Warga Korban Abrasi Keluhkan Tembok Penahan Ombak, Pemkot Dinilai Apatis

ZONALINENEWS- KUPANG ,– Perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) dalam bidang infrastruktur khususnya di daerah Kelurahan Oesapa masih jauh dari harapan masyarakat. Selain sebagai daerah banjir, sebagian warga  yang bermukim di pesisir pantai, tepatnya  di RT. 32, RW. 01, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, terancam tenggelam akibat abrasi laut. Hal ini diakibatkan tembok penahan ombak yang diduga dikerjakan asal-asalan tersebut roboh terkena hantaman gelombang laut.

Rumah warga korban hamtaman ombak di kelurahan Oesapa

Rumah warga korban hamtaman ombak di kelurahan Oesapa

Salah satu warga korban abrasi, Arwan Abdul (38), kepada media ini, Sabtu 7 Maret 2015, mengaku, sejak robohnya tembok penahan ombak ini, rumah miliknya rusak parah dan terancam tenggelam. Pasalnya, gelombang tinggi air laut yang membawa serta batu dan kotoran lainnya menghantam hingga merembes masuk ke dalam rumahnya. Akibatnya, selain merasa tidak nyaman, sebagian perabot rumah miliknya rusak parah.

Dirinya pun mengaku, sangat bersyukur pernah mendapatkan bantuan dari BPBD Kota berupa, seng, semen, kayu serta paku. Namun, menurut Arwan,  bantuan tersebut tidak ada manfaat karena tidak akan menyelesaikan akar persoalan.

 

“Seharusnya pemerintah memperbaiki tembok penahannya. Karena sama saja karena seng tidak mampu menahan hantaman gelombang. Apalagi musim barat begini, gelombang lautnya tinggi, sehingga air laut serta batu masuk sampai rumah. Perabot rumah saya banyak yang rusak. Jika rumah hancur kami mau tinggal dimana lagi,” ungkapnya sambil menunjukan sebagian dinding rumahnya yang rusak.

Hal ini dibenarkan oleh, Daeng (40), salah satu nelayan yang juga menjadi korban abrasi. Menurut Daeng, akibat hantaman gelombang laut tembok rumah miliknya rusak parah.

Ironisnya, lanjut Daeng, saat menerima bantuan yang diberikan oleh BPBD melalui pihak kelurahan, dirinya tidak mendapatkan semen. Padahal, menurutnya, dirinya sangat membutuhkan semen untuk memperbaiki dinding rumahnya yang sudah rusak parah.

 

“Saya heran, kenapa dinding rumah saya hancur tetapi tidak dapat semen? Saya hanya dapat seng dengan paku. Pada hal ada warga yang dinding rumahnya tidak rusak, mereka mendapatkan itu. Kalau berikan bantuan harus adil. Kami ini masyarakat kecil, kami sudah sengsara jangan lagi dipermainkan,” ucapnya.

Sementara itu, Lurah Oesapa, Ebed Yusuf, saat dihubungi pertelepon, Minggu 8 Maret 2015, mengatakan, tembok penahan ombak yang dikerjakan oleh BPBD Kota Kupang dengan anggaran APBN 2012 tersebut terkesal asal jadi. Pasalnya, tembok tertsebut tidak menggunakan konstruksi beton. Sehingga tidak mampu menahan pukulan gelombang laut.

Menurutnya, sejak robohnya tembok penahan gelombang tersebut pada tanggal 1 Februari 2014 lalu, pihaknya sudah mendata rumah warga terkena dampak abrasi tersebut.

Setelah mendata, pihaknya telah bersurat  ke BPBD Kota Kupang juga BPBD Provinsi NTT. Namun, menurut Ebed, hingga saat ini persoalan tersebut masih menjadi polemik BPBD Kota dan BPBD Provinsi. Karena pihak BPBD Provinsi masih meminta jaminan proses penyerahan aset dari BPBD Kota dan pusat. (*amar)