Ketiadaan Obat di RSUD Flotim Diduga Permainan Dokter dan Apotek

Media Group: Zonalinenews-Larantuka,- Ketiadaan obat di RSUD Flotim diduga kuat adanya permainan dokter dengan apotek luar untuk mendapatkan keuntungan sampingan, hal ini disampaikan Bupati Flotim Yoseph Lagadoni Herin, Melalui Asisten satu Abdul Razak Jakra, kepada wartawan usai mengikuti rapat Banmus bersama DPRD Flotim di gedung DPRD Flotim Sabtu 14 Februari 2015 pukul 12.00 wita.

Asisten satu, flores timur abdul jakra

Asisten satu, flores timur abdul jakra

 

Dikatakanya, ketiadaan obat pada RSUD Flotim ini, bisa jadi adanya permainan dokter dengan apotek luar. Dalam rapat kerja dengan DPRD Flotim dikritisi oleh DPRD mengenai peran RSUD dalam pelayanannya kepada masyarakat. Sehingga pihak pemerintah sudah memanggil dokter untuk dimintai penjelasannya terkiat adanya ketiadaan obat di RSUD. “ Dari hasil pertemuan dengan dokter diketahui bahwa ada obat – obat tertentu yang tidak disiapkan oleh pihak RSUD, sehingga pihak RSUD mengeluarkan resep untuk membeli obat di luar apotek pembantu. Pertanyaannya, apa fungsi rumah sakit dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat? Ini, merupakan pekerjaan berat kami,”jelas Jakra.

Jakra melanjutkan , selama ini banyak ekspetasi masyarakat yang ditujukan masyarakat secara gradual, sehinga dengan persoalan yang dihadapi rumah sakit diharapkan dapat di atasi perlahan. Ketiadaan obat bukan hal baru terjadi di RSUD Flotim. suda berulang kali terjadi. “ Ada mekanisme dan sisitem pengadaan obat yang harus dilalui sebelumnya,” Katanya.

Ketika ditanya mengenai Peralatan operasi sejauh ini Menurut Jakra, pihaknya belum mengecek ke RSUD, sehingga sepulang dari DPRD , dirinya akan memanggil Direktur untuk mengecek kebenaran dan melapor ke Bupati, dan menunggu arahan dari bupati terkait persoalan ini.

Sementara itu, RSUD diduga sebagai tempat mesum Jakra membantah, “ hahaha, tidak ada seperti itu, sejauh saya sebagai asisten satu tidak ada hal- hal seperti itu, mungkin ini pandangan publik saja. Apa bila informasi ini benar maka harus dilakukan investigasi, karna ini mencemarkan nama baik Rumah sakit. Dan bila dari hasil investigasi internal ditemukan adanya indikasi seperti itu, maka ditindak lanjuti dengan aturan seorang pegawai Negeri Sipil,” tegas Jakra.

Untuk pengadaan alat kesehatan pada tahun 2009, “ setahu saya ada alkes yang di kembalikan ke pusat, karna tidak dapat dilaksanakan. Inforamsi ini disampaikan direktur rumah sakit. Tapi untuk lebih jelasnya, sayacek Direkut dulu”, jelas jakra.

Secara terpisah ketua DPRD Flores Timur, Yoseph Sani Betan, ketika dikonfirmasi pukul 13.00 wita Sabtu 13 Februari 2015 usai mengikuti pertemuan pembentukan pPropinsi flores menuturkan, lembaga DPRD Belum mengetahu secara pasti mengenai ketiadaan obat di RSUD, tapi dirinya mendengar info bahwa persedian obat tidak ada. Jika benar, persedian obat tidak ada bisa jadi adanya indikasi jenis obat tertentu yang tidak di persiapkan oleh rumah sakit, sehingga dokter mengeluarkan resep untuk membeli obat di luar.

Disamping katanya , pengaruh latar belakang pendidikan setiap dokter berbeda, sehingga diharapkan agar kedepannya rumah sakit bisa mengindetifikasi obat yang dibutukan agar proses pelayanan lebih baik.

Untuk iniformasi yang bergulir terkait adanya indikasi mesumnya para perawat, Betan menuturkan apabila itu benar maka. Perlu dilakukan investigasi sehingga sesuai dengan aturan kepegawain pemerintah memberikan sanksi tegas. Untuk Pengadaan alkes. “Pengadaan ini pada taun 2014, dan ada tahapan pemeriksaan secar a reguler yang melibatkan lembaga lainnya. Sehingga dalam pemeriksaan tidak ditemukan adanya kepincangan maka tidak ada persoalan terkait Pengadaan Alkes Rumah sakit ,” kata Betan. (*polce)