Peringati Hari Kartini, Darmawanita Belu Lakukan Pemotongan Tumpeng

Acara peringatan hari kartini di Belu

Acara peringatan hari kartini di Belu

ZONA LINE NEWS- ATAMBUA- Siapa yang tidak mengenal Raden Ajeng Kartini…? pahlawan yang dikenal sebagai pahlawan emansipasi wanita Indonesia ini, setiap bulan April selalu diperingati. Dari anak-anak SD sampai para pejabat ramai memperingatinya. Hal ini disampaikan Pj. Bupati Belu, Wilem Foni, saat menghadiri peringatan hari RA Kartini, di Aula Darma Wanita Betelalenok, 21 April 2015.

Sosok yang pada zamannya memperjuangkan hak-hak perempuan seutuhnya ini bahkan sudah mulai dikenal di seluruh dunia. Apalagi jika melihat pengaruhnya hingga saat terkini.

Lanjut Foni, Sudah banyak tokoh perempuan setelahnya yang mengikuti jejak sebagai pemegang peran penting di berbagai lini. Sebagai contoh, di Kabupaten Belu sebut saja Januaria Ewalde Berek yang kini menjabat sebagai ketua DPRD Kabupaten Belu, Hingga Megawati Soekarnoputri yang pernah mencicipi empuknya kursi Presiden RI di masa pascareformasi.

Diakui Foni bahwa dirinya tidak bisa membayangkan tokoh-tokoh tersebut jadi apa saat ini, jika dahulu R.A. Kartini tidak memulainya pada zaman pra kemerdekaan.

Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara pada tanggal 21 April 1879.

Plt Ketua Darma Wanita Kabupaten Gaudensiana Luruk Bere, ketika ditemui di sela-sela kesibukannya menyatakan sebelum adanya perjuangan Raden Ajeng Kartini, nasib kaum wanita penuh dengan kegelapan, kehampaan, dari segala harapan, ketiadaan dalam segala perjuangan, dan tidak lebih dari perabot kaum laki-laki belaka, dan bertugas tidak lain dari yang telah ditentukan secara alamiah, yaitu mengurus dan mengatur rumah tangga saja, kaum wanita telah dirampas dan diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia.

Lanjutnya Berek, cara berpikir kaum wanita tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya, kaum wanita tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya untuk melebihi dari apa yang diterimanya dari alam. Karena kaum wanita tidak berdiri kesempatan untuk belajar membaca, menulis dan sebagainya. Dengan kata lain kaum wanita hanya mempunyai kewajiban tetapi tidak mempunyai hak sama sekali.

Untuk mengembangkan ide dan cita-citanya yang hendak merombak status sosial kaum wanita, dan cara-cara kehidupan dalam masyarakat dengan semboyan : “Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai dengan keperluan serta kebutuhan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki-laki”. Tuturnya.

Dengan pengetahuan serta pengala man yang didapatnya, Raden Ajeng Kartini secara berangsur-angsur dan setahap demi setahap tapi pasti berusaha menambah kehidupan yang layak bagi kaum wanita.

Usaha-usaha Raden Ajeng Kartini dalam meningkatkan kecerdasan untuk bangsa Indonesia dan kaum wanita, khususnya melalui sarana-sarana pendidikan dengan tidak memandang tingkat dan derajat, apakah itu bangsawan atau rakyat biasa. Semuanya mempunyai hak yang sama dalam segala hal, bukan itu saja karya-karya beliau, persamaan hak antara kaum laki-laki dan kaum wanita tidak boleh ada perbedaan. Beliau juga mempunyai keyakinan bahwa kecerdasan rakyat untuk berpikir, tidak akan maju jika kaum wanita ketinggalan.

Dikatakannya juga oleh Luruk Bere, perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah berhasil memposisikan kaum wanita di tempat yang layak, yang mengangkat derajat wanita dari tempat gelap ke tempat yang terang benderang, sesuai dengan karya tulis beliau yang terkenal, yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Raden Ajeng Kartini meninggal dunia dalam usia yang masih produktif, yakni 25 tahun. Beliau pergi meninggalkan Bangsa Indonesia dalam usia yang relatif muda, yang masih penuh dengan cita-cita perjuangan dan daya kreasi yang melimpah.

Tetapi perjuangan serta cita-cita beliau tetap berkumandang dan berkembang, terbukti dalam masa pembangunan sekarang ini tidak sedikit kaum wanita yang memegang peranan penting, baik dalam pemerintahan dalam bidang swasta sesuai dengan profesi masing-masing. Tutupnya, (*Davidson)