Peledang Lamalera Tidak Hadir Prosesi Jumad Agung, Ada Sejarah Yang Terlupakan ?

Zona Line News, Larantuka- Samana Santa yang berlangsung pada tahun 2015, diketahui dengan jelas menurunnya peziara yang hadir mengikuti prosesi pada jumad agung melalui jalur laut, maupun jalur darat. Pada tahun 2014, lalu peziara membludak di Kota Larantuka. Jumlah peziara laut dan darat sama-sama banyaknya. Namun pada tahun ini peziara yang datang sangat sedikit. Disamping para peziara yang menurun drastis, rombongan yang selalu hadir bahkan sudah ada perjanjian bahwa akan mengikuti prosesi jumad agung di Laratuka setiap tahunnya tidak hadir.

Prosesi Laut Samana Santa Larantuka Flotim

Prosesi Laut Samana Santa Larantuka Flotim

4 pledang dari desa Lamalera tidak kelihatan pada prosesi laut kali ini. Salah satu putra Lamalera Mikhel Chelle Kedang, ketika dikonfirmasi media diselah-selah perarakan tuan manino menuju pante Kuce. Cehelle menturkan, prosesi tahun 2015 yang berlangsung dari jalur darat dan jalur laut, tidak seperti terjadi pada tahun- tahun sebelumnya. Pada tahun-tahun sebelumnya peziara yang datang mengikuti prosesi jumad agung, tidak dalam tekanan atau ketakutan. Kalu untuk tahun ini sangat nampak peziara ketakutan dan merasakan ada yang tidak beres. “biasanya pada tahun-tahun sebelumnya, peziara yang datang dari Lamalera sudah tiba di Larantuka pada hari kamis putih. Untuk tahun ini para peziara dari Lamalera tidak datang mengikuti prosesi laut. Ada benyak pertimbangan yang dibuat oleh umat Lamalera yang penduduknya seratus persen beragama katolik, di pulau Lembata itu. Peziara Lamalera yang bermata pencarian sebagai nelayan bukannya takut mengikuti prosesi laut, namun ada pertimbangan lain yang sangat penting dan urgen, Katanyanya lagi, peziara lLamalera tidak menghadiri prosesi laut diantaranya dan paling utama yakni tidak ada perhatian pemerintah Kabupaten Flores Timur yang mengeluarkan undangan setiap tahunnya mengundang peziara dari Lamalera untuk mengikuti prosesi jumad agung.

Kehadiran peziara dari Lamalera pada prosesi laut Jumad Agung, ada maknanya tersendiri. Bukan sekedar hadir, seperti peziara lainnya. Pemerintah Flotim lebih mengutamakan para peziara dari luar yang datang mmembawa duit, ketimbang melestarikan budaya yang sudah menjadi turun temurun.

Cehelle melanjutkan, pemerintah Flores Timur harus peka dan melihat kembali budaya yang sudah berjalan selama ini. Jangan pernah merobah sejarah yang suda berjalan selama bertahun-tahun lamanya. Harus di ingat bahwa ketika sejarah tidak diimplementasikan dengan baik, dan ada niat untuk merubanya hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan, maka tuhan akan akan murka. Sudah terjadi kemarahan tuhan, sehingga jangan mengulangi kesalahan yang sama setiap tahunnya,Chelle.

Hal senada juga disampikan tokoh masyarakat Lamalera, yang tidak mau namanya disebutkan ketika dihubungi melalui handphone pribadinya menuturkan, prosesi jumad agung yang terjadi pada setiap tahunnnya adalah 4 peledang dari lamalera bersama sampan kecil (bero) digunakan untuk mengantar Tuan Manino menuju pante Kuce. Namun yang terjadi pada tahun ini, peledang dari Lamalera tidak menghadiri proses Jumad Agung berlangsung. “Kami bukan takut tidak menghadiri prosesi Jumad Agung di Larantuka, namun ada beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan sebelumnya. Pertimbangan-pertimbangan tersebut berdasarkan pengalaman yang terjadi setiap tahunnya. Diantaranya pemerintah Flores Timur melalui panitia penyelenggara kegiatan samana santa, mengeluarkan undangan kepada umat Lamalera untuk menghadiri prosesi jumad agung. Namun pemerintah dan panitia tidak memikirkan keberadaan kami di Larantuka. Dan kejadian sudah berulang kali terjadi pada setiap tahunnya. Pertimbangan –pertimbangan itu yang membuat kami tidak menguikuti jalannya prosesi Jumad Agung. Lamalera bukan takut dengan kejadihan tahun lalu, namun teradisi yang dijalankan pada beberapa tahun ini sudah kelur dari sejarah sebenarny.

“Katanya lagi, setiap tahun peziara dari Lamelera membawa kurbannya untuk dipersembahakan kepada tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria. Perbehan yang dibawahkan diantaranya hasil tangkapan selama tahun sebelumnya, serta jagung hasil barter dari ikan. Itu merupakan persembahan dan ucapan terimah kasih kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria, “jelanya. (*Plc)