Pedagang di Kabupaten Ngada Menangis Minta Tolong Semua Pihak

ZONALINENEWS-NGADA – Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada, Propinsi NTT menertibkan para pedagang dengan melibatkan aparat gabungan TNI, Polri, Satpol PP diduga kuat sudah melebihi posisi dan peran pemerintah daerah sebab proses penerapannya dilakukan hingga memasuki sejumlah halaman rumah atau lahan rumah milik warga di Kota Bajawa Kabupaten Ngada. Sementara puluhan pedagang yang berjualan di dekat areal Pasar Inpres Bajawa atas kebaikan hati seorang tokoh masyarakat, keluarga Hendrikus Liu Wea.

Suasana Pedagang Pasca Sweeping 9 April 2015

Suasana Pedagang Pasca Sweeping 9 April 2015

pantauan media ini, 9 April 2015 sejak pagi hari kembali terjadi insiden duka, aparat gabungan kembali merampas barang dagangan milik puluhan wanita ibu-ibu yang berjualan di tempat itu. “Tadi pagi mereka habis apel, setelah membacakan isi surat yang katanya Keputusan Bupati dan Surat dari Presiden. Setelahitu mereka menuju kami pedagang yang berjualan disini langsung merampas barang dagangan kami. Banyak pedagang hanya bisa melihat apa yang yang mereka mau pamerkan ke kami orang-orang kecil ini. Kami menangis dan meratap, ada yang duduk meratap di dalam rumah Pa Hengky Lodi, ada yang melawan, tetapi apalah daya kami ini hanya wanita ibu-ibu semua, ”ungkap Martha pedagang sayuran kepada wartawan.

Hal senada ditambahkan pedagang lainnya Ibu Oce. Dia mengisahkan duka pedagang dengan air mata terurai. “Setelah itu sore hari mereka datang lagi dan polisi memagari jalan masuk di sisi timur dan sisi barat jalur Pasar Inpres Bajawa. Setelah polisi membuat barikade itu, Pol PP masuk dengan wajah garang dan kembali merampas barang dagangan yang dijual para ibu disini. Kami pedagang tidak menerima diperlakukan setiap hari seperti ini terus, akhirnya kami ibu-ibu melakukan perlawanan dan terjadi tarik menarik sayuran, lombok, buah-buahan. Banyak sayuran rusak, diinjak-injak jatuh ke tanah, ada pedagang yang jatuh kena banting dan meratap. Tiga orang ibu pedagang kawan saya luka-luka di siku tangan, di kaki karena kena injak, ada yang bajunya robek, ada yang pelipisnya bengkak. Tidak hanya itu, Polisi juga sempat menembak ke udara dengan bunyi senjata dan ada tembakan gas air mata untuk membuat kami takut dan meneror kami. Sumpah demi Tuhan, kami berjualan disini bukan di tanah milik pemerintah tetapi di tempat miliknya pa Hengky Lodi, milik pribadi, tetapi masih saja diusir dan diinjak-injak. Siapapun orang-orang besar di Negara ini, Komnasham, Mabes Polri, Pa Presiden, Pa Wakil Presiden, Para Menteri dan siapa saja yang prihatin dengan nasib kami orang kecil, tolong datang bantu kami rakyat pedagang di Bajawa yang ditindas oleh Pemerintah, Polisi, Tentara dan Pol PP dari waktu ke waktu. Tolong kami karena kami juga warga Negara Indonesia ini,”tangis Oce.

Dihimpun media ini 9 April 2015, sejumlah tempat perkiosan di Kota Bajawa mengalami aksi sweeping aparat gabungan. Wartawan juga menemukan beberapa kios milik warga pedagang di wilayah Tanalodu Kota Bajawa dijaga ketat para pemiliknya bahkan siaga untuk melakukan perlawanan habis-habisan dengan aparat jika aksi sweeping memasuki kintal halaman mereka.

“Ini wilayah hukum pekarangan rumah milik pribadi. Mereka sudah patroli di tengah kota ini dan menyita barang-barang sesuai kehendak mereka, jadi kami dan saudara-saudara semua berjaga-jaga disini menunggu mereka datang menyita harta perkiosan kami ini. Silahkan datang ambil dan bongkar-bangkir kios ini, tetapi ingat, kami juga sudah tidak sabar dengan kesombongan-kesombongan ini. Kalau kami rakyat mata gelap, jangan salahkan kami, kita lihat saja seperti apa nantinya,”ungkap seorang anak muda di wilayah Tanalodu Kota Bajawa.

Hingga berita ini diturunkan, media ini belum berhasil mewawancarai pemerintah guna meminta penjelasan mengapa Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada menerapkan kebijakan yang diduga sarat tekanan ini. (*wrn)