JPIC Keuskupan Agung Ende Akan Segera Sikapi Pengaduan Pedagang Pasar di Bajawa

ZONALINENEWS-NGADA- Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Keuskupan Agung Ende atau JPIC (Commission for Justice, Peace and Integrity of Creation) melalui Ketua JPIC Keuskupan Agung Ende, Romo Eduardus Raja Para, Pr, Kamis 26 Maret 2015 bertempat di Pandopo Paroki Mater Boni Concili (MBC) Bajawa mengungkapkan, JPIC Keuskupan Agung Ende akan segera menyurati para pastor guna membicarakan bersama terkait input aspirasi para pedagang di Kota Bajawa Kabupaten Ngada Flores yang mengalami tekanan akibat praktek kebijakan pemindahan pedagang dari Pasar Inpres Bajawa ke Pasar Boubou serta beberapa catatan lainnya yang masih memiliki relevansi kuat dengan persoalan ini dan nasib para pedagang agar segera dapat menemukan pemecahan masalah atau jalan kaluar bersama dari para pihak di Kabupaten Ngada Flores.

Ketua JPIC Keuskupan Agung Ende, Romo Eduardus Raja Para, Pr

Ketua JPIC Keuskupan Agung Ende, Romo Eduardus Raja Para, Pr

“Ada banyak hal yang harus segera dibicarakan bersama dan kami akan ke DPRD melalui JPIC Keuskupan Agung Ende. Nanti kita minta tiga pihak  dihadirkan bersama-sama, dalam hal ini Pemerintah, DPRD dan Masyarakat untuk mencari titik temu atau jalan keluar yang terbaik atas tarik menariknya persoalan ini. Kami tidak punya kepentingan pragmatis dalam hal ini, tetapi sesungguhnya hal-hal seperti ini juga merupakan tugas bersama dan tugas Gereja mencarikan jalan keluar yang saat ini mulai nampak potensi konflik di depan mata,”tegas Ketua JPIC Keuskupan Agung Ende, Romo Eduardus Raja Para, Pr,

Dia menambahkan, para pihak ataupun rata-rata pedagang yang berada dalam lingkup masalah ini adalah umat Gereja, karenaitu JPIC Keuskupan Agung Ende tidak ingin bertindak seperti pemadam kebakaran yang terlambat membaca potensi ataupun gejala yang menimpa masyarakat dan kenyamanan bersama.

“Para pihak atau rata-rata pedagang itu adalah umat Gereja, mana mungkin mereka disana menderita lalu kita disini diam-diam menonton penderitaan mereka apalagi hal-hal seperti ini juga berkaitan dengan potensi konflik. Jadi sudah merupakan tugas Gereja juga untuk terlibat memperhatikan itu,”tambah Romo Edu yang juga sebagai Pastor Paroki Gereja Mater Boni Concili (MBC) Bajawa.

Menurut dia, kasus ini sudah mulai kelihatan adanya tanda-tanda konflik horisontal yang berbahaya dan mengancam kenyamanan ataupun kesejahteraan masyarakat. Jika tidak segera diatasi, lanjutnya, malah berpotensi merembes ataupun kian kompleks untuk dicarikan jalan keluarnya.Selaku Ketua JPIC Kesukupan Agung Ende, Romo Edu,Pr meminta pemerintah tidak melakukan tindakan-tindakan represif ataupun perampasan barang-barang dagangan milik para pedagang di Kota Bajawa.

Dia meminta para pihak menunjukan sikap rendah hati dan saling terbuka dalam berdialog menemukan pemecahan masalah yang jernih dan jujur demi kesejahteraan masyarakat di daerah.

Ketua JPIC Keuskupan Agung Ende ini juga berharap setiap lembaga publik harus lebih terbuka melayani masyarakat setiap waktu karena masyarakat membutuhkan lembaga publik yang telah disediakan oleh negara untuk melayani masyarakat. Peristiwa penutupan pintu gerbang kantor daerah di Kabupaten Ngada serta dijaga ketat oleh aparat keamanan sebagaimana kejadian tanggal 25 Maret 2015, kata dia, harusnya tidak perlu terjadi sebab peruntukan lembaga publik adalah untuk melayani masyarakat. (*wrn)