UKT Taekwondo Belu Diwarnai “Konflik”

ZONALINENEWS – ATAMBUA,- Ujian Kenaikan Tingkat Taekwondo Indonesia (UKT TI) Cabang Kabupaten Belu yang berlangsung di GOR LA Bone, Minggu 22 Februari pukul 10.00 Wita diwarnai dengan , konflik antara kepengurusan. Masalah ini merupakan imbas dari dualisme kepengurusan di tingkat provinsi.

Pengurus TI Belu duduk bersama selesaikan konflik

Pengurus TI Belu duduk bersama selesaikan konflik

Sebagai informasi, terdapat dua kepengurusan TI di Kabupaten Belu, yaitu Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) dan Yayasan Universal Taekwondo Indonesia (YUTI). PBTI Belu dipimpin oleh, Cyprianus Temu sedangkan YUTI belum jelas kepengurusannya tapi selentingan yang beredar, kepengurusan ini (YUTI) dikomandai oleh Jonas Bere Mau selaku senior TI.

Akibat konflik dualisme kepengurusan ini, pelaksanaan UKT TI bagi 91 peserta nyaris gagal. Beruntung masih ada ruang mediasi dan komunikasi di antara kedua kepngurusan ini sehingga UKT tetap dilanjutkan.

Ketua PBTI Belu Cyprianus Temu mengatakan persoalan dualisme kepengurusan TI sudah dimulai dari provinsi jadi upaya penyelesaiannya pun harus dilakukan di tingkat provinsi. Pasalnya, kepengurusan TI di tingkat kabupaten hanya melaksanakan perintah dari atas (pusat dan provinsi).

“Secara nasional, ada dua organisasi kepengurusan TI yang berbeda, yakni PBTI dan YUTI. Kepengurusan ini turun hingga kabupaten. Di Belu yang ada, itu PBTI. Dan, saya dipercayakan sebagai penanggung jawabnya sehingga kalau ada senior TI lainnya yang merasa harus urus TI, harus diselesaikan di tingkat provinsi,” kata Ketua Komisi I DPRD Belu ini.

“Ada tiga sabam (pelatih) dan dua dojang (pusat latihan/ranting) TI di Belu yang diakui oleh PBTI Provinsi NTT sehingga dojang lainnya merasa dipinggirkan. Makanya, kita berembuq dengan para sabam TI dari yang dianggap sebagai pengurus YUTI untuk samakan persepsi,” ungkap politisi PKPI ini.

Disebutkan Temu, ketiga dojang TI Belu yang diakui oleh PBTI Provinsi NTT di antaranya Dojang SMPN 2, Dojang BKKBN dan Dojang Lakafehan, sedangkan dojang lainnya belum diakui sehingga penyelesaian konflik antarkepengurusan itu mesti dilakukan di tingkat provinsi.

Jonas Bere Mau, salah seorang sabam TI yang dianggap sebagai pengurus YUTI meminta semua pengurus TI di tingkat kabupaten untuk meninggalkan egoisme kepengurusan dan kembali mengikuti aturan yang telah dibuat.

“Saya jamin tidak akan gugat kepengurusan TI yang baru (PBTI, ) karena saya mencintai TI. Tapi, perlu dijernihkan masalah kepengurusan TI di kabupaten ini. Soalnya, kami pengurus TI yang lama seakan-akan sudah tidak diakui lagi,” tandasnya.

Menurut Bere Mau, jika TI Belu ingin menciptakan atlet berprestasi, dualisme kepengurusan harus diselesaikan sehingga ada kesamaan persepsi dalam mengembangkan TI. Karenanya, pengurus TI yang baru harus berkoordinasi dengan pengurus TI di tingkat provinsi. (*Davidson)