Kawasan Hutan Lindung Warga Desa Banteng Tawa Takut Tebang Pohon

Media Group- Bajawa,- Masyarakat Desa Benteng Tawa, Kecamatan Riung Barat Kabupaten Ngada yang hidup di kawasan hutan tutupan/lindung akhir-akhir ini tidak bisa menebang (sensor) pohon sebarang untuk dijadikan Bahan bangunan Rumah, padahal pohon yang akan ditebang merupakan kepunyaan warga setempat. Akibatnya Warga mengeluh karena tidak dapat membangun rumah, bahkan banyak rumah warga yang kayunya sudah lapuk, atap rumah (seng berkarat), dinding dan usuk rumah juga lapuk.

Kampung Damu Kecamatan Riung Barat  Kabupaten Ngada yang masuk yang berada di kawasan Hutan Lindung.

Kampung Damu Kecamatan Riung Barat Kabupaten Ngada   di kawasan Hutan Lindung.

Kejadian ini harus diterima Masyarakat desa Banteng Tawa, sebagai warga kecil pasrah pada keadaan, mua membangun rumah takut mengsensor pohon , meski memiliki pohon sendiri seperti kelapa yang ada sekitar rumah, tetap tidak bisa menabang sebarangan .

Warga takut mensesnsor pohon , akan di hukum, bahkan kejadian penebang pohon milik warga harus berujung di pihak yang berwajib, demikain dialami seorang warga Desa Benteng Tawa, Kecamatan Riung Barat berinisial BN (35) dilaporkan oleh oknum tertentu yang dianggap berpengaruh.

Pelapor BN adalah kerabat dekatnya sendiri. Kasus ini sedang dalam penyidikan polisi. Kayu yang di sensor, sudah di sita polisi Rabu, 18 Februari 2015. BN sebagai pemilik kayu rela membiarkan kayu tersebut diangkut polisi.

“Polisi datang menyita kayu, kemudian kayu tersebut diangkut , pada saat mengangkut kayu sempat tertinggal satu lembar. Beberapa potongan kayu telah sudah dibuatkan peti mayat keluarga paman dari pelapor sendiri. Bahkan yang meninggal itu termasuk yang melapor suami saya,” ungkap istri korban (EL).

BN kepada Zonalinenews menuturkan, bahwa yang menjadi masalah adalah kayu ”Rangga Po” yang lokasi penebangananya (sensornya) di Waesaok. Sedangkan kayu kemiri dan jati yang lokasinya di sekitar rumah tidak selayaknya di sita. Hanya karena terlanjur, akhirnya kedua jenis kayu dari jati dan kemiri terpaksa diangkut sekalian oleh aparat kepolisian.

”Biar sita semua saja, tidak apa-apa tapi, jangan apa-apakan saya dan tidak apa-apakan kayu saya”. Lanjutnya, saya menyesal, biarlah kami orang susah tetap susah, orang bodoh tetap bodoh. Sebab, sebelum sensor saya sudah ijin di pemerintah desa dan KRPH kehutanan Ngada, Rofinus Hainudin sebagai Polisi Hutan yang bertugas di Benteng Tawa. Karena dinyatakan layak sensor, maka saya sensor,” jelas BN. (* intan)