Kawal Isu yang Berkembang di Desa, Masyarakat Damu Bentuk Paguyuban

Zonalinenews-Ngada, Isu-isu yang berkembang di Desa Benteng Tawa mulai mekar bagai aroma bunga yang mekar di pagi hari. Pelbagai madu dari para elit pemerintah dan politisi mulai ditawarkan ke masyarakat. Semacam seruan manis, siapa yang mau merasakan madu tersebut, mari bergabung dengan kami (elit pemerintah dan politisi). Akhir-akhir ini, telinga warga desa benteng tawa, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada hangat mendengar isu panas yang menarik bagai kopi manis bercampur madu. Mulai dari isu mekar desa, mekar camat, perbatasan Ngada-Manggarai Timur, wacana kabupaten Riung dan masalah hutan tutupan sedang berseliweran di telinga warga.

Pembentukan Paguyuban Damu Wae Lawas untuk kawal isu yang masuk ke Desa Damu

Pembentukan Paguyuban Damu Wae Lawas untuk kawal isu yang masuk ke Desa Damu

Isu-isu hangat tersebut mulai bangun dari tidurnya yang selama pileg 2014 lalu pernah diutarakan, lalu tidur nyenyak dan kini bangun lagi. Masyarakat Benteng Tawa bingung, termasuk pemerintah desa juga mabuk seolah kakek yang sakit lalu didatangi beberapa cucu sembari membawa ole-ole dalam bentuk kue. Sambil sang cucu berseru, kue saya lebih manis, kue saya lebih enak. Kakek yang tak tahu betul tentang cara buat kue akhirnya terima dan ketika membuka bungkusan kue tersebut ternyata kosong saja. Tak hayal juga, masyarakat desa benteng tawa khususnya suku Damu Wae Lawas mengkawal isu-isu yang berkembang saat ini dengan jalan bentuk paguyuban.

Tujuan dari bentuk paguyuban adalah menyaring kebenaran atas isu yang sedang berkembang tersebut. Para pemuka damu yang terdiri dari tokoh adat, masyarakat dan pemerintah juga siap menerimanya dan kawal secara baik. Sebab, sebelumnya dalam rentetan sejarah politik dan pemebangunan di desa, suku damu sudah banyak menjadi korban dalam hal pembangunan.

Masyarakat suku damu yang notabene berpendidikan hanya setingkat SD terbawa arus seperti kayu terbawa air. Menjadi korban dan timbunan luka yang mendalam. Siapa yang harus mengobati…. ? Jawabannya hanya orang damu sendiri. Darah mendidih, luka juga terus menanah, dalam satu seruan , stop tipu kami orang Damu.

Tanggal 22 Maret 2015, masyarakat damu bentuk paguyuban. Langsung penetapn struktur kepemimpinan dan pembagian ke dalam seksi-seksi yang mencakup empat bidang yakni bidang adat, bidang pendidikan, bidang pembangunan dan kerohanian.

Dor Damu (Kepala adat secara keseluruhan dalam suku Damu), Romanus Rengki mengatakan bahwa kedepan siapa pun dari luar yang menyusup akan diarahkan secara baik dan benar ke forum ini untuk didiskusikan. Supaya kita sebagai orang damu tidak tertipu lagi. ”Kita jangan ditipu lagi. Kita sudah luka, jangan kasih kami madu yang tidak dimakan kalau kita masih sakit”, tegasnya.

Alo Ndiwal yang berperan sebagai gelarang (Badan Keamanan dalam adat suku Damu) menegaskan supaya persatuan dan kesatuan dalam suku harus dipupuk. Jangan ada yang muka belakang. Hanya topeng atau sekedar ikut ramai. Pasalnya, paguyuban ini akan disahkan secara adat dan akan dibuat janji-janji adat, siapa ayang melanggar, orang tersebut tanggung resiko entah mati atau sakit.

Begitu juga yang ditandaskan oleh Huber Uleng, tokoh adat yang berperan sebagai punggawa, tidak mau damu wae lawas tertipu terus oleh pihak elit pemerintah desa maupun politisi. “Banyak pembangunan di desa yang tidak berpihak ke wilayah damu. Tapi, kalau sudah soal rayuan dan gombal manis orang-orang pintar, suku damu menjadi taruhan. Seperti gadis diperawani, lalu lepas tinggal sendiri bersama janji-janji yang dihiasi ratap tangis tanpa henti. Oleh karena itu, damu mesti siap bangun kampung, kawal isu dan redam isu, “tegasnya.(*intan )