus Sae dan Wakilnya Paulus Soliwoa , yang menurut mereka telah keluar dari idealisme politik Paket Mulus dulu. Pasalnya, sebagian besar warga Ngada mulai tidak percaya dan sadar bahwa merreka telah dicekoki oleh tebaran janji politik yang ninabobo-kan rakyat Ngada. “Kalau kami menoleh kebelakang, ya jelas-jelas rakyat merasa telah dibuat terlena oleh tebaran janji politik Paket Mulus yang meninabobokan warga Ngada”, tambah Doze.

Sejumlah warga dan tokoh Ngada kepada media ini, 19 Februari 2015 meyakini Bupati Marianus Sae dan Wabupnya Paulus Soliwoa (Paket Mulus) tidak akan mampu merealisasi janji-janji politik mereka dulu. Mereka akui slogan politik pelayanan Paket Mulus berkobar bagai bara api, tetapi tidak pernah disangka akhirnya berujung janji-janji manis semata. Mereka sesalkan hilangnya konsistensi Bupati Marianus Sae bersama wakilnya Paulus Soliwoa terhadap berbagai janji manis paket mulus dulu. Menurut mereka, janji mulus dulu berisikan janji perubahan memajuan Kabupaten Ngada. Pasalnya, jika gagasan dan janji-janji mulus terlaksana sesuai ucapan tempo dulu, niscaya Bupati Marianus Sae bakal menoreh pengukuhan monumental dari masyarakat Ngada menjadi salah satu legenda hidup warga Ngada. Tetapi apa boleh buat, janji tetaplah janji bahkan slogan mulus untuk memutus mata rantai pasar pun nampak lenyap tak terdengar lagi. Pantauan media ini Februari 2015, cukup banyak janji mulus yang tidak dipenuhi sebagaimana tebaran wacana dulu yang hanya menyisahkan mimpi-mimpi rakyat atas janji paket mulus. Menurut sejumlah warga Ngada, sebelum duo mulus terpilih menjadi memimpin Ngada, warga Ngada sangat antusias menyambut hadirnya calon Bupati Marianus Sae saat itu yang berlatarbelakang swasta sekaligus politisi karena merangkap jabatan sebagai Ketua Partai di daerah.

 

Tidak sedikit warga Ngada mengakui paket mulus dulu menjanjikan akan membuka perusahaan export aket import daerah, menjanjikan akan menaikan harga jagung dan harga kopi jika terpilih memimpin Kabupaten Ngada. Paket mulus, kata mereka, juga berjanji akan melakukan reformasi birokrasi, berjanji untuk menegakkan supremasi hukum, janji membela kaum tertindas, janji memajukan demokrasi di Ngada bahkan karena sosok calon bupati Marianus Sae saat itu dikabarkan berlatar belakang politisi dan seorang pengusaha sukses yang kaya raya, rakyat juga meyakini kehadiran duet pemimpin Marianus-Paulus tidak akan menghabiskan pundi-pundi keuangan daerah, tetapi sebaliknya Paket Mulus akan menyumbangkan modal anggaran mereka untuk disuntikan kedalam dompet keuangan daerah, sebab dari aspek kehidupan ekonomi calon bupati (Marianus Sae saat itu) paket mulus lah satu-satunya pasang calon yang digembar-gembor sangat mapan dalam bidang ekonomi finansial para calonnya, khususnya cabup Marianus Sae yang disebut sebagai seorang penguasa sukses kaya raya.

Diduga sejumlah janji mercusuar paket mulus ibarat ilusi atau mimpi di siang bolong yang tidak mungkin dapat diwujudkan oleh duo mulus. “Apa yang dikampanyekan dulu adalah sejarah yang sudah diketahui semua orang. Bukan hanya saya saja yang mengharap paket mulus menggenapi janji-janjinya, tetapi seluruh rakyat Ngada pun berharap sama, bahwa apa yang dikampanyekan berapi-api dulu harus bisa diimplementasikan ketika terpilih memimpin Ngada. Saya pun akhirnya mengetahui bahwa ternyata semua itu hanya sekedar kata. Bahwa teriakan peduli dengan ‘fai walu ana halo (rakyat jelatah), ternyata seperti ini hasilnya. Mana aksi nyata saat ini?. Yang ada malah terbalik, para mama lele dan papa lele/para pedagang justeru dibuat menangis, mereka ditindas dan ditertibkan dengan cara-cara kekerasan. Semakin hari mereka terpuruk oleh praktek-praktek kebijakan yang menjerat leher rakyat oleh kepemimpinan ini”, ungkap mantan Ketua Tim Sukses Paket Mulus, Dorothea Dhone yang kini duduk sebagai Wakil Ketua Komisi II DPRD Ngada melalui tulisan short masage nya kepada media ini.

