Menperin Saleh Husin: Industri Makanan Kita Bukan Jago Kandang

Zonalinenews-Gresik,- Ekspor produk makanan minuman meningkat dari tahun 2013 sebesar USD 5,38 miliar dan tahun 2014 menjadi USD 5,51 miliar. Sebaliknya, impor turun.

Menperin Saleh Husin melakukan kunjungan ke unit pabrik biskuit GarudaFood Group di Gresik

Menperin Saleh Husin melakukan kunjungan ke unit pabrik biskuit GarudaFood Group di Gresik

Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin optimistis industri makanan dan minuman nasional memiliki daya saing kuat. Termasuk ketika Indonesia memasuki Masyarakat Ekonomi Asean mulai akhir 2015.

Hal itu diungkapkan Menperin usai melakukan kunjungan ke unit pabrik biskuit GarudaFood Group di Gresik. “Kekuatan industri makanan minuman kita bukan hanya karena ditopang pasar domestik tapi juga karena kemampuan kita yang sudah mengekspor. Kita bukan jago kandang,” kata Menperin Saleh Husin di pabrik biskuit GarudaFood Group, Gresik, Jatim, Jumat 27 Maret 2015.

Keyakinan itu disokong kinerja ekspor yang meningkat. Jika pada 2013 tercatat sebesar USD 5,38 miliar maka pada tahun 2014 menguat menjadi USD 5,51 miliar.

Sebaliknya, nilai impor produk makanan minuman justru menurun dari USD 5,80 miliar menjadi USD 5,76 miliar.

Kinerja investasi industri makanan dan minuman juga menggembirakan. Nilai investasi PMDN pada tahun 2014 mencapai Rp 19,59 triliun meningkat dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 15,08%. Demikian pula nilai investasi PMA, pada tahun 2013 sebesar USD 2,12 miliar meningkat menjadi USD 3,14 miliar.

Industri ini, lanjut Menperin, juga berperan penting dalam meningkatkan nilai tambah produk primer hasil pertanian, sebagai penggerak utama ekonomi di berbagai wilayah di Indonesia dan mendorong tumbuhnya industri-industri lainnya.

Berdasarkan data BPS, kontribusi Industri Makanan dan Minuman (termasuk tembakau) terhadap PDB industri non-migas pada tahun 2014 sebesar 30%. Sedangkan laju pertumbuhan kumulatif Industri Makanan dan Minuman selama 3 (tiga) tahun dari tahun 2012, 2013 dan 2014 cenderung meningkat berfluktuasi berturut-turut sebesar 10,33%, 4,07% dan 9,54%.

Disisi lain, Menperin juga realistis. Prospek industri makanan dibayangi permasalahan antara lain kekurangan bahan baku, infrastruktur yang terbatas, kurangnya pasokan listrik dan gas, dan suku bunga yang tinggi untuk investasi.

“Untuk itu, Kementerian Perindustrian selalu melakukan koordinasi dengan stakeholders dan juga kementerian lainnya. Misalnya, perbaikan di bidang iklim usaha baik fiskal maupun non-fiskal,” ujar dia.

Perbaikan itu antara lain penyediaan bahan baku dari lokal, penyediaan bunga bank yang bersaing, dan insentif perpajakan untuk investasi. Selain itu peningkatan infrastruktur, penyediaan listrik dan gas yang mencukupi, sistem pelayanan perizinan dan non perizinan satu pintu dan kebijakan lainnya yang dapat mempercepat pengembangan sektor industri.

Senada dengan Menperin Saleh Husin, manajemen GarudaFood sendiri juga memastikan bakal memperkuat ekspansi. Langkah itu meliputi jangkauan pemasaran dan investasi.

“Tahun ini, kami sudah menyiapkan investasi sebesar Rp 550 miliar rupiah untuk pabrik dan mesin baru. Kami juga mengekspor produk ke luar negeri seperti Thailand dan Filipina,” Presiden Komisaris GarudaFood, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti pada kesempatan yang sama. (*tim)