Kejari Waingapu Tetapkan Pelaksana Proyek Sebagai TSK

ZONALINENEWS-KUPANG,– Kejaksaan Negeri (Kejari) Waingapu Kabupaten Sumba Timur yang menyilidiki kasus dugaan korupsi proyek pembangunan pemeliharaan jalan tersebar tahun anggaran 2013-2014 senilai Rp 2 miliar, akhirnya menetapkan Markus Tadu, pelaksana proyek menjadi tersangka (tsk).

M Nur Eka

M Nur Eka

Kasi Pidsus Kejari Waingapu, M. Nur Eka kepada wartawan, Selasa 10 Maret 2015 mengatakan sesuai hasil peilidikan yang dilakukan tim penyidik Kejari Waingapu dalam kasus dugaan korupsi pemelirahaan jalan tersebar di kabupaten Sumba Timur, tim penyidik akhirnya menetapkan Markus Tadu, pelaksana proyek sebagai tersangka (tsk).

Dijelaskan Eka, dalam kasus dugaan korupsi pemeliharaan jalan tersebar di kabupaten Sumba Timur untuk tahun anggaran 2013-2014 senilai Rp 2 miliar, tim penyidik menilai Markus Tadu yang bertanggungjawab atas kegagalan proyek itu dan layak menjadi tsk. “Dalam proyek pemeliharaan jalan tersebar tahun 2013-2014 senilai Rp 2 miliar di Kabupaten Sumba Timur, Markus Tadu, pelaksana proyek ditetapkan sebagai tersangka, “ katanya.

Menurut Eka, proyek jalan pemeliharaan jalan tersebar di Kabupaten Sumba Timur itu, terbagi menjadi dua. Dimana untuk tahun 2013 senilai Rp 1 miliar dan untuk tahun 2014 senilai Rp 1 miliar. Sehingga untuk dua tahun anggaran itu menjadi 2 miliar.

Penetapan Markus Tadu sebagai tersangka, lanjutnya, oleh tim penyidik Kejari Waingapu dilakukan pada, Jumat (6/3) lalu. Dalam kasus dugaan korupsi pemeliharaan jalan tersebar itu terdapat kekurangan volume dan kualitas yang tidak sesuai dengan kontrak.

Dikatakan Eka, dalam kasus dugaan korupsi pemeliahraan jalan tersebar tahun anggaran 2013-2014 di kabupaten Sumba Timur, untuk sementara Negara mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai 300-800 juta. Namun itu untuk sementara, karena belum ada perhitungan kerugian Negara dari BPKP NTT. Itu hanya berdasarkan estimasi Kejari Waingapu.

“Surat permohonan perhitungan kerugian Negara ke BPKP NTT untuk kasus itu sudah dikirim pekan lalu. Sementara kerugiannya dari 300-800 juta itupun hanya berdasarkan estimasi Kejari Waingapu, “ ungkap Eka. (*VYENA)