Oknum Anggota Polisi Ngada Briptu YL diduga Selingkuh

ZONALINENEWS, BAJAWA,-Wakil Kepala (Waka) Polisi Resort (Polres) Ngada Flores-Nusa Tenggara Timur, Kompol Athonius Sarengkelang dituding tidak menegakkan aturan sidang kode etik terhadap tindakan amoral seorang oknum Anggota Polisi Polres Ngada Briptu YL yang diduga berselingkuh hingga menikahi wanita lain lalu meninggalkan isteri bersama seorang anak perempuan darah dagingnya sendiri yang kini berusia sekitar sepuluh tahun.

Lusia Noge, Ibu kandung korban dan putri dari Briptu YL

Lusia Noge, Ibu kandung korban dan putri dari Briptu YL

“Kalau memang seorang polisi boleh menghamili dua perempuan dan polisi berhak untuk kawin bebas dimana-mana, sekarang juga silahkan kawin dengan dua wanita ini. Briptu YL Anggota Polres Ngada berpacaran dengan anak saya Tahun 2005 lalu. Pada Tahun 2006 mereka resmi menikah adat, tukar cincin dan nikah dinas. Tetapi setelah berjalan hubungan suami isteri bertahun-tahun hingga dikaruniai seorang putri yang saat ini berusia 10 th, pada suatu saat putrid saya yang adalah isteri dari Oknum Polisi Briptu YL memergoki Briptu YL berselingkuh dengan wanita lain diluar rumah. Wanita lain (wil) itu mengirim pesan singkat/sms kepada Briptu YL dan sms itu dibaca oleh putri saya yang adalah isteri sah Briptu YL. Bunyi sms itu begini ‘Kakak cepat datang’. Lalu Briptu YL membalas ‘Buka memang celana, nanti saya skor lewat pantat”. Putri saya sempat drop, sangat sakit hati dan tertekan atas peristiwa busuk ini. Selainitu mereka berdua juga sering bertengkar sebelum-sebelumnya. Atas semua kejadian buruk itu, putri saya mengambil sikap menolak untuk nikah Gereja karena suaminya tidak insaf dari perbuatan-perbuatan amoral seperti yang saya ceriterakan ini. Pernyataan putri saya dalam sidang kode etik di Polres Ngada selama ini yang mengatakan bahwa dia mau single parents, itu bukan karena dia menolak Briptu YL ataupun untuk memafkan oknum Briptu YL tetapi karena perilaku busuk oknum briptu YL sangat melukai hati. Buktinya jelas bahwa saat ini Briptu YL hidup bersama dengan wanita selingkuhannya itu sebagai isterinya dan sudah mempunyai anak dan merekea tinggal bersama. Mau bukti apalagi?. Ini kah moral Polri yang diajarkan kepada Anggota Polisi Briptu YL di Polres Ngada?”, geram Lusia Noge, Ibu kandung korban kepada media ini, Kamis 26 Februari 2015 di Bajawa Ngada.
Pasalnya, keluarga korban sangat tidak puas atas putusan sidang kode etik yang dipimpin lansung oleh Waka Polres Ngada Kompol Athonius Sarengkelang yang hanya menjatuhkan hukuman mutasi bagi oknum Briptu YL atas scandal tercela dan mencederai Korps Polri ini. Lusia Noge Ibu kandung korban menambahkan, pada sidang pertama dan sidang kedua keterangan dan judul persidangan dinyatakan sebagai sidang kode etik, lalu berikutnya pada sidang putusan dibacakan bahwa pelaku melanggar kode etik nomor 13 Peraturan Republik Indonesia Tahun 2003 dengan ancaman hukuman ‘diberhentikan dengan tidak hormat.  Berikutnya dibacakan juga Briptu YL melanggar Pasal 14 ayat f huruf b PP Nomor 1 Tahun 2003, ancaman hukuman diberhentikan dengan tidak hormat. Anehnya, lanjut dia, waktu membacakan putusan, fakta sidang kode etik Polres Ngada hanya menjatuhi putusan indisipliner yang secara terang benderang melawan point-point sidang kode etik sebelumnya. Dia menambahkan Perkap RI Nomor 14 mengatur bahwa yang sudah disidangkan melalui persidangan kode etik, mulai dari ayat ‘a sampai ayat ‘g, secara tegas mengatur pemberhentian dengan tidak hormat. Dia menyebut Waka Polres Ngada Kompol Athonius Sarengkelang sangat tidak tegas menerapkan aturan sidang kode etik terhadap oknum Briptu YL yang sudah nyata-nyata bersalah dan melakukan perbuatan tercela di hadapan masyarakat serta mencederai institusi Polri di negeri ini.

 

Waka Polres Ngada, Kompol Athonius Sarengkelang, kepada ini, Kamis 26 Februari 2015 di ruang kerja Waka mengatakan anak buahnya sudah menjalani sidang kode etik atas dugaan perbuatan tercelah tetapi berhubung Kapolres Ngada masih berada di luar daerah, maka pihak Polres Ngada belum bisa memberikan keterangan pers kepada wartawan. “Kami belum memberikan keterangan pers sebab Pa’ Kapolres selaku Pimpinan kami masih berada di luar daerah. Kami harus melakukan konsultasi dengan atasan dulu untuk menggelar keterangan pers kepada wartawan. Tetapi perlu diketahui bahwa sidang kode etik anggota polisi tidak dibuat untuk memenuhi kepuasan setiap orang karena persidangan tesebut sudah berjalan sesuai tata aturan yang berlaku. Kalau saya dikata tidak tegas oleh pihak keluarga korban, kira-kira tidak tegas yang mana?”, balik Waka Polres Ngada, Kompol Athonius Sarengkelang.
Atas persoalan ini keluarga korban mendesak Propam Polda Nusa Tenggara Timur ataupun Propam Mabes Polri mengambil alih kasus ini dan segera memeriksa para pihak atas dugaan konspirasi sidang kode etik yang diduga sarat konspirasi di Mapolres Ngada. Mereka menuding Waka Polres tidak tegas menjaga image Polri selaku Penegak Hukum terhadap oknum Briptu YL yang sudah nyata-nyata ditemukan bersalah dan melanggar rambu-rambu Anggota Satuan Polisi Republik Indonesia. Hal ini kata keluarga korban, memberikan ruang bebas kepada oknum-oknum anggota Polisi lainnya untuk bertindak sama dan bebas berselingkuh denghan wanita lain, mengorbankan anak dan isteri sendiri. (*wrn)