Luapan Lumpur Panas Daratei Mataloko Mulai Rambah Badan Jalan

ZONALINENEWS-BAJAWA-Luapan lumpur panas Daratei di wilayah Ulubelu Mataloko Kelurahan Todabelu Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Flores perlahan merambah badan jalan. Makin hari semburan lumpur panas di wilayah ini semakin meningkat hingga merambah ke area pertanian warga. Titik luapan lumpur yang semula hanya dua poros luapan awal, kini terus bertambah dengan munculnya belasan titik baru di kawasan pertanian warga berukuran diameter luapan jauh lebih besar dari dua poros semburan pertama.

NGADA LUAPAN LUMPUR PANAS MATALOKO MULAI RAMBAH BADAN JALAN

NGADA LUAPAN LUMPUR PANAS MATALOKO MULAI RAMBAH BADAN JALAN

Pantauan media ini 13 Maret 2013, bencana lumpur di wilayah ini belum mendapat penanganan serius dari berbagai pihak, malah sebaliknya dibiarkan begitu saja tanpa penanganan lapangan. Sementaraitu upaya media ini menemui sejumlah pihak guna  mendapatkan penjelasan terkait penanganan selalu mengalami kesulitan tidak dapat menemui. Dua poros luapan awal yang mengapiti badan jalan lalu lintas warga terus menyemburkan luapan lumpur beserta belerang dan mengalir merambah badan jalan yang digunakan warga sekitar sebagai akses jalan menuju kebun-kebun mereka serta dipakai sebagai akses jalan utama yang menghubungkan kampung Wogo dan Kampung Pomamana di sebelahnya.

Poros Luapan pertama

Poros Luapan pertama

Sejumlah warga yang mendiami kampung Pomamana, kampung Wogo, kampung Gizi Liba, Mataloko, kampung Ulubelu mengaku cemas atas peningkatan luapan lumpur yang terus bertambah dari waktu ke waktu dan kini perlahan merambah badan jalan. “Sudah bertahun-tahun luapan lumpur disini dibiarkan begitu saja. Kalau tetap dibiarkan seperti ini kami takut kampung-kampung sekitar sini lama kelamaan habis jika sewaktu-waktu muncul luapan baru di tengah-tengah pemukiman warga. Kami juga lihat di sebelah bawah kampung Turetogo sebelah kalinya sudah ada tanda-tanda akan muncul luapan baru. Kondisi tanah di daerah itu kelihatan kehitam-hitamaman seperti terbakar lalu muncul bau-bau belerang dari dalam tanah dengan bunyi-bunyi seperti air mendidih di dalam tanah. Jujur saja kami merasa susah karena bencana lumpur yang besar seperti ini dibiarkan begitu saja tanpa penanganan serius dari mereka yang lebih mengerti bencana seperti ini,”ungkap Aloysius Menge, Warga Ulubelu saat bertemu wartawan di lokasi bencana luapan lumpur Daratei Mataloko Kabupaten Ngada.

Warga di sekitar lokasi bencana lumpur mengaku seng-seng atap rumah warga radius 1 sampai 2 km darih semburan Lumpur tidak bertahan lama. Pasalnya daya tahan seng atap rumah di daerah ini hanya mampu bertahan maksimal dua sampai tiga tahun. “Banyak atap rumah seng di daerah sekitar sini, daerah kampung Wogo, Ulubelu, Turetogo, Pomamana, Gizi Liba sampai Mataloko hanya mampu bertahan paling lama dua atau tiga tahun lalu berkarat dan rusak, bolong-bolong. Terlebih seng-seng atap rumah di Kampung Wogo, Pomamana, Turetogo, Ulubelu, tidak hanya berkarat tetapi berlubang dan keropos. Kami coba ganti dengan seng baru tetapi sama saja, hanya bertahan dua tahun rusak lagi,”kata Moses yang kini berusia sekitar tujuh puluhan tahun warga Ulubelu Golewa.

Pantaun wartawan saat menyisir kawasan pertanian bagian selatan kampung Turetogo menemukan belasan titik baru terus berkembang diantara hamparan lahan-lahan pertanian warga. Tidak sedikit kesaksian warga kampung Turetogo menyatakan mereka sering mendengar bunyi gemuruh dan ledakan yang berasal dari dalam tanah terdengar pada malam hari lalu keesokan harinya mereka menemukan munculnya luapan-luapan  baru di tengah lahan pertanian warga. Saat ini sedikitnya tiga hektar lahan pertanian warga tidak bisa digarap maksimal akibat belasan titik luapan baru muncul di area pertanian itu.

Warga berharap bencana lumpur segera ditangani para ahli dan pemerintah pusat bersama pemerintah daerah karena sudah lebih dari lima tahun bencana luapan lumpur ini dibiarkan begitu saja tanpa ada upaya penanganan serius dari pihak-pihak terkait baik oleh pemerintah daerah maupun penanganan langsung dari pemerintah pusat. (*wrn)