Eks Pedagang Boubou Bajawa, Menangis Haru di Pasar Mataloko

ZONALINENEWS BAJAWA- Seorang Ibu pedagang sayur, buah-buahan, tomat serta bumbu dapur, Bernadetha Wona warga Desa Ubedolumolo Kabupaten Ngada Flores menangis haru saat berjumpa wartawan media ini di Pasar Mataloko, Sabtu 14 Maret 2015 sekitar pukul 12.00 wita. Deta Wona dikenal sebagai salah satu pedagang sayur dan buah-buahan di Pasar Boubou Bajawa spontan meneteskan air mata saat wartawan berpapasan dengannya dalam tugas peliputan kabar pasar di Mataloko Kecamatan Golewa Ngada. Deta Wona korban mati suri Pasar Boubou spontan menangis teteskan air mata haru karena dia tidak mampu menahan kesedihannya usai mengalami bangkrut setelah berjualan di Pasar Boubou Bajawa.

Pedagan Bernadetha Wona

Pedagan Bernadetha Wona

“Pa, ada liput apa disini? (derai air matanya mengalir basahi pipi Ibu paruh baya ini). Saya ini Ibu Deta Wona, Pa wartawan masih ingat?. Saya ini yang dulu pernah diliput wartawan di Bajawa waktu kami tolak pindah ke Pasar Boubou. Saya dulu menolak pindah ke Pasar Boubou tetapi akhirnya saya dukung lagi pemerintah dan mau dipindahkan ke Boubou. Kami pikir yang dikampanyekan pemerintah bahwa Pasar Boubou akan ramai kedepannya adalah benar, tetapi setelah kami berdagang lama disana, kami betul-betul hancur berantakan. Kami bangkrut dari waktu ke waktu. Modal simpanan pun tekor dipakai untuk beli barang dagangan tetapi hasilnya tidak laku karena sangat sepi pembeli. Banyak teman saya kini jatuh miskin. Mereka tidak bisa bangkit lagi karena kehabisan modal usaha.  Saya dan sebagian teman pedagang lainnya tetap berusaha dengan jalan pinjam modal di Bank, utang di Koperasi dan berutang di orang-orang yang rela pinjami kami uang walaupun mereka kasi dengan bunga tinggi. Tetapi dengan inipun kami masih bangkrut karena dagangan kami rusak tidak laku, tidak ada pembeli datang kesana,”keluh Wona.

Wona bertutur penuh air mata sedih atas nasibnya yang jatuh bangkrut setelah berjualan cukup lama di Pasar Boubou Bajawa. Ibu paruh baya ini seolah tidak menghiraukan hilir mudik keramaian Pasar Mataloko Golewa Kabupaten Ngada. Dia terus mencurahkan air mata atas penderitaan kerugian yang menimpanya hingga bangkrut dan baru mulai berusaha lagi dari titik nol. Dia terus menangis teteskan air mata, sesekali terdengar isak haru seolah tak kuasa menopang kakinya yang terus berdiri memegang sayur dan menawarkan dagangan kepada para pembeli di Pasar Mataloko Golewa Ngada guna memupuk lagi usaha yang dulunya sudah maju namun jatuh bangkrut setelah mencoba bertahan di Pasar Boubou Bajawa.

Ibu paruh paya ini terus meneteskan air mata sambil menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang hilir mudik di Pasar Mataloko. Disela tangisnya dia mengisahkan nasib yang jatuh drastis ditimpa kerugian. Sesekali dia menarik kerah bajunya menghapus air mata yang terus mengalir. Disekelilingnya berdiri sejumlah orang menatap heran melihat seorang Ibu pedagang teteskan air mata sambil berkeluh kesah kesusahannya. Suasana haru tak kuasa dipungkiri bagi siapapun yang melihat peristiwa sedih ini, Sabtu 14 Maret 2015 sekitar pkl.12.00 gang sayuran Pasar Mataloko Golewa Ngada. Bernadetha Wona terus mencurahkan air mata. Derai sedih dan tatap susahnya tak kuasa berhenti sambil melayani pembeli yang datang membelanjakan dagangan tomat, sayur dan lombok jualannya yang digelar diatas balai bambu seukuran 40 centi meter yang juga neben pada pedagang lainnya Vina Watu dengan biaya Rp.10.000  (sepuluh ribu rupiah)per hari atau per sekali hari Pasar Mataloko. Persaingan, perebutan tempat akibat kepadatan Pasar Mataloko ini kian mendera sengsara Ibu Bernadetha salah satu korban Pasar Boubou Bajawa yang mati suri pembeli.