 

Tidak sebatas itu, mantan Ketua Tim Sukses Paket Mulus, Dorothea Dhone mensignalir janji-janji politik Marianus-Paulus yang penuh kobaran semangat, tak jauh beda seperti bunyi slogan not action-talk only atau janji-janji manis tanpa kenyataan ‘lips service’ belaka. Janji Mulus untuk meningkatkan taraf hidup perekonomian warga Ngada melalui konsep Pemutusan Mata Rantai Pasar, kata dia, justeru sebaliknya berbuah tangisan air mata ratusan pedagang di kota Bajawa. Dia menyesalkan ratusan pedagang dipaksa angkat kaki dari Pasar Inpres Bajawa yang diperparah lagi dengan instruksi dadakan Januari Tahun 2015 Pasar Inpres Bajawa ditutup paksa oleh Pemda Ngada Kepemimpinan Bupati Marianus Sae bersama wakilnya Paulus Soliwoa.

Pantauan Media ini, meski demikian nampak masih ada warga Ngada yang berharap janji-janji Paket Mulus diwujudkan oleh Bupati Marianus Sae bersama wakilnya. Mereka masih optimis janji Bupati Marianus dan wakilnya masih bisa terlaksana dalam masa sisa jabatan saat ini. Sebaliknya, tidak sedikit pula masyarakat Ngada pesimis terhadap pemenuhan janji mulus, apalagi kini keduanya tinggal menghitung hari. Pantauan wartawan, saat ini unsur Lembaga Dewan Kabupaten Ngada mulai bisik-bisik tetangga. Pasalnya, tidak lama lagi DPRD Ngada akan segera menyurati pemerintah daerah memberitahukan masa tugas bupati dan wakil bupati Ngada akan segera berakhir. Hal ini menyiratkan Duo Mulus akan segera meninggalkan jabatan mereka dan pergi bersama janji-janji mulus. Sejumlah wacana beredar bahwa Marianus Sae bakal bertarung lagi pada perhelatan akhbar Pilkada Ngada nanti. Sementaraitu wakilnya Paulus Soliwoa masih penuh teka-teki, mungkin hendak pensiun dari jagat kompetisi selanjutnya.

Menengok suratan sejarah bersama sentilan sentilun Ngada, media menangkap sejumlah warga Ngada menulis dan mengulas kemenangan paket Mulus pada Pilkada Ngada Tahun 2010 lalu telah membawa kenikmatan untuk sengsara. Meski demikian warga Ngada pun tetap mengakui bahwa kemenangan Marianus Sae dan Paulus Soliwoa pada Pilkada lima tahun lalu telah mengisi lembaran sejarah Ngada. Keduanya telah mengukir nama sebagai pemimpin daerah Kabupaten Ngada pada lembaran sejarah bersama deretan para pemimpin Ngada dalam payung peradaban negeri dewa zeta-nitu zale, Ngada-Flores.

Dikutip media ini, sejumah tulisan Facebook warga Ngada menulis Marianus Sae dan Paulus yang pernah dijagokan dapat membawa harapan baru bagi warga Ngada, kini berujung buram dan ‘apa boleh buat. Aroma mulus tak semulus kata ataupun tebaran janji-janji manis tempo dulu. Tidak sedikit warga Ngada mengeluh bahwa harapan mereka telah sirna, sebab Marianus-Paulus gagal memenuhi janji mulus Paket Mulus dulu. Sejumlah warga yang bermukim di wilayah Jerebuu, wilayah Aimere, wilayah Golewa, So’a, Riung, Wolomeze, Bajawa, Langa, Wolowio dan Nua Mere kepada media ini Februari 2015 mengaku janji Paket Mulus untuk menaikan harga kopi hingga ratusan ribu rupiah per kilo gram, janji untuk menaikan harga jagung hingga puluhan ribu rupiah per kilo gram, janji mendirikan Perusahaan Export Import Daerah guna menampung dan mempekerjakan ratusan warga Ngada, iming-iming Kabupaten Ngada hidup mandiri atau tidak bergantung pada transferan Dana DAK ataupun Dana DAU, semua itu tinggal janji-janji usang tempo dulu. Mereka mengaku kini rakyat sudah mengerti bahwa janji politik tetaplah janji politik yang sesekali tak jauh beda dengan solgan akrobat jualan obat, lalu menjadi mimpi buruk bagi siapa saja yang keburu mengamini satu slogan politik.

