Kasat Pol PP Ngada diduga Ancam Pedagang Sayur

Media Group, BAJAWA-Sedikitnya sebanyak 6 (enam) orang pedagang sayur yang berjualan di lahan kepemilikan tuan tanah milik Hendrikus Liu Wea di kawasan Pasar Inpres Bajawa Kabupaten Ngada Flores diduga diancam oleh Kasat Pol PP Ngada Hendrikus Wake. Kejadian ini berlangsung Rabu 18 Febrauri 2015 malam hari , Pasalnya, tiba-tiba Kasat Pol PP Ngada menyambangi Pasar Inpres Bajawa, diduga karena mendapat laporan ada seorang ibu dari warga Desa Naru membongkar pagar bambu pintu masuk Pasar Inpres Bajawa yang dibuat oleh Anggota Satpol PP Ngada atas Instruksi Kepala Daerah Kabupaten Ngada beberapa waktu lalu.

Suasana Kota  Bajawa pada malam hari

Suasana Kota Bajawa pada malam hari

Dua pedagang sayur, Corry dan Ros Ngole kepada wartawan 18 Februari 2015 sekitar pukul 21.00 wita di Kawasan Pasar Inpres Bajawa mencurahkan kejadian yang menimpanya ke media ini. Menurut mereka, Kasat Pol PP Ngada datangi mereka dengan wajah marah sambil memperingati mereka agar tidak boleh berjualan di tempat itu.

“Beberapa menit lalu Pa Hengky Wake Kasat Pol PP datang kesini dengan marah-marah. Dia bilang begini ‘Kamu ini terlalu sekali. Kamu buat saja negara sendiri. Besok kamu tunggu disini e. Ingat, hari ini terakhir saya lihat kamu jualan disini”, ungkap Corry menirukan kalimat Kasat Pol PP Ngada, Hendrikus Wake.

Kepada wartawan, Corry dan Ros Ngole mengaku sudah dua minggu menggelar dagangan sayur di samping Pasar Inpres Bajawa. Menurut mereka, dalam dua minggu terakhir sekitar enam orang pedagang sayur berjualan di samping Pasar Inpres Bajawa atas kebaikan Tuan Tanah, Hendrikus Liu Wea.

“Sudah dua minggu kami berjualan disini atas persetujuan Tuan Tanah Pa Hengky Lodi. Kami jualan disini dalam lokasi tuan tanah, bukan di dalam Pasar Inpres yang mereka blokir itu. Pa Hengky bilang kalau ada yang datang ancam-ancam, kami harus telepon dia sebagai tuan tanah. Pa Hengky juga kasi nomor teleponnya kepada kami. Kami tidak takut lagi dengan ancaman Pol PP pamer kuasa setiap saat ke kami orang-orang kecil ini”, tambah Ros Ngole kepada media ini.

Kedua pedagang ini mengaku berjualan sayur sampai larut malam karena diburu tanggungan kredit, kebutuhan anak sekolah dan berabagai kondisi ekonomi keluarga yang jatuh drastis sejak Pasar Inpres ditutup paksa oleh Pemda Ngada.Pasalnya, berjualan di Pasar Boubou, dagangan mereka banyak rusak, layu dan membusuk akibat sepih pembeli.

Hasil penelusuran cepat media ini pada sejumlah nara sumber dan saksi mata kejadian menyebutkan pembongkaran pagar Pasar Inpres Bajawa, Rabu 18 Februari 2015, terjadi sekitar usai waktu misa Gereja atau sekitar pukul 6.00 wita oleh seorang Ibu bertanda debu salib pada dahi yang tiba-tiba mendatangi Pasar Inpres Bajawa dan langsung membongkar bambu-bambu pagar pintu masuk Pasar Inpres Bajawa.

Seorang saksi mata, tukang ojek, 18 Februari 2015, sekitar Pukul 21.00 wita kepada wartawan mengaku melihat kejadian. Dia melihat seorang Ibu datang dengan penuh kemarahan dan langsung mengobrak-abrik pagar bambu pintu masuk Pasar Inpres Bajawa.

“Mungkin ibu itu kurang waras , Tadi sehabis waktu Gereja, ada seorang Ibu dengan tanda abu salib di dahinya datang kesini buka pagar bambu itu. Dia teriak-teriak disni dengan kata-kata ‘ai siapa lagi yang pagar ini. Saya datang mau buka pagar-pagar ini. Kalau saya mau beli siri pinang, saya harus cari uang lima belas ribu supaya saya naik ojek ke Pasar Boubou?.Saya bongkar pagar ini sekarang juga”, ulang tukang ojek menirukan ucapan seorang Ibu yang datang seorang diri dan langsung mermbongkar pagar pintu masuk Pasar Inpres Bajawa.

Dihimpun media ini di Desa Naru Bajawa, 18 Februari 2015 sekitar pukul 21.15 wita, beberapa warga Naru Bajawa menduga pelaku pembongkar pagar adalah seorang warga asal Naru Bajawa. diduga pelaku adalah seorang ibu paruh baya yang tengah stres (diduga gila oleh warga sekitar).

Menurut warga Naru, pelaku berinisial ER asal Desa Naru Kecamatan Bajawa. “Itu pasti warga kami disini yang sedikit gangguan jiwa. Dia mempunyai anak yang sekolah di SMA Negeri Bajawa. Beberapa tahun lalu dia berjualan sayur di Pasar Inpres Bajawa, tetapi akhir-akhir ini kami lihat dia seperti orang binggung yang jalan kesana kemari, marah-marah sembarang terhadap orang lain. Dia itu tidak waras Pa. Pasti dia yang bongkar itu pagar, karena sore tadi kami lihat dia juga Misa Rabu Abu di Gereja  Kota Bajwa”, ungkap beberapa warga Naru kepada wartawan.

Sejumlah tukang ojek yang masih mondari mandir di Kawasan Pasar Inpres Bajawa, membenarkan pelaku pembongkar pagar pasar adalah seorang Ibu asal Desa Naru Bajawa. (*iwn)