Kepemimpinan Tidak dilahirkan Tetapi Muncul Melalui keterampilan

Media Group : Zonalinenews-Kupang,- Pemimpin berprinsip adalah pemimpin yang efektif dan membawa kemajuan. Pemimpin sejati adalah yang memiliki kemampuan menjelajahi hati pengikutnya. Hal itu ditandai dari kepemimpinannya bila makin menempati posisi-posisi tinggi, maka semakin tinggi pula kearifannya. Pemimpin semacam ini akan mampu membangkitkan kesadaran orang-orang yang dipimpinnya. Sehingga dengan kepemimpinannya akan membuat mau orang-orang yang dipimpinnya. Demikian, intisari materi ‘Kepemimpinan yang Berprinsip’ yang dibawakan anggota Komisi II DPRD Kota Kupang, Daniel Hurek, pada kegiatan Latihan Kepemimpinan Tingkat Menengah (LKTM) Angkatan Muda Mahasiswa Pelajar Asal Ile Ape (AMMAPAI) Kupang periode 2014/2015, di sekretariat AMMAPAI, Jalan Kika Ga, RT.22, RW.10 Walikota Baru – Kupang, Selasa 17 Februari 2015, pukul 10.wita.

Latihan Kepemimpinan Tingkat Menengah (LKTM) Angkatan Muda Mahasiswa Pelajar Asal Ile Ape (AMMAPAI) Kupang periode 2014/2015, di sekretariat AMMAPAI, Jalan Kika Ga, RT.22, RW.10 Walikota Baru – Kupang, Selasa 17 Februari 2015.

Latihan Kepemimpinan Tingkat Menengah (LKTM) Angkatan Muda Mahasiswa Pelajar Asal Ile Ape (AMMAPAI) Kupang periode 2014/2015, di sekretariat AMMAPAI, Jalan Kika Ga, RT.22, RW.10 Walikota Baru – Kupang, Selasa 17 Februari 2015.

Menurut Daniel Hurek, bakat kepemimpinan itu sebenarnya tidak dilahirkan. Bakat tersebut muncul melalui keterampilan yang terus diasah dan ditumbuhkembangkan.

“Memang ada pemimpin yang hanya fasih berbicara. Namun sebelumnya, kalau ia tidak memiliki ilmu, ia tidak sering berlatih, maka bisa jadi kata-katanya terpeleset pada kesalahan. Begitu juga kalau ada seorang pemimpin yang berani. Kalau tidak sering-sering dilatih, maka keberaniannya suatu saat akan banyak berbuah kezaliman,” ujar Daniel Hurek.

Lebih lanjut menurut Hurek, ada delapan ciri dasar kepemimpinan yang berprinsip yaitu Pemimpin yang terus belajar, Pemimpin yang berorientasi pada pelayanan, Pemimpin yang memancarkan energi positif, Pemimpin yang mempercayai orang lain, Pemimpin yang mempercayai orang lain, Pemimpin yang hidup seimbang, Pemimpin yang melihat hidup sebagai sebuah petualangan, Pempimpin yang sinergistik, dan Pemimpin yang berlatih untuk memperbarui diri.

“Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka. Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan karier. Secara fisik, pemimpin yang berprinsip memiliki air muka yang menyenangkan dan bahagia. Mereka optimis, positif, bergairah, antusias, penuh harap, dan mempercayai. Pemimpin yang berprinsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain mempunyai potensi yang tak tampak. Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimis. Mereka tidak menerima atau menolak sama sekali. Meraka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakannya. Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini selalu sebagai sesuatu yang baru. Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka datang dari dalam diri, bukan luar. Mereka menjadi penuh kehendak, inisiatif, kreatif, berani, dinamis, dan cerdik. Karena berpegang pada prinsip, mereka tidak mudah dipengaruhi namun fleksibel dalam menghadapi hampir semua hal. Mereka benar-benar menjalani kehidupan yang berkelimpahan. Pemimpin yang berprinsip itu sinergistik. Mereka adalah katalis perubahan. Pemimpin yang berprinsip secara teratur melatih empat dimensi kepribadian manusia: fisik, mental, emosi, dan spiritual. Mereka selalu memperbarui diri secara bertahap. Dan ini membuat diri dan karakter mereka kuat, sehat dengan keinginan untuk melayani yang sangat kuat pula,” jelas Daniel Hurek secara rinci terhadap delapan ciri dasar kepemimpinan yang berprinsip.

Sementara itu , Urbanus Ola Hurek, M.Si, dosen FISIP Unika – Kupang salah satu pemateri dalam LKTM AMMAPAI – Kupang ketika membawakan materi ‘empowerment and enablement’ mengatakan bahwa konsep “pemberdayaan” sangat erat sekali hubungannya dengan “partisipasi”. menurutnya, pemberdayaan masyarakat ataupun suatu organisasi dikatakan berhasil apabila tingkat partisipasi mereka sudah mencapai tingkat tertinggi, yaitu partisipasi interaktif dan mobilisasi.

“Untuk menjadi diberdayakan/empowered, seseorang harus mengalami terlebih dahulu pelemahan/disempowered. Pemberdayaan tidak bisa dianugerahi dari pihak ketiga. Pemberdayaan hanya bisa dilakukan oleh dirinya sendiri. Disini, pihak ketiga hanya berfungsi untuk memfasilitasi saja. Dalam pemaknaan pemberdayaan, didalamnya ada juga pengambilan keputusan termasuk refleksi, analisa, dan aksi atas apa yang penting bagi mereka dan pemberdayaan adalah proses yang sedang berjalan, bukan sebuah produk akhir. Pemberdayaan hanyalah sebuah means (sarana) bukan goal (tujuan), karena tujuan dari pemberdayaan adalah sebuah perubahan. Jadi, keberhasilan pemberdayaan diukur dengan tingkat perubahan yang diciptakannya,” jelas Urbanus Ola.

Igo Halimaking, Ketua Umum AMMAPAI mengatakan, LKTM diselenggarakan untuk membekali generasi muda, terutama anggota AMMAPAI, tentang pengetahuan kepemimpinan.

“Generasi muda perlu dibekali dengan ilmu kepemimpinan. Sehingga, mereka kelak menjadi pemimpin yang siap memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan masyarakat, dan nantinya benar – benar menjadi kader yang produktif, visioner dan populis” ungkapnya.(*mkg)