Kakek Tua, Penghuni Gubuk Tua, Yang Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

ZONALINENEWS- KUPANG,– Mendapat kehidupan yang layak dan perlakukan sama adalah hak semua warga negara yang mendiami bumi pertiwi ini , dan itu menjadi kewajiban negara yang harus dijalankan. Namun ironisnya, hal ini tidak dirasakan Paulus Sio (70), seorang kakek tua yang menghuni sebuah gubuk tua di RT 07, RW 02, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.

kakek dan Nenek tua yang menghuni sebuah gubuk tua di RT 07 RW 02 Kelurahan Lasiana

kakek dan Nenek tua yang menghuni sebuah gubuk tua di RT 07 RW 02 Kelurahan Lasiana

Rumah tua beratapkan daun gewang (lontar) berlantaikan tanah yang diapiti rumah-rumah mewah itu, hiduplah sepasang suami isteri dengan dua orang anak. melihat kondisi rumah yang seharusnya tidak pantas dihuni manusia itu apalagi terletak didalam Kota Kupang, rumah belum menggunakan listrik. Kondisi rumah itu bukan saja sudah reot tetapi sudah dalam posisi miring bila angin kencang datang, rumah ini pasti rubuh dan mungkin saja kakek tua serta isteri anaknya ikut tertimpa rumah.

Raut muka kakek tua itu kelihatan tegar seolah tidak merasakan bahaya yang kapan saja menimpa keluarganya. Mungkin juga karena sudah terbiasa dengan kehidupannya.

Ketika media ini mengunjungi rumahnya, Senin 16 maret 2015, dengan ramah kakek tua berbadan kurus itu keluar didampingi sang isteri, Mika Lete Sio (65) langsung membentang sebuah tikar dari daun lontar sebagai tempat duduk.

“Maaf ade, bapa tidak ada kursi jadi duduk di tikar saja,” ucap kakek tua dengan ramah.

Sambil duduk dan memperkenalkan diri kami pun mulai melakukan percakapan. Kakek tua itu menjelaskan, untuk membiayai hidup keluarganya sehari-hari, dirinya menjual tuak hasil sadapan dari pohon lontar. Bayangkan, seorang kakek tua masih mampu memanjat pohon lontar yang sangat tinggi.

Namun, untuk membiayai hidup keluarganya hanya dengan menjual tuak menurutnya tidak cukup. Olehnya, atas saran isterinya mereka rela meminjam uang di sebuah koperasi sebesar Rp. 500. 000. Awalnya, pihak koperasi tidak mau memberikan pinjaman. Mungkin karena melihat kondisi hidup mereka yang serba kekurangan. Namun, dirinya memberikan keyakinan bahwa setiap hari akan membayar bunga pinjaman. Akhirnya pihak koperasi memberikan pinjaman. Dari hasil pinjaman tersebut, uang itu dipakai isterinya membeli sayur-sayuran di pasar Oesapa untuk dijajakan kembali di depan rumahnya.

“Untungnya sedikit. Lumayan bisa beli beras sekilo dan bisa bayar bunga di koperasi,” ucap sang isteri.

Kakek itu pun menuturkan,beberapa waktu lalu rumahnya pernah dikunjungi pihak kelurahan. Kedatangan pihak kelurahan saat itu menurutnya, hendak memberikan bantuan. Bahkan, dirinya sebagai kategori keluarga miskin pernah diundang untuk mengikuti rapat di kantor lurah. Namun, hingga saat ini bantuan yang dijanjikan itu tidak pernahterealisasi.

 

“Mereka (pegawai kelurahan) datang foto-foto rumah, katanya mereka mau kasih bantuan. Mereka juga datang undang ikut rapat di kantor lurah dan janji mau kasih sumbangan tetapi sampai sekarang saya tidak pernah dapat,” ujarnya dengan nada sedih.

Ketika media ini hendak pamit, kakek tua itu kembali berpesan agar nasib hidupnya ini diceritakan ke orang-orang kaya yang masih memiliki hati. (*amar)