RSUD Flotim jadi Rumah Singgah “Sarang Korupsi”

MEDIA GROUP – LARANTUKA,- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Flores Timur (Flotim) beberapa bulan terhakir di jadikan para pasien atau orang sakit sebagai tempat persinggahan, pasalnya stock obat di RSUD habis sama sekali, sehingga keluarga pasien harus membeli obat di Apotek. Disamping itu juga selain kurangnya stok obat RSUD juga di jadikan sebagai tempat mesum para perawat. hal ini disampaikan oleh salah satu pegawai di RSUD yang tidak mau namanya di sebutkan, ketika awak media bertandang ke RSUD Minggu 08 Februari 2015.

antrian di apotek, karena persediaan obat tidak ada

antrian di apotek, karena persediaan obat tidak ada

Lanjut sumber tersebut, akibat ketiadaan obat di RSUD pihak keluarga harus membeli obat di luar. “ biasanya pagi hingga siang hari antrian yang cukup panjang diapotek depan RSUD. bila ada pasien yang membutuhkan perawatan serius tidak bisa di layani dengan baik karen pihak keluarga harus mengantri untuk membeli obat di apotek yang direkomendasikan oleh pihak RSUD” ungkap sumber tersebut.

Hal senada juga diungkapkan oleh keluarga pasien Agustinus Hayon salah satu keluarga pasien ketika ditemui Zonalinenews di apotek Minggu 08 Februari 2015 menuturkan, pihaknya sangat kecewa dengan manajemen RSUD Larantuka, yang tidak memperhatikan nasib para pasien dengan baik. “Keluarga kami yang menjalani operasi tidak bisa berjalan dengan baik, karena benang yang digunakan untuk menjahit luka korban tidak ada di RSUD, sehingga kami disuruh untuk membelinya di luar” ungkap Hayon dengan kecewa.

Lanjut Hayon, ia merasa RSUD seperti tempat persinggahan orang sakit, tidak ada harapan akan adanya penyembuhan.

“ Bukan Hanya itu , kuat dugaan dana sebesar Rp 9 Miliard yang di telep oleh oknum – oknum tertentu pada proyek pengadaan Alat kesehatan (Alkes) tahun 2009 lalu. Proyek tersebut digunakan untuk melengkapi ruangan Laboratorium, karena ada banyak kekurangan dalam hal ini peralatan kesehatan yang belum ada, sehingga dengan pengadaan tersebut di harapkan dapat menutupi kekurangan dimaksud, tetapi apa yang diharapkan itu tidak terjawab, “tutur sumber tersebut.

” Dari pagu dana Rp 9 miliard yang dialokasikan untuk melengkapi peralatan kesehatan hingga kini hanya sebatas menyenangkan hati perawat . kasus ini sedang di lidik pihak kejaksaan, Belum di ketahui sampai dimana penyelidikan dari pihak, kejaksaan” ungkap sumber tersebut yang juga mengetauhi dugaan adanya “kong kali kong” pada pengadaan alkes.

Sementara itu direktur RSUD Flores Timur, Emanuel Ileatan Lewar, S Kep,NS.MM ketika wartawan beberapa kali berkunjung ke kantornya, selalu menghindar ketikan ingin di konfermasi terkai t persoalan . Dirut melalu i stafnya selalu beralasan sibuk , jika wartawan ingin menemuinya untuk mengkormasi terkait persoalan tersebut. (*polce)