Terlambat, Oknum Guru STM Kupang Aniaya Siswa Hingga Babak Belur

ZONA LINE NEWS, KUPANG – Guru seharusnya menjadi teladan bagi anak-anak murid dan seharusnya membimbing dan menuntun siswa menjadi anak yang baik dan taat pada siapa saja. Bagaimana mungkin jika seorang pendidik yang mendidik muridnya menggunakan kekerasan fisik. Hal ini sangat bertentangan dengan tugas mulia seorang guru dalam mendidik siswa, karena  kekerasan yang dilakukan seorang guru akan berdampak negatif pada psikologis anak tersebut dan hal ini patut dikecam.

Ilustrasi Guru Pukul Murid

Ilustrasi Guru Pukul Murid

Fenomena kekerasan guru terhadap siswa ini masih terus terjadi di Kota Kupang. Kali ini kasus kekerasan tehadap siswa ini terjadi di Sekolah Teknik Mesin STM atau SMK Negeri Kupang 5 Kota Kupang.

Salah satu siswa kelas 3 jurusan otomotif, Marianus Lema Lesu (17), dianiaya hingga babak belur oleh Andi Banoet, salah satu oknum guru yang dikenal galak pada sekoah tersebut. Ironisnya, penganiayaan itu dipicu kedisiplinan waktu yang telah diterapkan pada sekolah tersebut.

Marianus Lema Lesu, saat ditemui di kediamannya, Jumat (20/3/2015) menuturkan, saat dirinya tiba di sekolah dirinya langsung menghadap. Namun, bukan nasehat yang diterimanya tetapi dirinya disuruh berlutut dan dianiaya oknum guru tersebut. Saat berlutut, lanjut Marianus, oknum guru tersebut langsung menampar wajahnya dan mengenai mata bagian kiri. Mungkin merasa belum puas, oknum guru tersebut juga menendangnya hingga dirinya terjatuh.

Ia mengaku, akibat penganiayaan itu  mata bagian kirinya memar dan bengkak bahkan pinggang sebelah kiri hinga saat ini masih terasa sakit.

“Saya di tampar di muka mengenai mata kiri saya. Setelah itu saya ditendang di bagian pinggang hingga saya terjatuh,” akunya sambil menunjukan bagian matanya yang memar.

Akibat perlakuan kasar oknum guru tersebut, kakak kandung korban, Kristo Lakonawa (25), saat dihubungi pertelepon, Jumat (20/3/2015) mengatakan, dirinya bersama keluarga lainnya akan mendatangi pihak sekolah dan meminta pertanggungjawaban oknum guru yang menganiaya adiknya tersebut.

“Saya sangat menyayangkan sikap guru yang masih menggunakan kekerasan terhadap siswanya sendiri. Seharusnya siswa yang melanggar aturan itu dibimbing dan dibina dengan baik, bukan dianiaya. Ini akan mempengaruhi psikologi anak. Saya tidak terima adik saya diperlakukan seperti ini. Saya bersama keluarga besar akan mendatangi pihak sekolah untuk meminta tanggung jawab pihak sekolah,” tegasnya. (*amar)