Puluhan Pedagang Korban Relokasi Pasar Datangi Gereja Kevikepan Bajawa

ZONALINENEWS-NGADA,- Puluhan pedagang sembako korban relokasi pasar di Bajawa Kabupaten Ngada Flores, Kamis 26 Maret 2015 datangi Kevikepan Bajawa guna meminta perhatian Gereja Keuskupan Agung Ende atas berbagai kisah sedih yang menimpa mereka sejak Pemda Ngada menerapkan kebijakan pemindahan seluruh pedagang ke Pasar Boubou dan menutup total Pasar Inpres Bajawa.

Para Pedagang Pasar inpres Bajawa

Para Pedagang Pasar inpres Bajawa

“Kami datang di Kevikepan Bajawa untuk meminta tolong karena kami sudah sangat menderita, mengalami kerugian bangkrut modal usaha sejak pemerintah paksakan pemindahan pedagang ke Pasar Boubou Bajawa. Kami berjualan di Pasar Boubou yang berada di tengah hutan, jauh dari akses pembeli, biaya angkot tinggi dan sepih pembeli. Kami dipaksa harus menerima kebijakan ini walaupun kami menolak, kami merugi, bangkrut modal usaha, berutang kiri kanan, susah membiayai hidup keluarga dan semakin sulit membiayai anak-anak kami di bangku sekolah, Kami meminta tolong Gereja Kevikepan Bajawa keuskupan Agung Ende ikut melihat nasib kami sebagai korban kebijakan serta terlibat mengawasi penindasan yang para pedagang alami dari waktu ke waktu,” ungkap pedagang sembako, Maria Gorety  Florce Uge kepada wartawan.

Pedagang datangi Kevikepan Bajawa

Pedagang datangi Kevikepan Bajawa

Kepada media ini, Florce bersama puluhan pedagang sembako lainnya mengeluhkan berbagai kisah buram menimpa para pedagang di Kota Bajawa Kabupaten Ngada Flores. Pantauan media ini, kehadiran puluhan pedagang tidak berhasil menemui Romo Vikep Bajawa karena Pimpinan Kevikepan Bajawa sedang melakukan beberapa persiapan tugas penting pelayanan keluar.

 

Dihimpun wartawan, sejumlah pedagang sembako menceriterakan pada hari Rabu 25 Maret 2015 saat operasi gabungan yang melibatkan TNI dan Polri guna pengosongan Pasar inpres Bajawa, saat insiden muncul dua orang pastor bersama frater yang berkarya di Gereja Paroki MBC Bajawa Kabupaten Ngada menyaksikan langsung kejadian perampasan barang dagangan milik pedagang oleh anggota Satpol PP Ngada.

Pasalnya, atas kejadian itu para Gembala Umat yang mendatangi TKP sempat melakukan komunikasi dengan pihak keamanan dan langsung mendampingi para pedagang menuju kantor DPRD Ngada guna meminta waktu berdialog dengan para wakil rakyat Ngada. Namun kehadiran para pedagang bersama Gembala Umat menemui para wakil rakyat Ngada tidak diterima atau hanya berdiri di luar pintu gerbang sebab pintu gerbang menuju kantor daerah dan kantor DPRD Ngada ditutup sambil dijaga ketat barikade Satpol PP Ngada.

 

Dikonfirmasi wartawan, 26 Maret 2015, Pastor Paroki Gereja Mater Boni Consili (MBC) Bajawa, Romo Eduardus Raja, Pr kepada wartawan membenarkan kejadian ini.

 

Menurut dia, seharusnya Lembaga Rakyat bisa mengalokasikan sedikit waktu guna menemui konstituen. Pintu gerbang menuju kantor daerah, kata dia, mestinya tidak perlu ditutup sebab makna kantor daerah ataupun kantor DPRD adalah juga rumah rakyat yang sepantasnya siaga melayani masyarakat pada jam-jam kerja.

“Benar kami datangi Pasar Inpres Bajawa saat kejadian lalu kami menuju kantpr DPRD Ngada tetapi hanya bisa berdiri diluar pagar sebab pintu gerbang nampak dijaga ketat barikade Satuan Polisi Pamong Praja. Saya pikir mestinya tidak perlu begitu protektif sebab yang datang adalah rakyat sendiri. Apakah setiap keperluan masyarakat harus didahului dengan surat pemberitahuan resmi, saya pikir tidak mungkin kakuh sebab yang namanya rakyat, mereka membutuhkan pelayanan yang bisa dilayani secara lebih optimal dan terbuka”, ujar Romo Edu. (*wrn)