Pengakuan Mayoritas Pedagang di Bajawa Tolak Berjualan di Pasar Boubou

ZONALINENEWS-NGADA- Penutupan Pasar Inpres Bajawa Kabupaten Ngada Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) atas kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada Kepemimpinan Bupati Marianus Sae tidak diduga menyimpan fakta lain dibalik hiruk pikuk klaim pro contra pedagang di Kabupaten Ngada.

Ibu Asri, eks Pedagang Ikan Pasar Boubou Bajawa

Ibu Asri, eks Pedagang Ikan Pasar Boubou Bajawa

Sebuah pengakuan mengejutkan terungkap dari seorang pedagang yang sebelumnya getol mendukung kebijakan pemerintah bahkan yang bertindak sebagai penentu suara mendukung relokasi pasar dipindahkan dari Pasar Inpres ke Pasar Boubou Bajawa. Ibu Asri, seorang pedagang yang kini menggelar jualan ikannya diatas sebuah tenda depan halaman rumahnya yang terletak di belakang Markas Kodim Bajawa Kabupaten Ngada, kepada media ini 11 April 2015 membuat pengakuan mencengangkan disaat Pemda Ngada saat ini getol melansir informasi publik bahwa ratusan pedagang ingin bertahan di Pasar Boubou Bajawa dan tidak mau kembali ke Pasar Inpres.

Hal ini menurut Ibu Asri (pedagang), jika menoleh kembali ke belakang, yang sebenarnya terjadi di Ngada adalah mayoritas pedagang menolak bertahan di Pasar Boubou karena lebih dari 90% pedagang di Bajawaa mendesak harus kembali ke Pasar Inpres Bajawa.

“Setelah dipindahkan ke Pasar Boubou, pada Tahun 2014 lalu pernah ada sebuah demonstrasi besar yang dilakukan oleh para pedagang dengan menolak dipindahkan dari Pasar Inpres ke Pasar Boubou. Waktu itu kami demo ke kantor daerah hingga Bupati meminta perutusan masing-masing los (spesifikasi) yang setekah dipilah-pilah sebanyak sepuluh perutusan mewakili kategori pedagang yang berjualan di Pasar Boubou. Setelah berbicara langsung dengan Pa Bupati, dari sepuluh perwakilan aspirasi itu menemui secara tegas menyatakan aspirasi sikap masing-masing. Hasilnya adalah sembilan perwakilan menolak bertahan di Pasar Boubou dan hanya satu perwakilan yaitu perwakilan pedagang ikan mendukung pemerintah dan menyatakan siap berjualan di Pasar Boubou. Yang sebenarnya terjadi adalah begitu. Sembilan perwakilan berbanding satu perwakilan saja dan suara satu perwakilan itu adalah saya sendiri selaku penerima mandat dari para penjual ikan. Kalau selain penjual ikan, semua pedagang menolak bertahan di Pasar boubou Pa’. Perwakilan penjual ikan sangat mendukung pemerintah waktu pun karena ada beberapa catatan kami minta pemerintah penuhi. Saya yakin Ibu Kepala Dinas Koperasi, Ibu Anas ataupun Pa Bupati masih ingat baik hal itu. Tetapi apa jadinya, setelah berdagang selama sembilan bulan disana, aspirasi perwakilan pedagang ikan yang mendukung pemerintah pun tidak direalisasi sampai hari ini, ” ungkap Asri pedagang yang pernah menjadi kunci aspirasi mendukung Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada menyatakan para pedagang siap bertahan di Pasar Boubou Bajawa.

Pasalnya, banyak hal yang tidak digenapi oleh pemerintah, misalnya pengaturan dan penertiban para pedagang ikan di tengah kota. Menurut dia, atas tidak terpenuhinya aspirasi mereka, para pedagang ikan menyesalkan janji-janji yang merugikan kaum pedagang.

Ibu Asri mengungkapkan tidak sedikit pejabat berlangganan ikan yang diantar langsung ke rumah-rumah mereka (para pejabat di Bajawa) . “Kami sudah ditaruh di tempat yang jauh dari keramaian, jauh dari akses pembeli, biaya angkutan double, tetapi banyak pejabat malah beli ikan diantar langsung ke rumah-rumah mereka dan yang saya dengar termasuk rumah jabatan juga beli ikan dari pengedar di kota Bajawa yang langsung diantar ke rumah-rumah mereka atau rumah jabatan. Kami mau dapat ampa … ?, “tambah Asri.

Saat ini jualan Asri digelar di depan rumah miliknya atau sejak usai partus (melahirkan) buah hatinya pada beberapa bulan lalu. Dia enggan kembali ke Pasar Boubou sebab menurut dia berdagang di Pasar Boubou Bajawa dengan kondisi saat ini tidak beda dengan menunggu kapan ikan dagangannya membusuk dan rusak.

“Sejak belajar hidup berdagang sebagai pedagang ikan, saya baru mengalami nasib ikan-ikan segar yang saya jual terpaksa dijemur menjadi ikan kering, yakni hanya disaat saya berdagang di Pasar Boubou. Mau jadi apa kami pedagang kalau seperti ini. Sementara modal usaha dan cicilan kredit, keperluan anak sekolah, keperluan rumah tangga, keperluan kesehatan, keperluan bayar pajak, keperluan bayar listrik, bayar air dan lain-lain tidak bisa kami hindari dari hari ke hari. Kami mau mati kelaparan, jatuh miskin, mengemis di orang-orang ataukah kami harus berjuang dengan cara kami… ?,”, tutup Asri.

Senada ibu Asri kembali diungkap sejumlah pedagang lainnya yang sudah hengkang dari Pasar Boubou Bajawa dan memilih berjualan di halaman rumah, Hendrikus Liu Wea disamping lokasi Pasar Inpres Bajawa.

Mereka berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada dibawah kepemimpinan Bupati Marianus Sae tidak memaksakan kehendak kepada para pedagang sebab apapun alasan dukung mendukung kebijakan relokasi pasar saat ini, para pedagang terus mengalami kebangkrutan ekonomi dari waktu ke waktu karena dipaksa bertahan di Pasar Boubou Bajawa Kabupaten Ngada melalui berbagai metode pendekatan ataupun janji-janji yang hanya bersifat sementara dan mengecewakan para pedagang. (*wrn)