“Mama Sayang” Deklarasikan Forum Ketahanan Bencana

ZONA LINE NEWS, LARANTUKA- Sebanyak 12 Kelompok Perempuan Kepala Keluarga “Mama Sayang Lamaholot”, Jumat 6 Maret 2015 pukul 09.00 wita, mendeklarasikan pembentukan Forum Mama Sayang ketahanan resiko bencana yang terangkum dalam “Rumah Selamat”. Deklarasi pembentukan forum yang diprakarsai dan difasilitasi Delegasi Sosial (Delsos) Keuskupan Larantuka bersama mitra Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) , merupakan tindaklanjut refleksi dan inspirasi mendalam perlunya sebuah wadah yang memayungi dan mampu memberi kepastian dalam perjuangan hidup para perempuan kepala keluarga Mama Sayang.

Deklarasi ina sayang

Deklarasi ina sayang

Disaksikan Zona Line News, Jumat 6 Maret 2015 pukul 09.00 wita , kegiatan deklarasi Forum Mama Sayang se Lamaholot mengenai ketahanan resiko bencana berlangsung di aula kegiatan Delsos Keuskupan Larantuka, Weri, Kelurahan Weri, Kecamatan Larantuka. Empat perempuan kelompok perempuan kepala keluarga Mama Sayang, yakni Maria Goreti Barek Welan, Martina Hadung Hurit, Imelda Jawa Liwun dan Agustina Servika P. Liwun, tampil mewakili yang lain. Mereka membacakan naskah deklarasi pembentukan forum.

Forum Mama Sayang dalam deklarasi tersebut menyatakan, setelah mengalami pendampingan dari Delsos Keuskupan Larantuka melalui Program Tongkat Musa, kelompok perempuan kepala keluarga mama sayang telah mengalami perubahan positif dan menikmati banyak manfaat yang tidak hanya dialami melainkan berdampak perubahan dan manfaat bagi masyarakat banyak, terutama berkaitan ketahanan pangan dan finansial dalam menghadapi resiko bencana.

Forum Mama Sayang menyatakan, bahwa keberadaannya diterima oleh masyarakat dan pemerintah desa, maka Mama Sayang tetap berjuang untuk menjadi bagian integral masyarakat desa dan menjadi kelompok potensial yang partisipatif dalam ‘desa membangun’ menyongsong pelaksanaan UU Desa.

“Agar kelompok Mama Sayang dapat semakin berdaya dan kian memberi kontribusi bagi pembangunan masyarakat, maka kami bersepakat dan menyatakan bahwa hari ini tanggal 6 Maret 2015, telah terbentuk Forum Mama Sayang Kabupaten Flotim,” kata Forum Mama Sayang dalam deklarasinya”.

Koordinator Program dari Delsos Keuskupan Larantuka Benediktus Bedil, mengawali pembukaan deklarasi forum, mengatakan deklarasi pembentukan forum tersebut merupakan langkah tindaklanjut pertemuan multipihak pada 30 Januari 2015. Lalu Delsos memfasilitasi kegiatan Lokakarya Pembentukan Ruma Selamat (Forum Mama Sayang Se-Lamaholot) dan Pemasaran Bersama yang dilaksanakan selama 2 hari, yakni Rabu dan Kamis (4-5/3) di Delsos.

“Mama Sayang Lamaholot memiliki produk-produk potensial untuk dipasarkan. Produk-produk itu perlu dipasarkan secara baik dan bersama. Keberadaan mereka mendapat tanggapan positif. Mereka mitra yang dapat mensukseskan program pembangunan pemerintah Kabupaten Flotim. Mereka sepakat membentuk Forum Mama Sayang,” katanya.

Ben Bedil mengatakan kelompok Mama Sayang membentuk kelompok dan mulai dengan iuran kelompok, usaha-usaha produktif, simpan pinjam, hingga kelompok yang telah mengakses dananua ke LKM Breung dan Kopdit Sinar Saron. Mereka membangun “Ebang”, lumbung tradisional berfungsi ganda. Selain menyimpan panen, juga menjadi tempat berkumpul dan bermusyarwarah. Mereka menghidupkan kembali kertajinan ayaman, melestarikan tenun ikat dan begitu banyak produk hasil olahan Mama Sayang.

