Membongkar Mafia BBM di Flotim

ZONA LINE NEWS, LARATUKA,- Polres Flores Timur kembali memanggil pemilik kapal Hikam Dua untuk diambil keterangan terkait terbakarnya kapal Hikam Dua dan syabandar. Pemilik kapal Nasir Ratuloli dan syabandar dipanggil polisi untuk diambil keterangan terkait terbakarnya kapal Hikam 2, kapal Nelayan dan mobil tanki. “Mereka d i periksa pada tanggal 23 Februati 2015 di ruangan penyidikan polres Flores Timur,” kata Kasubag Humas Polres Flotim, Maria Sarina Romakia didampingi kasat Reskrim Polres Flotim Anthonius Mengga kepada wartawan diruang kerjanya Selasa 24 Februari 2015 menuturkan, pemilik kapal Nasir Ratuloli  dan salah satu pejabat pada kantor  Syabandar sudah di ambil keterangan.

MOBIL TANKI MINYAK

MOBIL TANKI MINYAK

Sementara untuk pertamina Flores Timur akan dipanggil secepatnya. Berdasarkan data yang diperoleh pengangkutan minyak untuk Kabupaten Lembata pada 21 Februari 2015 atas permohonan 15  ton Bensin, 5 ton solar, dan 5 ton minyak tanah. Lanjut Erna Romakia, hari ini 24 Februari 2015 pertamina Jakarta akan diperiksa terkait SOP (Standra Opersional Pelayanan) pertamina. “Apakahpengangkutan dan pengisian minyak di perbolekan pada pelabuhan pelni.

 
“Pertamina jakarta yang diperiksa hari ini antara lain, Thomas,Cahyo, dan Reza. Untuk pertamina Jakarta materinya sekitar penyaluran BBM antar daerah. Dismping itu juga mencari tau apakah minyak dapat diisi dalam drom atau profil tank untuk didistribusikan antar pulau,” ungkapnya.

 
Dikatakan Erna, untuk pertamina Larantuka belum dipanggil, kebetulan pertamina dari Jakarta hari ini mendatangi polres, sehingga langsung diambil keterangan.keterangan yang disampaikan pelaksana harian syabandar Larantuka, Udin kepada wartawan bahwa permintaan pengangkutan minyak untuk Lembata  sebesar 25 ton minyak premium, tanpa minyak tanah 5 ton, dan 5 ton solar.  “Untuk permintaan pendistribusian menuju ke Lembata sebesar 25 ton jenis premium. Tidak ada solar dan minyak tanah”, tegas Udin.

 
Ketrangan berbedapun datang dari 2 saksi lainnya, sopir Tanki terbakar, Lukas Wungebelen dan Alosius Key  kepada penyidik saat diperiksa menuturkan, pengangkutan premium saat itu ada 16 ton, bukan 15 ton.

 
Secara terpisa Maksimus Kian Masan, Aktivis Muda Flotim yang dihubungi per telpon mengatakan” bagi kami kesimpangsiuran data dari pihak berwenang akan membuat kabur penyelesaian kasus yang ada. Masyarakat dibuat bingung dari satu  kasus ke kasus lainnya. Jika ada indikasi mafia BBM maka kami berharap pihak yang berwajib harus tegas dan cepat dalam menuntasan kasus ini dengan segera menetapkan tersangkanya,”ungkapnya.

 
Masan melanjutkan, Jika tidak kami sebagai masyarakat malah semakin tidak percaya dengan hukum ada di flotim, beserta pihak kepolisian yang lambat dalam proses penyelesaian kasus yang merugikan daerah ini.   Dengan adanya perbedaan data pengangkutan minyak untuk kabupate
Lembata, anggota DPRD Flotim, Mikhael Mike Hayon mengungkapkan kekesalnnya kepada pihak- pihak yang bertanggungjawab atas terbakarnya kapal Hikam Dua dan dugaan penyelundupan minyak.  “Dengan terbakarnya kapal Hikam Dua menjadi pintu masuk terkuaknya mafia penyelundupan minyak selama ini dibungkus rapi oleh Pertamina, Syabandar, dan pemilik kapal. Disinilah  terbokarnya  konspirasi  yang selama ini mengelabuhi mata masyarakat Fotim” Tutur Mike.

 
Lanjutnya lagi, dengan adanya perbedaan data yang diperoleh sangat Mengganggu pengiriman minyak ke pulau lain. Apalagi bisnis minyak di Flotim sangat menjanjikan, sangat disesalkan adanya permainan seperti ini. Dengan adanya perbedaan data menandakan bahwa lemahnya pengawasan
yang dilakukan pihak syabandar,”ujarnya.

 
Mikhel Hayon mempertanyakan bendera berwarna merah yang dipasang oleh syabandar. Sebenarnya bendera dipasang pada saat pengisian BBM, itu menandakan bahwa tidak ada aktifitas disekitar tempat yang dipasang bendaera. Bukan dipasang setelah adanya kejadian, sementara pihak kepolisian sudah memasang  police line. Pertanyaannya, untuk apa dipasang bender itu …? Memangnya sedang dilakukan pengisian minyak…. ?, “tanya Mikhel dengan nada heran. (*polce)