Kasus Amoral Anggota Polres Ngada YL di Laporkan Ke Polda

Zonalinenews BAJAWA,- Diberitakan sebelumnya Kompol Athonius Sarengkelang dituding tidak tegas terapkan kode etik atas tindakan amoral Anggota Polisi Polres Ngada Briptu YL yang yang diduga berselingkuh, nikahi wanita lain (wil) dan meninggalkan isteri bersama seorang anak perempuan darah dagingnya sendiri. Merasa tidak puas dengan putusan sidang kode etik Polres Ngada yang dipimpin Waka Polres Ngada Kompol Athonius Sarengkelang, isteri pertama Briptu YL selaku korban didampingi ibu kandungnya Lusia Noge mengadukan perkara ke Polda Nusa Tenggara Timur di Kupang.

ibu kandung korban, Lusia Noge

ibu kandung korban, Lusia Noge

Dalam keterangan pers kepada wartawan di Bajawa, 8 Maret 2015, ibu kandung korban, Lusia Noge mengungkapkan pihaknya terpaksa menempuh upaya hukum ke Polda Nusa Tenggara Timur di Kupang.

“Kasus amoral Briptu Yanto Ly yang terbukti bertahun-tahun menelantarkan isteri bersama putri semata wayangnya lalu hidup bersama wanita lain (wil) hingga diduga mendapatkan anak hasil hubungan gelapnya, terpaksa kami laporkan langsung ke Polda NTT di Kupang, 3 Maret 2015 dan bertemu langsung Waka Polda NTT  Kombes Pol Sumartono Jochanan di ruang kerja Wakanya. Pa Waka Polda beri kesempatan kepada kami menceriterakan proses sidang kode etik perkara di Mapolres Ngada. Pada kesempata itu Pa Waka Polda mengatakan Polda NTT tidak berkompromi terhadap kasus-kasus amoral, perselingkuhan Anggota Polri yang terbukti bersalah,”ungkap Lusia.

Lusia berharap ketegasan Polda NTT melalui Waka Polda Kombes Pol Sumartono Jochanan terhadap perkara perselingkuhanAnggota Polri dapat dijadikan semangat bersama dalam menegakan martabat polisi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat. Pasalnya, tidak jarang keharuman martabat Polri menuai citra buruk di tengah masyarakat akibat perilaku perselingkuhan ataupun mentalitas oknum anggota Polri di tengah-tengah masyarakat.

Berdasarkan copyan surat yang diterima media ini 8 Maret 2015, keluarga korban dan mantan isteri pertama Briptu YL atau korban ‘EBM’ secara resmi menyurati Kapolres Ngada tembusan Kapolri, Irwasum Polri di Jakarta, Kadivikum Polri di Jakarta, Kapolda NTT, Waka Polda NTT, Irwasda Polda NTT, Karo SDM Polda NTT, Kabidkum Polda NTT, Kabid Propam Polda NTT, Komnas HAM Jakarta, Kompolnas Jakarta, Ombusman Jakarta, Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak Jakarta, Ketua Perlindungan Perempuan dan Anak di Kupang, media/pers menuntut pemecatan Briptu YL dari statusnya sebagai Anggota Polri

Surat dengan nomor : 03/P/II/2015, Perihal : Nota Keberatan terhadap Putusan Kode Etik Polri atas nama Briptu Yanto Ly Anggota Polres Ngada, menulis Sidang Kode Etik yang dipimpin Waka Polres Ngada didampingi majelis sidang Kabag Ren dan Kabag Sumda bersama perangkat lainnya telah menghasilkan keputusan yang tidak adil bagi masyarakat dalam hal ini bagi korban

Digambarkan dalam surat tersebut, Tahun 2005 Briptu YL (pelaku) menyampaikan kepada keluarga korban bahwa statusnya berpacaran dengan EBM (korban) yang saat itu masih kuliah di Kota Malang. Tahun 2006 pelaku melamar korban disaksikan keluarga besar pelaku dengan melibatkan juru bicara Kapolsek Golewa yang saat ini menjabat sebagai Kabag Ren Polres Ngada. Setelah itu keduanya mulai bersama-sama namun lambat laun diketahui Briptu YL bertingkah nakal, diduga suka mempermainkan wanita.

Atas tragedy buruk ini, Tahun 2008 korban EBM memutuskan melanjutkan Kuliah Akta Empat di kota Jogja. Diuraikan dalam isi surat itu, korban mengambil keputusan seperti ini usai mengalami perlakuan kekerasan ditarik secara kasar oleh Briptu YL di tengah kampung halamannya yang disaksikan oleh Ayah bersama Ibu serta Kakak kandung korban EBM.

Dalam surat Briptu YL juga pernah menipu korban dan keluarga besar korban lewat saat izin cuti dengan alasan menjenguk orangtuanya yang sedang sakit namun setelah itu diketahui Briptu YL ternyata terbang ke Jakarta guna menemui wanita lain atau perempuan simpanannya di Jakarta. Aksi nakal oknum Briptu YL, dituliskan masih berlanjut. Dikisahkan, setelah cukup lama menjalin hubungan dekat dengan korban, pada tahun 2009 korban EBM akhirnya berbadan dua. Ironisnya, saat mengetahui isterinya hamil Briptu YL malah menyangkal bahkan menuding kehamilan isterinya bukan dengan dirinya. Tudingan ini terbantahkan ketika keluarga korban mengantarkan korban didampingi Polwan Profos Roslyn Ngula ke pihak medis lalu mendapat kepastian berdasarkan hasil perhitungan masa kehamilan saat itu, sangat tepat dengan perhitungan kalender terakhir dimana Briptu YL dan korban EBM menjalin kedekatan suami isteri. Atas informasi medis ini Briptu YL bukannya berterimakasih karena mendapatkan buah kasihnya bersama korban EBM, namun sebaliknya menyumpah bakal bayi yang ada dalam kandungan isterinya (korban) EBM.

Penderitaan korban kian diperparah dimana suatu waktu korban EBM menemukan sebuah pesan singkat (sms) masuk di nomopr handpone Briptu YL. Wanita lain (wil) mengirim pesan singkat/sms kepada Briptu YL yang secara tidak sengaja dibaca oleh korban ‘EBM. Bunyi sms tersebut ‘Kakak cepat datang’. Lalu Briptu YL membalas ‘Buka memang celana, nanti saya skor lewat pantat”. Atas kejadian buruk ini korban dan keluarganya mencari Briptu YL dan ‘wil-nya menanyakan dugaan perselingkuhannamun keduanya mengaku hanya pertemanan biasa atau tidak ada hubungan khusus apapun. Akhirnya kebohongan Briptu YL akhirnya terbongkar dengan hidup serumah bersama wanita selingkuhan

Dikisahkan dalam kronologi surat, pada masa kepemimpinan Polres Ngada dipimpin oleh Kapolres AKBP Daniel Yudo perkara Briptu YL menyangkal darah dagingnya sendiri. Kapolres AKBP Daniel Yudo merekomendasikan Test DNA terhadap sang anak yang disangkal Briptu YL. Rekomendasi Kapolres Ngada AKBP Daniel Yudo Ruhoro untuk melakukan Test DNA disambut baik oleh pihak korban termasuk dan sang anak (darah daging Briptu YL) serta pihak keluarga. (*wrn)