Tokoh Ngada,Yosep Nae Soi dan Paulus Talo Angkat Suara Soal Tangisan Pedagang

ZONALINENEWS-NGADA-Tangis duka selimuti rahim Inerie Kabupaten Ngada Flores Nusa Tenggara Timur. Ratusan Pedagang menangis duka berbalut air mata susah usai Bupati Ngada Marianus Sae bersama Wakilnya Paulus Soliwoa menutup Pasar Inpres Bajawa dan memindahkan seluruh pedagang dari Pasar Inpres Bajawa ke Pasar Boubou di pinggiran kota.

 

Tokoh Ngada

Tokoh Ngada

Setelah bergolak sedikitnya selama satu tahun terhitung sejak tahun 2014 lalu, disaksikan media ini 24 Maret 2015 ratusan pedagang di Kota Bajawa didampingi Elemen Forum Komuniasi Masyarakat Ngada dan Diaspora (FKMND) dan Perhimpunan Mahasiwa Katholik calon Cabang Ngada (PMKRI) menggelar aksi besar-besaran di Kota Bajawa hingga menduduki kembali Pasar Inpres Bajawa.

Usai berorasi mendekati setengah hari di jalan depan Pasar Inpres Bajawa tetapi tidak mendapat sambutan baik bahkan tidak ditemui utusan perwakilan pemerintah maupun lembaga dewan di Ngada, mereka akhirnya menerobos paksa pintu-pintu masuk Pasar Inpres Bajawa yang sebelumnya sudah dipagari menggunakan bambu-bambu panjang oleh Regu Satpol PP Ngada atas perintah Bupati Ngada Marianus Sae bersama Wakilnya Paulus Soliwoa.

Ratusan  pedagang lalu menduduki Pasar Inpres Bajawa  dan menggelar dagangan mereka di halaman depan Pasar Inpres Bajawa. Usai membongkar pagar dan menduduki Pasar Inpres, para pedagang menangis dan sebagai tanda kerinduan sejumlah dari mereka sambil menetes air mata rindu berbaris menggelar menari tarian adat daerah Bajawa (Tari Ja’i-Ja’i bersama) sambil meneriakan yel-yel ekonomi Kabupaten Ngada bangkit kembali.

Dikutip media ini, hanya satu tekad mengais kembali rejeki di Pasar Inpres Bajawa, Bupati Ngada Marianus Sae kembali menurunkan tim gabungan berseragam lengkap yang terdiri dari Satpol PP, Polri dan TNI pada tanggal 26 Maret 2015 dini hari pukul 06.00 wita melakukan operasi kilat pengosongan pedagang dan jualan mereka dari lokasi Pasar Inpres Bajawa serta radiusnya sekitarnya.

Diberitakan sebelumnya, pemda turunkan tim gabungan TNI, Polri dan Pol PP, pedagang pertahankan barang dagangan. Tidak terhindar sempat terjadi benturan antara petugas keamanan dan sejumlah pedagang yang tidak menerima diperlakukan semena-mena oleh petugas berseragam.

 

Barang dagangan disita habis oleh aparat keamanan gabungan, sebagian lainnya dirusakan menggunakan tangan saat terjadi adu rampas antara anggota tim operasi dan pedagang yang berusaha menyelamatkan dagangan sayuran dan buah-buahan milik orang-orang susah di Bajawa.

Dihubungi media ini per telepon 26 Maret 2015, dua tokoh daerah asal Kabupaten Ngada Flores, Yoseph Nae Soi mantan Anggota DPR RI dan Paulus Talo Calon Wakil Gubernur NTT pda Pilgub NTT Tahun 2013 lalu Paket Eston-Paul, kepada wartawan secara tegas menyatakan sikap keprihatinan mereka atas kondisi dan situasi yang menimpa masyarakat Ngada kaum pedagang atas pola-pola pendekatan yang diduga represif (security aproach) di tanah kelahiran mereka. Kedua tokoh Ngada ini bersuara dan menghimbau seluruh elemen di Kabupaten Ngada harus mengutamakan jalan tengah dengan prioritas utama menggolkan aspirasi rakyat sebab negara maupun Undang-Undang dan aturan main dibuat untuk mensejahterakan masyarakat, bukan sebaliknya masyarakat diposisikan berada dibawah dari aturan setingkat keputusan, perda maupun instruksi kepala daerah Bupati Marianus Sae dan wakilnya Paulus Soliwoa bersama para Dinas terkait dan jajarannya.

