Jalan Lewopulo Rusak Parah, DPRD Dianggap Buta Nurani

ZONA LINE NEWS, LARANTUKA- Ruas jalan Jalan Lewopulo sejak tahun 1982 silam hingga sekarang belum tersentuh pembangunan, padahal jalan yang menghubungkan 3 desa (desa Lewopulo, desa Balaweling, dan desa Balaweling Noten ) yang dianggap sebagai satu-satunya akses jalur darat dan penting buat masyarakat setempat sebagai petani mente, kopra dan pengrajin batu merah tidak diurus dengan baik. Hal ini sampaikan salah satu warga Lewopulo-Kecamatan Witihama, Usman Palan Aman kepada Asas News di kediamannya 10 Maret 2015.

Jalan alternatif

Jalan alternatif

Lanjutnya , akibat jalan yang rusak, para pengguna jalan juga malas untuk berpergian ke daerah lain. Parahnya lagi, musim penghujan melanda daerah ini jalanan menjadi becek dan sering terjadinya ke celakaan bagi pengendara.

Ia melanjutkan, akibat jalan yang rusak harga angkutan juga melonjak drastis dari harga normal Rp. 15.000 menjadi Rp. 50.000 hanya untuk bepergian ke wilayah kecamatan, sehingga memberatkan masyarakat setempat.

“sangat disayangkan sikap anggota DPRD wilayah daerah pemilihan ini yang selama ini hanya berjanji tanpa realisasi. Anggota DPRD diharapkan untuk tidak berjanji kosong kepada masyarakat. Sudah bosan dengan obral janji aggota DPRD,” tutur Aman.

Warga Dusun Loga ini menambahkan, kepentingan Anggota DPRD terlihat ketika usulan dari kecamatan Witihama diterima terkait proses pengerjaan jalan ini tapi diduga ada permainan di tingkat DPRD dalam pembahasan program sehingga muncul Nomenklatur baru pengerjaan jalan yang seharusnya dari wilayah kec. Wtihama – Kec. Klubagolit digantikan dari wilayah Kec. Klubagolit – Kec. Witihama.

“Kami protes, malah kami memilih merdeka daripada menerima sesuatu yang bukan kemauan kami. Ada kejanggalan di sini. Dan siapa yang terlibat? Iya Anggota Dewan pastinya. Masa usulan dari kecamatan Witihama kok tiba-tiba proses pengerjaannya dari wilayah Klubagolit?, ” imbuhnya.

 

Tidak adil pembagian

 

Aman juga mengkritisi soal pembagian komisi yang tidak merata dengan mencontohkan tiga perwakilan mereka yang tidak diakomodir dalam komisi B yang bermitra dengan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Flotim untuk menggoalkan kepentingan masyarakat setempat. Karena tidak ada keterwakilan mereka hingga sekarang kesulitan melakukan aktivitas padahal, daerah mereka dikenal sebagai pemasok hasil pertanian (mete, kopra) dan hasil bahan bangunan (batu merah).

Seperti yang disaksikan Zona Line News, ketika berkunjung ke daerah tersebut, badan jalan utama menuju desa Lewopulo dan sekitarnya masih dalam proses pengerasan sehingga tidak ada musim hujan seperti sekarang membuat badan jalan berlumpur dan berlubang, sehingga menyulitkan pengendara untuk lewat ke kawasan tersebut. Sejauh ini, pengerjaan jalan ini hanya bersumber dari swadaya masyarakat setempat dan warga asli yang berdomisili di luar daerah tersebut.

Salah satu tokoh pemuda asal Desa Lewopulo, Jeff Krisyanto ketika diminta pendapatnya membenarkan kondisi tersebut. “ Saking parahnya, warga terpaksa membuat jalan alternative baru untuk sampai ke jalan utama dengan melewati kebun milik warga sekitarnya. Walaupun sempit, dan susah tapi ini jalan ideal bagi kami untuk dapat menjangkau jalan utama, ”jelasnya.

Jeff menambahkan, bukan hal tyang mudah menggunakan jalan alternative ini, Pasalnya, tidak jarang pengunan jalan sering dimarahi pemilik kebun yang merasa kebunnya dirusakkan dengan bekas kendaraan yang lewat , terkadang pemilik kebun menyuruh pengunan jalan berbalik arah.

Lanjut Jeff, DPRD Flotim sekarang mungkin sudah buta mata, buta telinga, dan buta hatinya hingga tidak mendengar kelukesah kami. Seharusnya DPRD sebagai representasi masyarakat harus bertindak cepat, bukan duduk memikirkan jabatan dan kursi empuknya dan nurani menjadi buta. Sehingga sangat diharapkan respon dari DPRD dan pemerintah Flores Timur, tegas Jeff.(*Atakey)