Ketua Forum Masyarakat Ngada dan Diaspora (FKMND) Frit Doze kepada Media ini , 19 Februari 2015 menyebut fenomena janji mulus menggelitik kalangan kritis rakyat Ngada. Dia mensignalir Rakyat Ngada pernah mengalami masa candu dan mabuk opium politik janji manis penuh spekulasi ala janji mulus.

Menurut dia, kenangan seperti ini tidak dapat dilupakan untuk selamanya. Dia membenarkan tidak sedikit kalangan kritis menilai keluguhan rakyat Ngada telah dimanfaatkan secara sempurnah oleh para penggiat politik praktis ataupun kaum pemburu kursi dan jabatan machiavelian di daerah. Rakyat Ngada yang luguh, kata Doze, pernah bersorak-sorai thulus, tetapi semua itu telah berlalu dan hanya sisahkan tontonan anti klimax berujung rakyat Ngada dipaksa menikmati suguhan nasi basi kepemimpinan yang diduga gagal dan berantakan kiri kanan saat ini.

Dikutip dari berbagai sumber, lima tahun lalu warga Ngada betapa optimis bupati dan wakil bupati terpilih akan tepati janji-janji mereka. Paket Mulus berjanji menerapkan konsep pemutusan mata rantai pasar, membuka lapangan kerja besar-besaran, mendirikan perusahan export-import daerah, menaikan harga jagung, membeli kopi petani dengan harga tinggi, membuka industri Bimoli Boba (Biboba), menyempurnahkan pola pelayanan birokrasi berbasis analisis beban kerja, tetapi hari ini semua itu sirna disapu gelombang ingatan dan semakin diperparah dengan mencuatnya berbagai dugaan raport merah kinerja paket mulus periode 2010-2015.

Kisah buram ini tidak dapat dibantah. Mantan Ketua Tim Sukses Paket Mulus, Dorothea Dhone kepada media ini 19 Februari 2015 tidak membantah sejumlah dugaan raport merah paket mulus. Kabarnya, seorang Marianus Sae pada pilkada Ngada silam disebut sebagai sosok anak muda bertalenta, digembar-gemborkan sebagai pengusaha sukses kaya raya, memiliki asset pribadi milyaran rupiah, mempunyai perusahaan export-import bertaraf internasional, memiliki ratusan karyawan tenaga kerja, memiliki media group jelajah wisata, mempunyai investasi saham dimana-mana, berpenghasilan milyaran rupiah per bulan dan masih banyak lagi lainnya dalam album ingatan warga Ngada Flores. Menurut Dorothea, keraguan demi keraguan bermunculan usai rakyat menguji Paket Mulus dan kini berujung buram di mata masyarakat.

Pasalnya, pada ujung wacana kesohoran itu, Marianus Sae justeru menjejakan kaki pada lintasan hukum atas dugaan tindakan tidak taat azasnya mengeluarkan perintah pemblokiran Bandara Turelelo So’a tanggal 21 Desember 20013 silam. Atas perbuatan tidak terpuji itu Sang Bupati ditetapkan menjadi tersangka oleh Polda Nusa Tenggara Timur Kepemimpinan Brigjen (Pol) I Ketut Untung Yoga Ana. Sedikitnya 23 Anggota Satpol PP Ngada dibawah komando Kasat Pol PP, Hendrikus Wake (saat ini terdakwa kasus blokade bandara) harus menanggung beban dugaan kesalahan sang bupati yang katanya kesal akibat tidak mendapatkan jatah satu tiket penerbangan Kupang tujuan Bajawa (21/2/2013) silam. Akibat dari aksi kowboy itu pesawat komersial Merpati Nomor Penerbangan 6516 terpaksa terbang ulang-aling di angkasa raya. Merpati 6516 dipaksa mondar mandir di udara dari Kupang ke Bajawa tanpa lending lalu kembali lagi menuju Bandara El-Tari Kota Kupang. Kesaksian penumpang menyatakan mereka cemas, trauma dan ketakutan atas kejadian buruk itu.