Tidak sedikit pembeli dan penjual nampak keheranan melihat kejadian haru ini. Awak media pun terharu hingga meminta sejumlah orang jangan tontoni kejadian haru ini. Sebuah tangisan nurani dari seorang pedagang yang tengah berjuang mempertaruhkan hidupnya untuk pemenuhan ekonomi rumah tangga dan keluarga besarnya di rumah.

“Karena saya bangkrut modal waktu berjualan di Pasar Boubou Bajawa, pada bulan Mei Tahun 2014 lalu saya pindah mencari nafkah di daerah orang. Saya nekat berangkat ke Flores Barat Labuan Bajo dan berjualan sayur di Pasar Baru dan Pasar Batu Cermin. Disana saya berjualan sayur seperti profesi saya di Pasar Boubou Bajawa. Tidak lama berdagang disana, saya pulang lagi ke Bajawa. Tiba di Bajawa saya rintis lagi usaha dagang dengan cara jalan dari pasar ke pasar, mulai dari Pasar So’a sampai Pasar Mataloko ini. Saya juga mau beritahu bahwa uang kompensasi yang pemerintah kasi ke kami pedagang sebesar Rp.2.500.000 (Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) itu, saya memang dapat juga tetapi saya tidak menerima uangnya karena saya ada utang di Bank jadi uang itu langsung pemerintah potong untuk Bank. Banyak yang alami nasib seperti saya ini. Saya ingin pemerintah tau bahwa jangankan Rp.2.500.000 pemerintah bantu kami orang miskin, pemerintah bantu sampai Rp.50.000.000 juta per orang juga kalau paksa kami harus jualan di Pasar Boubou Bajawa, uang itu tidak akan berarti apa-apa. Lebih baik kami punya uang sendiri Rp.100.000 tetapi kalau Pasar Inpres Bajawa tidak ditutup, kami pastikan dari modal Rp.100.000 akan berkembang naik menjadi sepuluh juta dalam waktu yang tidak lama bahkan lebih. Saya dulunya pernah lawan pemerintah sampai ikut demo tolak pindah pasar, tetapi akhirnya saya terima lagi dan dukung lagi pemerintah. Siapa yang bisa melawan pemerintah, mereka segalanya dan mereka sudah tahu bahwa kami orang kecil ini biar melawan tetapi akhirnya pasti pasrah begitu saja,”ungkap Deta Wona.

Meski harus membangun ulang dari nol, Wona mengaku saat ini modal usahanya perlahan membaik sedikit demi sedikit. Menurut Wona, waktu berpindah ke Pasar Labuan Bajo, disana dia juga bertemu begitu banyak pedagang dari Pasar Boubou yang pindah kesana dan memulai usaha disana dari titik nol. Diakhir keluhnya Wona menyatakan tidak paham dengan kebijakan pemerintah menutup Pasar Inpres Bajawa lalu melarang pedagang berjualan keliling dalam kota Bajawa serta kebijakan warga dilarang berjualan di rumah-rumah dan pekarangan rumah.

“Kami berjualan di pekarangan rumah juga dilarang, berjualan sayur keliling kota juga dilarang, Pasar Inpres juga ditutup. Terus bilang lagi kalau Pasar Boubou sepih pembeli, itu bukan kesalahan pemerintah sekarang tetapi kesalahan pemerintahan sebelumnya yang membangun Pasar Boubou. Mengapa sudah tau itu salah tapi pemerintah yang baru saat ini mau ikut-ikutan salah”, tutup Wona

Kepada wartawan 14 Maret 2015, pedagang sayur Pasar Mataloko, Vina Watu mengaku balai-balai miliknya yang berukuran sangat kecil terpaksa berbagi dengan Bernadeta Wona yang dulunya berjualan di Pasar Boubou Bajawa. Karena tempatnya tidak besar, kata Vina, dia hanya memberi ruang sekitar 40 cm saja untuk Bernadetha Wona. Sementara biayanya sudah sama-sama sepakat Vina menarik biaya dari Bernadetha Wona sebesar Rp.10.000 (sepuluh ribu rupiah) per sekali pasar untuk ukuran berbagi balai-balai bambu 40cmnnya buat Wona, sisanya untuk Vina sendiri. “Mereka datang disini tapi kami disini pun susah tempat, ya dia harus bayar di saya Rp.10.000 untuk biaya sekali pakai biarpun ukurannya hanya sekecil itu. Pa lihat sendiri, dibaris depan ini dia taruh tomat, lombok, sayur dagangannya, saya hanya dapat barisan yang dibelakangnya, jadi saya minta bayar Rp.10.000 untuk satu hari pasar, ” Vina Watu. (*wrn)