Lompatan Lumba-Lumba Pembuka Jalan Prosesi Laut

ZONA LINE NEWS, LARANTUKA- Prosesi jumad Agung tahun 2015 mengisahkan luka mendalam peziara, khususnya kota Larantuka. Peziara kota Larantuka mengungkapkan, prosesi laut tahun ini mengishakan kesedihan tersendiri. pasalnya pada saat doa di Kapela Tuan Maninu Sarotari dan dimulainya perarakan prosesi laut terutama pada saat peti tuan maninu diangkat dan dibawa menuju bero (baca:sampan) untuk dirahkan dari laut menuju pante kuce, kumpulan awan dan rintikan hujan turut menghantar Tuan Maninu.

Prosesi Laut Samana Santa Larantuka Flotim

Prosesi Laut Samana Santa Larantuka Flotim

Kepercayaan penduduk setempat kumpulan awan dan rintikan hujan bertanda baik dan prosesi laut tahun ini dilakukan dengan benar, dari tahun sebelumnya. Kumpulan awan teresebut menghantar tuan Maninu sepanjang perjalanan hingga pantai Kuce. Setibanya dipantai Kuce, patung itu ketika hendak dingkat, hujan pun kembali turun sambil peziara berarak tuan maninu menuju kapela di pohon siri.

Hujan itu tidak membuat para peziara angkat kaki pergi tinggalkan prosei laut. Peziara tetap khusuk berdoa dan mempersembahkan antensi pribadinya. Perarakan prosesi laut dimulai sekitar pukul 09.30 Wita dan berahkir sekitar pukul 14.00 saat patung Tuan Maninu didaratkan dipante kuce pohon siri yang letaknya tidak jauh dari istana raja larantuka. Disamping itu juga para peziara menceritrakan sebelum patung tuan maninu diarhakan ada seekor ikan lumba-lumba melompat di depan bero,tuan maninu di taruh untuk dirahkan. Lumba –lumba itu melompat ke arah pante kuce sebagai simbol pembuka jalan dan dimulainya prosesi laut serta pembuka jalan. Kejadian ini baru pertama kali terjadi dilihat para peziara.

Lompatnya seekor lumba-lumba didepan bero pengangkut Tuan Maninu membuat para peziara secara spontan meratap sambil mengeluarkan air mata bertanda haru. Peziara menangis sambil mengatakan tahun ini, prosesi laut dilaksanakan dengan benar. “Untuk prosesi laut tahun ini benar-benar sakral dan dimulai dengan benar. Kalu tahun lalu pasti ada yang salah dari prosesi,sehingga ada kejadian yang memnyebabkan 7 orang meninggal dunia.

”Prosesi Maninu tahun ini lebih terharu, dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun lalu para peziara terlihat ribut dan teriak. Kalu untuk tahun ini peziara terlihat lebih khusuk. Saya bangga prosesi tahun ini, lebih kelihatan tenang dan tertib, serta aman” ungkap Stefanus Derosari salah satu panitia penyelenggara prosesi laut ketika ditemui wartawan di pante Kuce setelah perarakan laut.

Katanya lagi, saya sangat senang karena tahun ini pemerintah benar-benar meperhatikan jalannya prosesi laut. Untuk tahun depan pemerintah bisa prioritaskan kapal Fiber (kapal penangkapan ikan) agar lebih terarah, sehingga prosesi jalannya lebih aman dan tertib. Para prosesi laut tahun ini terlihat lebih terharu, disamping bangga dan senang, ketertiban prosesi laut sangat bagus serta aman. tertib dan aman tertib aman dan terarah.

Hal senada juga disampikan Stefanus Dominggo Dasilva, ketika ditemui wartawan didepan istana raja pohon siri. Dominggo mengatahkan, Patung tuan Maninu ditemukan dari laut. Patung tuan Maninu saat diangkat dari laut dijunjung sehingga saat perarakan didarat patung itu harus dijunjung. pada zaman Dulu tidak ada nyanyian saat perarakan, sehingga ikan melompat dari laut menuju ke darat. Karena itu untuk tahun – tahun sesudah kejadian itu dilakukan doa dan nyanyian saat perarakan laut.

Katanya lagi, Prosesi tahun lalu diperdiksikan kejadin itu dikarenakan kelalaian kapal itu sendiri, walapun pada ahkirnya orang,mengatahkan ada kesalahan besar yang dilakukan serta dosa-dosa besar yang dilakukan.

Katanya lagi, Air dan pasir yang di gunakan untuk memandikan tuan Maninu, ibu-ibu membagikan kepada para peziara yang mencium tuan Maninu. Air dan pasir yang dibagikan memiliki kahsyat dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita serta dapat mengusir magiz yang digunakan untuk menyusahkan orang.

Dominggo melanjutkan lagi, peziara tahun lalu kebanyakan peziara yang berziara melalui laut dengan menumpang kapal, ketika hendak prosesi laut para peziara berteriak dan bersoarak-soarai diatas kapal. Serta kapal –kapal saat perarakan laut mendahului bero yang mengantar tuan maninu. Tapi untuk tahun ini tidak terjadi seperti tahun lalu.

Kepercayaan orang Nagi, turunnya hujan pada saat prosesi laut membawa berkat tersendiri serta dipercayakan pembersihan dosa manusia. “ Turunnya hujan pada saat prosesi laut dari kapela tuan Maninu menuju pante Kuce hujan dan mendung menghantar patung tuan Mmaninu. Dengan turunnya hujan bertanda bagi orang nagi sejo dinge (adanya rahmat serta berkat) serta adanya pengampunan dosa. Hujan juga bertanda orang-orang yang berdosa disucikan kembali,’ujarnya.(Plc)