“Andai saja beberapa bandara padat atau juga pesawat kehabisan bahan bakar diatas udara, entah bagaimana nasib kami waktu itu. Pesawat Merpati dengan nomor penerbangan 6516 dan kami sekitar 53 penumpang di dalamnya pasti tinggal kenangan”, ungkap Welem selaku salah satu penumpang Merpati, menjawab wartawan saat dihubungi media ini 19 Februari 2015 di kota Kupang.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Ngada, Dorothea Dhone menilai kejadian blokade bandara adalah sebuah kejadian yang luar biasa. “Saya tidak bisa membayangkan kalau saat itu pesawat Merpati kehabisan bahan bakar diatas udara. Apa jadinya nasib puluhan penumpang bersama crew pesawat itu. Sekarang kita mengatakan hal seperti ini hanya khayalan sebab pesawat Merpati kembali landing di Bandara El-Tari Kupang dengan kondisi baik-baik, tetapi saya ingin bertanya bukankah itu semua mempertaruhkan resiko dan berpotensi akan keselamatan nyawa manusia dalam system dan standart keselamatan line penerbanga?, “tegas Dorothea Dhone.

Ramgkuman berita media ini, buntut dari insiden itu Polda NTT Kepemimpinan Brigjen (Pol) I Ketut Untung Yoga Ana saat itu langsung menetapkan Bupati Ngada Marianus Sae menjadi tersangka Kasus Blokade Bandara sebagaimana amanat Pasal 421 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana point penyalahgunaan wewenang didukung temuan beberapa alat bukti sah.

Hal ini menyiratkan makna Bupati Marianusa Sae pun didduga gagal menjadi bupati yang paham tentang hukum. Sejumlah pihak pun menilai kepemimpinan Marianus-Paulus hanya menuai hasil terbalik. “Konyol. Ko bisa dengan tau dan mau dia melakukan hal itu. Dia diduga memerintahkan Satpol PP memblokir Bandara dan semua orang sudah tahu pengakuan itu melalui media termasuk melalui tayangan live Metro TV ‘Mata Najwa, ” tambah Dhone.

Bagaimana tidak, berbagai rentetan dugaan kasus seolah silih berganti menampar wajah duo mulus. Tiga tahun menduduki jabatan pada penghujung masa bhakti tahun ketiga Bupati Marianus justeru resmi menjadi tersangka oleh Polda Nusa Tenggara Timur dan Mabes Polri atas dugaan perbuatan melanggar hukum, memberi perintah ‘menyuruh melakukan’ Satpol PP Ngada Blokir Bandara Soa.

Dihimpun tim media group, sebelum itu Bupati Marianus Sae pernah dicerca kabar tak sedap.

Pemeberitan media lokal, seorang pejabat besar di Ngada , diduga hamili pembantu rumah jabatan. Berita heboh tersebut pernah nangkring menjadi trending topik nasional meski akhirnya digeser kabar tidak sedap lainnya Bupati Garut Aceng Fikri dijerat Kasus Amoral. Sementaraitu kisah pejabat besar di Ngada diduga hamili seorang pembantu berinisial MSN tak beda seperti seri lumba-lumba laut diantara hempasan gelombang samudera raya.

Pasalnya, menjawab teka-teki itu Komisi Kemanusian untuk Flores (Truk-F) dibawah payung Gereja Katolik secara resmi mengirim surat laporan beserta data-data lengkap kepada Lembaga DPRD Kabupaten Ngada, tembusan Gubernur NTT, Mendagri, Presiden, Kapolri, Pemda Ngada, Komnasham serta para media dan sejumlah pihak lainnya, menjelaskan bahwa teka-teki dugaan pembantu rujab inisial MSN dihamili seorang pejabat besar di Ngada adalah fakta yang terjadi benar adanya. Dihimpun media ini Januari 2015, dalam surat resmi Truk-F Sikka memaparkan seluruh kronologi beserta data-data dan coppyan Surat Baptis Anak sebagai data pendukung dugaan ataupun fakta perkara ini.

Beberapa ulasan lain mengungkapkan Bupati Marianus Sae beberapa kali membantah kabar itu tidak benar. Review wartawan, menurut Marianus Sae dirinya tidak pernah menghamili seorang pembantu rujab berinisial MSN. Namun sayang, bantahan Marianus Sae seolah tak bernyawa. Pantauan tim media, opini publik pun terbelah kedalam tiga klaster, pertama kubu yang meyakini integritas misi gereja dalam azas pertanggungjawaban lembaga Truk-F dan sangat meyakini bahwa pengakuan Truk-F adalah fakta kebenaran dan itu lah yang sebenarnya.