Pendamping Program Kelompok Mama Sayang Flotim, Bernad Tukan, pada kesempatan sebelum deklarasi itu mengatakan kelompok Mama Sayang telah menorehkan sebuah kisah kehidupan. Dengan latar belakang budaya Lamaholot yang patriarki, Kelompok Mama Sayang telah tampil sebagai pelaku kisah dengan sejumlah nilai yang menggerakan mereka bersikap dan berprilaku secara tertentu. Kelompok Mama Sayang telah melaksanakan sejumlah program dan kegiatan, mengalami perubahan dan memperoleh banyak manfaat.

“Kisah kelompok Mama Sayang tersebut dapat menjadi inspirasi bagi semua. Mama Sayang telah membebaskan perempuan janda, solo parents dan single parents, daru aneka tekanan hidup. Beban ekonomi sepeninggalan suami memaksa mereka harus keluar rumah mengais rejeki. Kondisi ini membuat mama-mama janda, ibarat sudah jatuh tertimpah tangga lagi. Kehadiran kelompok Mama Sayang lalu disikapi sebagai berkat yang perlu disyukuri,” katanya.

Ben Tukan mengatakan ketangguhan dan ketahanan perempuan kepala keluarga Mama Sayang telah membuka ruang dan memberi peluang bagi perempuan Lamaholot untuk menghidupi spiritualitas perempuan legendaris “Tonu Wujo”. Wanita ini telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan konunitasnya dari ancaman bencana kelaparan. Ia (Tonu Wujo) merelakan dirinya dipenggal dan dicincang, kemudian dihamburkan di ladang agar tumbuh kehidupan.

“Dengan mengupayakan ketahanan pangan melalui pengelolaan pertanian dan ketahanan pendapatan melalui usaha-usaha ekonomi produktif dan pengelolaan keuangan, mama-mama janda ini sedang bergerak pada upaya pengurangan resiko bencana, utamanya kelaparan dan kelangkaan pangan akibat gagal panen, kemarau panjang dan kekeringan, serta kebakaran hutan. Kita boleh bermimpi mereka yang tidak diperhitungkan ini kelak dapat tampil menyelamatkan komunitas dengan mengurangi resiko bencana. Rela berkorban demi menyelamatkan kehidupan harus menjadi keutamaan perempuan dalam masyarakat Lamaholot,” katanya.

Direktur Delsos Keuskupan Larantuka, Romo Marianus Welan, Pr, mengatakan, pertemuan ini merupakan lanjutan dari pertemuan sebelumnya yang menginspirasi hadirnya semua forum yang memayungi kehidupan perempuan kepala keluarga Mama Sayang. Wadah ini diharapkan bisa memberikan kepastian dalam perjuangan kehidupan Kelompok Mama Sayang.

Sementara itu, Wakil Ketua Tim Penggerak PPK Kabupaten Flotim Ny. Agnes Ina Deren-Tukan, pada kesempatan itu memberi apresiasi pada Delsos Keuskupan Larantuka dan Kelompok Mama Sayang Lamaholot atas terbentuknya Forum Mama Sayang Kabupaten Flotim. Ia juga memberikan motivasi dan dukungan kelompok dan pemasaran produk hasil kerja Forum Mama Sayang Flotim.

 

Hadir pada kesempatan deklarasi, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Flotim Ny. Agnes Ina Deran-Tukan, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Flotim Frederik S. Billi, Sekretaris BPBD Flotim Milkhael S. Wungubelen, staf Badan Pemberdayaan Perempuan Flotim Sisilia M. Muda, staf Dinas Pertanian dan Peternakan Flotim Margaretha M.M. Limahekin, staf BPMD Flotim Oktovianus Laku, Forum Resiko Bencana (FRB) Hironima H. Waton, Forum KKDAD Yohana Lamuri,  dan Fasilitator Veronika Lamahoda.(L1)