Sidang Blokade Bandara Kabandara Sebut Bupati Perintahkan Blokir Bandara

ZONALINENEWS BAJAWA-Sidang Kasus Blokade Bandara Turelelo Soa Kabupaten Ngada Flores-NusaTenggara Timur kini sudah memasuki persidangan pemeriksaan saksi-saksi kunci, diantaranya Kepala BandaraTurelelo Soa. Disaksikan media ini dalam persidangan keempat 16 Maret 2015 Tim Jaksa Penuntut Umum hadirkan tiga saksi dari pihak otoritas BandaraTurelelo Soa Ngada.

Kabandara Soa, Iksan saat mebrikan kesaksian di Pengadilan

Kabandara Soa, Iksan saat mebrikan kesaksian di Pengadilan

Kini Kasus besar ini memasuki tahapan persidangan pemeriksaan saksi-saksi kunci sekaligus mengkonfrontasi kesaksian para terdakwa anggota Pol PP Ngada bersama Kasat Pol , Hendrikus Wake.

Sebagaimana diketahui pasca kejadian pemblokiran bandara tahun 2013 silam Bupati Ngada Marianus Sae menyatakan pemblokiran bandara adalah atas perintahnya karena  kecewa tidak mendapatkan satu jatah tiket penerbangan Kupang-Bajawa. Pantauan wartawan, proses hukum kasus ini berjalan cukup lamban bahkan terjadi perubahan dalam temuan fakta persidangan di Pengadilan Negeri Bajawa. Kasat Pol PP Ngada Hendrikus Wake yang pasca kejadian tiga tahun silam menyatakan pemblokiran bandara adalah atas perintah Bupati Ngada Marianus Sae, namun pada fakta persidangan ketiga kepada Dewan Majelis Hakim dan Tim Jaksa Penuntut Umum mengungkap keterangan berbeda dari sebelumnya, menyatakan pemblokiran bandara bukan atas perintah Bupati tetapi atas inisiatif pribadinya karena merasa ibah terhadap Bupati tidak diberi tiket oleh Merpati untuk penerbangan Kupang menuju Bajawa.

Dihimpun media ini 16 Maret 2015 kebenaran keterangan Kasat Pol PP Ngada Hendrikus Wake nampak dibantah oleh Kepala Bandara Turelelo Soa. Menurut Kepala Bandara Soa, Iksan, satu hari sebelum kejadian pemblokiran bandara 20 Desember 2013, Bupati Ngada Marianus Sae menelpon dirinya meminta bantuan dapatkan satu tiket merpati untuk penerbangan Kupang-Bajawa. Kesaksian Kabandara mengungkapkan pihaknya sudah mengupayakan untuk mendapatkan satu tiket bagi Bupati namun karena jam pemesanannya juga sudah cukup siang (diatas jam 2.00 wita usai Sholat Jumad) ternyata tiket sudah full sheet saat itu. Kepala Bandara kembali melaporkan kepada Bupati Marianus Sae bahwa tiket sudah full sheet dan Bupati Marianus menjawab bahwa sudah dapatkan tiket Trans Nusa sambil menyatakan permohonan maaf bahwa keesokan harinya tanggal 21 Desember 2013 Bandara diblokir untuk memberi pelajaran kepada pihak Merpati.

“Satu hari sebelum kejadian atau pada tanggal 20 Desember 2013 Pa Bupati menelpon saya mengatakan Pa Bupati tidak mendapat tiket dari Kupang tujuan Bajawa. Beliau meminta bantuan menghubungi pihak Merpati. Setelah itu saya langsung menelpon kawan saya di Merpati yang ada di Kupang dan beliau mengupayakan. Setelah mengupayakan kawan saya menyampaikan bahwa tiket sudah full sheet. Tetapi pihak Merpati akan terus mengupayakan untuk Pa Bupati, kata teman saya melalui telepon. Setelah mendapatkan penjelasan seperti ini, saya menghubungi Pa Bupati dan Pa Bupati menjawab sudah mendapatkan tiket Trans Nusa. Pa Bupati menyampaikan  minta maaf Pa Iksan, saya sudah berkoordinasi dengan Kapolres dan Kajari, besok Bandara diblokir,”ungkap Kepala Bandara Soa, Iksan kepada Majelis Hakim dan Tim Jaksa Penuntut Umum di ruang persidangan Pengadilan Negeri Bajawa, 16 Maret 2015.

Kepada wartawan 16 Maret 2015, Kepala Bandara Turelelo Soa, Iksan menegaskan dirinya tidak akan menarik lagi keterangannya maupun BAP sebab apa yang diterangkan dalam persidangan sesuai dengan apa yang dilihatnya, didengar, dirasa sebagaimana kejadian yang sebenar-benarnya. “Saya tidak akan merubah keterangan maupun BAP karena yang saya katakan sesuai dengan apa yang saya lihat, dengar dan rasa, sebagaimana kejadian yang sebenar-benarnya,”tambah Kabandara Soa, Iksan.

Menanggapi pengakuan Kepala Bandara Soa, Iksan, pihak Kuasa Hukum para terdakwa, Agustinus Bhara, SH kepada wartawan di Pengadilan Negeri Bajawa menyatakan apa yang diungkapkan oleh Kepala Bandara Soa di ruang persidangan telah dibantah oleh Kasat Pol PP Ngada Hendrikus Wake dalam sidang sebelumnya.

“Apapun kesaksian dalam persidangan adalah fakta. tetapi apakah itu benar, kita mesti mendengarkan juga saksi-saksi lainnya. Nanti kita lihat di persidangan-persidangan berikutnya, namun patut diingat juga bahwa sebuah fakta persidangan tidak untuk langsung disimpulkan. Fakta sementara ini menunjukan bahwa ada satu saksi menyatakan bupati memberi perintah namun kesaksian ini sudah dibantah oleh keterangan Kasat Pol PP Ngada Hendrikus Wake dalam persidangan kali lalu,” kata Bhara.

Dia menambahkan, Kepala Bandara Soa juga patut diduga melakukan pembiaran terhadap para terdakwa karena selaku pemegang otoritas bandara kejadian pemblokiran bandara terjadi tanpa upaya penghadangan dari pihak otoritas setempat, dalam hal ini pemegang otoritas Bandara Turelelo Soa.

Menanggapi keterangan Kuasa Hukum atas dugaan pembiaran, Kepala Bandara Soa Iksan menegaskan bahwa pada pagi hari ketia Kasat Pol PP menemuinya di Kantor saat tiba di Bandara, pihaknya (Kepala Bandara) sudah memperingati Kasat Pol PP dan Yohanes Mado bahwa pemblokiran bandara adalah perbuatan melawan Undang-Undang Penerbangan atau melawan hukum. Kepala Bandara juga menyatakan bahwa saat menerima telepon dari Bupati Marianus Sae tanggal 20 Desember 2013, ketika Bupati mengatakan bahwa akan memblokir bandara keesokan harinya, Kepala Bandara sempat menjawab bahwa memblokir bandara adalah perbuatan melawan hukum karena ada Undang-Undangnya.

Hingga sidang 16 Maret 2015, belum diketahui kapan Bupati Ngada Marianus Sae dihadirkan pada persidangan untuk memberikan keterangannya atas Kasus Blokade Bandara Turelelo Soa. (*BJW1)