Sementaraitu klaster kedua meyakini Marianus Sae di obrak-abrik oleh Truk-F melalui tudingan palsu dan diduga Truk-F bersekutu dengan para kepentingan lawan politik di Ngada. Dan, yang terakhir adalah kelompok yang beropini ragu-ragu. Kelompok ini ragu membenarkan dugaan kasus pejabat besar di Ngada hamili pembantu rujab, tetapi ragu pula menyalahkan dugaan tersebut.

Pantauan media ini, seorang Marianus Sae pun nyata-nyata tidak melakukan upaya hukum balik terhadap para pihak yang menyebut MS menghamili seorang pembantu rujab wanita inisial MSN asal Desa Nita.

Sementaraitu Lembaga Truk-F Sikka pun menganut filosofi yang berbunyi kebenaran tetaplah kebenaran walau dunia halalkan segala cara untuk memalksukan fakta dan kebenaran. Penelusuran media ini, sebuah forum pemerhati moralitas pejabat Ngada yang diketuai Yonas Mita, sekitar dua tahun silam menggelar sebuah aksi di Kota Bajawa menuntut Bupati Marianus Sae berkata jujur atas dugaan kasus yang dinilai mencoreng aura pemimpin Ngada. Forum ini juga meminta Bupati Marianus Sae segera melakukan upaya hukum resmi kepada para pihak yang telah menuding MS sebagai ayah biologis bayi yang dilahirkan oleh wanita inisial MSN mantan pembantu rujab.

Kabarnya, tidak lama berselang rumah Yonas Mita di Mataloko didatangi sekelompok orang hingga merusak jendela rumah. Yonas Mita pun sempat dipukul oleh oknum penyerobotan rumah Yonas di Mataloko. Oleh Yonas Mita kasus ini dilaporkan ke Polres Ngada di Bajawa namun hingga saat ini tidak diketahui ujung perkara hukumnya seperti apa.

Berikutnya sebuah forum pemerhati masalah sosial dan kebijakan, Forum Komunikasi Masyarakat Ngada dan Diaspora (FKMND) melalui berbagai kolom Facebook FKMND menduga Bupati Marianus Sae diduga telah menipu rakyat melalui tayangan video youtube yang dinaikan oleh pendukung Bupati Marianus Sae. Pencermatan media, dalam durasi  video youtube tersebut Bupati Ngada Marianus Sae kepada ratusan warga masyarakat di sebuah lokasi menjelaskan kabar pembantu rujab yang diduga dihamili seorang pejabat besar adalah isyu yang menyesatkan rakyat. Nampak dalam video tersebut ratusan warga begitu serius mendengar klarifikasi sang bupati. Bupati Marianus Sae juga mengatakan dirinya sudah mengadukan persoalan ini ke pihak kepolisian. Seolah berbanding terbalik, penggalian tim media ini, hingga kabar ini diturunkan belum satu pun resort kepolisian menerima laporan pengaduan Bupati Ngada Marianus Sae atas tudingan pejabat besar di Ngada diduga hamili pembantu rujab wanita inisial MSN.

Dikutip media ini, Truk-F Sikka melalui media online 2014 lalu tak tanggung-tanggung melansir keterangan pers mereka menyatakan Truk-F siap memenuhi proses hukum jika Bupati Ngada Marianus Sae merasa Truk-F mencemarkan nama baiknya sebagai Kepala Daerah ataupun sebagai pribadi atas ketegasan Truk-F Sikka menerangkan MS adalah ayah biologis dari seorang bayi laki-laki yang telah dilahirkan wanita inisial MSN mantan pembantu rujab Ngada. Pasalnya, Truk-F Sikka memastikan mereka mengantongi seluruh data termasuk data rekaman pengakuan korban MSN bersama saksi-saksi kunci yang siaga kapan saja jika Bupati Marianus Sae berniat mengadukan persoalan ini melalui meja hukum. Berulangkali Truk-F menyatakan siap meladeni gugatan MS jika merasa tidak puas terhadap keterangan Truk-F, namun hingga rangkuman ini diturunkan Bupati Marianus Sae tidak mengadukan Truk-F Sikka ke meja hukum.