“Saya secara pribadi dan sebagai mantan Anggota DPR RI yang tidak banyak mengetahui tentang peraturan tetapi saya juga sedikit mengetahui tentang peraturan maupun perundangan di negara ini. Pertama-tama saya menyampaikan sangat prihatin atas kondisi Kabupaten Ngada khusunya kondisi masyarakat dan warga pedagang di Bajawa. Para pedagang adalah rakyat bangsa ini yang hanya membutuhkan perut mereka tidak lapar, konfor api di dapur bisa tetap menyala, anak-anak mereka bisa dibiayi baik pemenuhan kebutuhan harian ataupun kebutuhan pembiayaan saat sakit serta keperluan-keperluan biaya anak-anak pedagang di bangku sekolah. Hanya itu kan yang mereka perlu dari negara ini untuk menghargai mereka seperti mereka taat membayar pajak walaupun mereka harus bersusah-susah dalam kehidpuan ekonomi mereka serta bersusah-payah dalam berbagai ketaatan masyarakat terhadap negara. Mereka tidak mungkin mau bunuh diri bertahan dalam sebuah kondisi pasar yang para pembelinya kalau mau ke sana untuk beli sayur seharga lima ribu rupiah tetapi harus merogoh dompet sepulu ribu baru untuk biaya angkot belum terhkitung sayur yang mau dibeli. Di daerah manapun tidak ada warga yang mau dan betah berjualan jika kondisi yang mereka temui di lapangan seperti itu. Karenaitu patut diketahui bahwa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Perda, Instruksi, Keputusan, semuanya itu kalau sudah mengusik ketentraman dan kesejahteraan hidup masyarakat, maka itu bukan Undang-Undang atau Peraturan yang harus dipertahankan tetapi sebaliknya harus segera dirubah, direvisi dan ditinjau ulang secepat-cepatnya demi rakyat karena yang utama dalam negara demokrasi kita ini adalah pemenuhan kesejahteraan rakyat atau bonum commune,”tegas Yosep Nae Soi.

Dia menambahkan, pola-pola pendekatan pelayanan dan pengawasan tidak boleh mengedepankan security aproach atau pendekatan kekuatan yang berbau represif atau intimidasi yang dipakai untuk menekan rasa kenyamanan warga. Oleh sebab itu dia menghimbau Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada mengutamakan aspirasi para pedagang atau aspirasi rakyat yang sudah memberikan kepercayaan kepada pemerintah untuk belajar mengambil setiap keputusan dan kebijakan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak untuk dilakukan berdasarkan kepekaan-kepekaan pelayanan serta berazaskan ‘dari, oleh, untuk rakyat.

Sementara tokoh Ngada lainnya Paulus Talo kepada wartawan menyatakan Ngada sedang berduka bersama tangisan orang-orang susah tidak berdaya atas keputusan instruksi yang tidak mengutamakan nasib dan kesejahteraan pedagang (rakyat) tetapi tersirat jelas mengutamakan argumentasi aturan, keputusan ataupun instruksi produk elit politik daerah.

