Sidang Ketiga Kasus Blokade Bandara Soa Enam Saksi Diperiksa

-BAJAWA ,- Sidang perkara kasus blokade bandara Turelelo Soa Kabupaten Ngada kembali digelar 9 Maret 2015 di ruang persidangan Pengadilan Negeri Bajawa. Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Bajawa melalui Kasi Pidana Umum Irwan Ganda Saputra, SH menghadirkan sejumlah saksi anggota Satpol PP Ngada untuk terdakwa Hendrikus Wake dan kawan-kawan.

Ketua Majelis Sidang Kasus Blokade Bandara, Hiras Sitanggang, SH.MM

Ketua Majelis Sidang Kasus Blokade Bandara, Hiras Sitanggang, SH.MM

Enam saksi yang dipanggil oleh Tim JPU , Ildefons Mali, Benediktus Sawu, Oktovianus Kolo Wale, Laurensius Nodhe, Klementinus Tea, Rezky Zozali Waga. Sementaraitu saksi yang dipanggil untuk periksa perkara Adrianus Neke dan kawan-kawan, yaitu Fransiskus Leu, Ferdinandus A Lalu, Yoseph Ani Kedhi dan Yoseph Lae.

Kepada wartawan, 9 Maret 2015 , Jaksa Penuntut Umum, Iwan Ganda Saputra, SH menyatakan JPU menghadirkan saksi dari anggota Pol PP, seluruh saksi membenarkan kejadian pemblokiran landas pacu Bandara Turelelo pada 21 Desember 2013`lalu.

“Pada persidangan 9  Maret  2015 kami memanggil sejumlah anggota Satpol PP Ngada untuk berkas perkara Hendrikus Wake dan kawan-kawan serta periksa perkara Adrianus Neke dan kawan-kawan. Semua saksi membenarkan pemblokiran landas pacu Bandara Turelelo Soa dan memasuki bandara tanpa ada izin dari otoritas Bandara Soa,”ungkap Irwan Ganda Putera.

Sementara pada persidangan 2 Maret 2015 lalu terungkap kesaksian lain di hadapan majelis hakim. Kasat PP Hendrikus Wake membantah pemblokiran bandara, menurut dia bukan atas perintah Bupati Marianus Sae. Menurut terdakwa Hendrikus Wake, Bupati Marianus Sae hanya curhat-curhat melalui telepon lalu dirinya merasa tersentuh dan langsung berinisiatif untuk mengumpulkan regu Satpol PP guna menghalangi pesawat merpati landing di bandara Soa.

Pantauan Media ini, kesaksian Anggota Polisi KP3 Udara Bandara Turelelo Soa, Briptu Jonsi Dance Adu Dalam ruangan persidangan Pengadilan Negeri Bajawa 2 Maret 2015 lalu mengungkapkan pada saat kejadian pemblokiran bandara tanggal 21 Desember 2013, selaku anggota jaga dirinya tiba di TKP sekitar pukul 6.30 wita.

Ia mengaku kepada majelis, setelah melihat kejadian itu dirinya masuk ke dalam bandara dan menemukan sejumlah aparat Pol PP berseragam lengkap menduduki landas pacu dan terdapat dua unit mobil parkir di tengah-tengah landas pacu Bandara soa.

Atas kesaksian ini, Briptu Jonsi kembali keluar ke ruangan tunggu karena sejumlah penumpang yang sudah chek in untuk keberangkatan ke Kupang mulai ngamuk-ngamuk. Dalam posisi seorang diri Briptu Jonsi menelpon Polsek Soa namun tidak diangkat. Selanjutnya Briptu Jonsi mengatakan dirinya menelpon Kepala KP3 udara yang saat itu sedang cuti tugas, namun tidak diangkat. Seterusnya Briptu Jonsi menelpon Piket Jaga Polres Ngada tetapi hasilnya sama tidak diangkat. Briptu Jonsi kembali berusaha dan menelpon Kapolres Ngada namun telepon tidak diangkat. Yang terakhir Briptu Jonsi mengaku dia menelpon Waka Polres Ngada  Kompol Athonius Sarengkelang dan diterima. Briptu Jonsi langsung melaporkan kejadian di TKP dan Waka Polres menjawab pantau terus dan laporkan perkembangan.

Kepada Majelis Hakim dan JPU Briptu Jonsi mengaku saat menelpon Waka Polres Ngada, dirinya juga meminta diturunkan personil tambahan dari Mapolres Ngada, tetapi Waka Polres, kata dia, memberi arahan ‘pantau terus kejadian dan laporkan perkembangan’.

Hingga berita ini diturunkan wartawan berlum berhasil menghubungi Waka Polres Ngada Kompol Athonius Sarengkelang guna dimintai tanggapan. Sidang kasus Blokade Bandara Soa akan masuk ke agenda berikutnya pada tanggal 16 Maret 2015. (*wrn)