Lansiran kabar publik mengungkapkan wanita MSN melahirkan seorang anak laki-laki dari ayah biologis pejabat besar di Kabupaten Ngada. Pantauan media ini, hingga saat ini kasus heboh ini menuai pro contra tanpa azas kepastian hukum dikedepankan. Kubu Bupati Marianus Sae menuding wacana wanita MSN dihamili seorang pejabat besar di Ngada adalah wacana jadi-jadian yang dihembus oleh kubu lawan politik, sebaliknya kubu kritis termasuk beberapa kader daerah yang kini sudah duduk di kursi DPRD Ngada menyebut dugaan MS hamili MSN adalah faka yang benar adanya.

Siratan kasus masih terus berlanjut, sejumlah pihak di Bajawa 15 Februari 2015 menyebut secara hukum Bupati Marianus Sae tengah mempunyai kans besar untuk menyeret para pihak ke terali besi atas delik pencemaran nama baik ataupun pasal perbuatan tidak menyenangkan. Tetapi entah, Bupati Marianus Sae yang dikenal agresif, berani bahkan proaktif dalam kesehariannya malah tidak memakai jalur hukum formal atas masalah ini. Tak pelak keengganan Marianus Sae ini perlahan membuahkan pertanyaan demi pertanyaan hingga menyiratkan dugaan sebagian besar rakyat di Ngada bahwa fakta ini benar adanya.

 

Wajah buram politik mulus belum berhenti disitu. Bersamaan dengan kisruh pemindahan pedagang Pasar Inpres Bajawa, sejumlah pihak di Ngada mulai buka suara. Mereka mengungkapkan mosi tidak percaya mesreka terhadap kepemimpinan Bupati Ngada Marianus Sae. Ketua Forum Masyarakat Ngada dan Diaspora, Fritz Doze 17 Februari 2015 disusul Ketua Forum Prediksi dan Toleransi Masyarakat Ngada (Predator) Maxi Makmur, berikutnya Suara Marga PMKRI Calon Cabang Ngada serta sederet tokoh Ngada lainya seperti Hendrikus Liu Wea (Pensiunan Kepala Dinas Nakertrans Ngada), Isidorus Djawa (Pensiunan Pejabat Asisten Daerah Kabupaten Ngada), Friederic Liu Wea (Mantan Anggota DPRD Ngada), Idin Saidin (Mantan Anggota DPRD Ngada), Amatus Djawa (Mantan Anggota DPRD Ngada), Dorothea Dhone (Wakil Ketua Komisi B DPRD Ngada Periode 2014-2019), Wakil Ketua DPRD Ngada Yosep Be’i, Ketua Komisi B Marsel Na’u serta Fungsionaris PAC PDIP Ngada Florianus Lengu dan para kalangan kritis lainnya mengungkapkan narasi fakta selaku warga masyarakat Ngada atas duo mulus, Bupati Marianus Sae dan wakilnya Paulus Soliwoa.

Menurut mereka raport kinerja duo pemimpin Ngada saat ini sangat memprihatinkan dan layak disebut ‘raport merah’ karena gagal menjadi pemimpin panutan bagi Masyarakat Kabupaten Ngada. Mereka prihatin atas pudarnya martabat, moralitas, kualitas (waka) pemimpin Ngada periode ini. Untuk tidak terjebak pada lubang yang sama, kepada media ini 20 Februari 2015, sejumlah tokoh, para aktifis dan aliansi warga kritis Kabupaten Ngada menghimbau seluruh rakyat Ngada bersama-sama mengantisipasi  politik tebar uang banyak, politik janji-janji surga yang menebar manis madu angin sesaat ke hadapan masyarakat. Mereka menghimbau masyarakat Ngada menghadapi Pemilukada Kabupaten Ngada kedepan dengan melihat “bibit, bebet dan bobot seorang kader”.

“Mimpi buruk sudah kita rasakan bersama. Gunakan mata, telinga, pikiran dan hati untuk mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini di Ngada. Kami dari Forum Pembela Hak-Hak Demokrasi Rakyat Ngada menghimbau seluruh warga masyarakat Ngada agar kedepan utamakan integritas, moralitas, intelektualitas, bobot, track record, keteladanan, konsistensi dan spiritiualitas kader agar tidak dikibuli oleh cara-cara politik materialisme yang nilai-niai kepemimpinan akibat rakyat salah pikir dan terbuai politik slogan ataupun ”, tutup Fritz Doze Ketua Forum Masyarakat Ngada dan Diaspora kepada tim media ini. “Nantikan tayangan berikutnya Sejumlah Tokoh dan Warga Ngada Lontarkan Mosi Tidak Percaya kepada Bupati Marianus Sae’(*tim)