“Menurut saya pedagang di daerah kita itu apa sih, mereka hanya berjualan seikat dua ikat pucuk labu yang kalau mau dibilang mereka berjualan dalam bentuk grosir pun mungkin itu sudah terlalu besar bagi mereka. Merka mencari sesuatu yang kecil untuk makan hari ini dan besok lalu sebagiannya disimpan sedikit demi sedikit demi menalangi kebutuhan rumah tangga dan menyekolahkan anak-anaknya. Nah, masalah Undang-undang, Perda atau apapun, dia harus bermuara pada pemenuhan kehidupan ekonomi masyarakat, dalam hal ini kesejahteraan warga melalui kearifan menumbuh kembangkan usaha ekonomi, mikro dan menengah keluarga. Karenaitu pedagang yang mencari makan harus diutamakan, bukan retorika keputusan yang diutamakan. Lalu para petugas keamanan itu, mereka harus tahu mendahulukan hal yang mana, apakah mendahulukan warga masyarakat yang menjerit susah dan kelaparan ataukah mendahulukan sebuah pasal dan retorika praktis argumentatif. Saya pikir fungsi pengayoman, mitra pelayanan masyarakat, fungsi penjagaan ketahanan ekonomi masyarakat dan pedagang, fungsi pengamanan perjuangan kesejahteraan penduduk oleh pihak-pihak keamanan adalah tugas-tugas utama keamanan dalam paradigma pelayanan berbasis keamanan untuk rakyat sejahtera. Berikan kesempatan rasa aman kepada rakyat Ngada,”tegas dan Paulus Edmundus Talo.

Dia menambahkan, dimana-mana rakyat masih dalam taraf ekonomi perjuangan, olekarenaitu pemerintah berkewajiban mendorong kenyamanan kehidupan ekonomi warga serta harus terus merangsang pertumbuhan ekonomi usaha mikro menegah keluarga bersama dengan penguatan akses pasar yang semudah-mudahnya demi terpenuhinya akselerasi penguatan demokrasi ekonomi masyarakat dari tingkat pusat hingga daerah-daerah.

“Rakyat Ngada masih banyak yang miskin, yang kaya itu hanya Bupati nya saja. Yang hidup mewah di hotel-hotel di Jakarta itu hanya Bupati nya saja, sebab rakyat tidak bisa membayar hotel-hotel mahal yang tidak hanya berbintang lima tetapi berbintang enam seprti hotel richt charlton Jakarta yang hanya untuk biaya tidur semalam saja berharga tiga sampai empat juta rupiah dan Bupati Ngada Marianus Sae hidupnya di hotel-hotel seperti itu di Jakarta. Jadi jangan berpikir rakyat sudah kaya seperti bupatinya sehingga sayur seikat dua ikat milik pedagang itu anda tendang atau rampas dan rusakan tanpa peri kemanusiaan. Seribu rupiah bagi mereka sangat berarti, meskipun untuk bupatinya nilai tiga hingga empat juta baru sekedar buat ‘tidur di hotel satu malam. Bupati hidupnya di hotel-hotel paling besar dan hotel-hotel paling mahal di Jakarta, bukan hotel-hotel biasa yang para Bupati pendahulu tinggal ketika mereka ke Jakarta. Bupati Yan Yos Botha, Bupati Yohakim Reo dulu kalau ke Jakarta tinggalnya di pasar baru, itu hotelnya bintang dua, tetapi bupati yang sekarang ini bintangnya kalau boleh harus sebut bukan bintang lima tapi bintang enam yang harga satu malam tiga sampai empat juta rupiah. Bagaimana seorang bupati boleh hidup merah di Jakarta (paling tidak dalam beberapa saat) sementara kondisi rakyatnya di dareah hanya untuk mendapatkan seribu dua ribu dari satu dua ikat sayur dari kemudahan akses pasar saja harus dirampas waktu mereka berdagang?, Mereka menangis dan kelaparan di rumah-rumah mereka akibat dikejar-kejar oleh pihak keamanan atas instruksi kepala daerah. Saya menghimbau, berikan rasa aman kepada masyarakat Ngada sebab mereka perlu kenyamanan untuk hidup dan terus berjuang mengarungi nasib dan persaingan. Utamakan aspirasi masyarakat sebab itulah tugas pelayanan pemerintah maupun aparat keamanan kepada masyrakat selaku pemilik sah bangsa dan negara Indonesia ini. Tugas pemerintah adalah untuk melayani bukan untuk menguasai ataupun menjadi penguasa,” tutup Paulus Talo. (wrn)