Penertiban Pasar Inpres 17 Maret, Pemda Ngada Libatkan Tim Gabungan TNI,Polri

ZONALINENEWS BAJAWA- Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada melalui Asisten II Daerah Hironimus Watu 17 Maret 2015 menyatakan Pasar Inpres Bajawa sudah ditutup oleh pemda atas instruksi kepala daerah. Menurutnya penertiban yang dilakukan oleh dalam rangka penataan kota, sedangkan kedudukan Pasar Inpres Bajawa sudah ditutup oleh Pemda atau hanya menyisahkan sebutan eks Pasar Inpres. “Penertiban kali dilakukan dengan menyertakan Tim TNI ,Polri dan Pol PP. Agenda dilakukan dalam kaitannya dengan penataan dan Pasar Inpres Bajawa sudah ditutup hanya bisa disebut eks Pasar Inpres, bukan Pasar Inpres lagi, penertiban tanggal 17 Maret 2015 adalah atas perintah Wakil Bupati Ngada, ”tegas Asisten II Ngada, Hironimus Watu.

Tim Gabungan TNI, Polri dan Sat Pol PP  mengamankan Pasar Inpres Bajawa 17 Maret 2015

Tim Gabungan TNI, Polri dan Sat Pol PP mengamankan Pasar Inpres Bajawa 17 Maret 2015

Ketika ditanya wartawan media ini terkait rencana lanjutan tempat Pasar Inpres, Asisten II Pemda Ngada, Hironimus Watu tidak mengurai, hanya menyatakan bahwa saat ini masih dalam pembahasan Pemerintah Daerah. Menurut dia Pemerintah Daerah mengakui Pasar Boubou sepi pembeli dan kurangnya minat pembeli berkunjung ke Pasar Boubou Bajawa, tetapi kondisi seperti ini hanya bagian dari proses. “Ya, kami pemerintah juga mengakui bahwa kondisi real Pasar Boubou sepi pembeli dan kurang diminati saat ini tetapi semua itu adalah proses. Kita tidak bias serta merta menuntut bahwa setelah pindah kesana pasar baru harus langsung ramai sebab segala sesuatu butuh proses,”tambah Hironimus Watu.

Perlawanan para pedagang yang menolak pengususran 17 Maret 2015

Perlawanan para pedagang yang menolak pengususran 17 Maret 2015

Pantauan wartawan, guna menertibkan para pedagang yang masih berjualan di sekitar lokasi milik ulayat dekat Pasar Inpres Kota Bajawa, 17 Maret 2015, Pemda Ngada menurunkan tim gabungan TNI, Polri dan Aparat Satpol PP. Kehadiran tim gabungan dalam penertiban ini mendapat perlawanan dari para pedagang di Bajawa. Usai barang dagangan disita, para pedagang menuntut barang dagangan mereka yang disita petugas harus dikembalikan kepada mereka. Gesekan antara pedagang dan tim gabungan pemerintah berlangsung sekitar dua jam lebih hingga tim gabungan menurunkan kembali seluruh barang sitaan milik para pedagang. Sejumlah pedagang menolak saat diminta petugas untuk tanda tangan diatas sebuah kertas yang disodorkan oleh beberapa pegawai yang tim gabungan. Pihak pemerintah beralasan kehadiran mereka guna menertibkan pedagang yang berjualan di trotoar jalan dan di dalam lokasi pasar inpres Bajawa, namun terjadi perdebatan alot, seluruh pedagang berteriak bahwa  alasan ini sangat dibuat-buat sebab para pedagang tidak pernah berjualan di trotoar jalan ataupun di dalam kawasan pasar inpres yang sudah dilarang pemerintah. Menurut para pedagang, mereka berjualan di tanah milik ulayat sekitar Pasar Inpres Bajawa. Sebagiannya berjualan di serambi pertokoan, tetapi itu dilakukan karena mereka kesulitan membiayai beban hidup yang terus mencekik leher pedagang dari waktu ke waktu akibat merugi di Pasar Boubou Bajawa.

“Pemerintah pindahkan kami ke Pasar Boubou di tengah-tengah hutan dan kami sudah turuti apa mau pemerintah. Hasilnya kami rugi dan bangkrut. Sekarang mau datang usir lagi kami disini?,” teriak beberapa pedagang diantara kerumunan pertengkaran dengan tim gabungan pemerintah, 17 Maret 2015.

Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada melalui Asisten II kembali menegaskan kepada para pedagang bahwa Pasar Inpres Bajawa sudah ditutup dan penertiban dilakukan atas agenda penataan dan pengembangan. Para pedagang berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada tidak memaksakan kebijakan yang tidak menguntungkan masyarakat dan warga kaum pedagang di Kabupaten Ngada. (*wrn)