Peziara Prosesi Samana Santa Trauma dan Takut Banyaknya Pasukan Bersenjata

Amankan Prosesi Jumad Agung

ZONA LINE NEWS, LARANTUKA- Prosesi laut Samana Santa yang diselenggarakan pada 03 April 2015 di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Para peziara yang menghadiri prosesi di larantuka pada tahun 2015 ini, kebanyakan ketakutan dan tidak konsentrasi berdoa. Bagi para peziara tragedi yang terjadi pada tahun 2014 silam dalam hajatan yang sama, sejumlah peziara meninggal dunia dalam kecelakaan prosesi laut. Disamping ketakutan akan persitiwa tahun lalu para peziara juga ketakutan dengan banyaknya personil Polri,TNI, dan pasukan bersenjata lainnya, yang diturunkan untuk melakukan pengamanan.

prosesi Laut Samana Santa Larantuka foto findingstory.blogspot.com

prosesi Laut Samana Santa Larantuka foto findingstory.blogspot.com

Komentar ini disampaikan salah satu peziara asal lembata Petrus G. Manuk di kapela Tuan Manino Sarotrai Larantuka 03 April 2015 menuturkan, prosesi yang berlangsung tahun ini, jujur saya tidak dapat menjalankan ibadah atau doa pribadi dengan baik. Ada beberapa faktor yang membuat saya tidak nyaman berdoa diantaranya, masih terbayang peristiwa tahun 2014. Kecelakaan tenggelamnya kapal pengangkut para peziara yang menyebapkan 7 orang dinyatakan meninggal dunia. Disamping itu juga saya tidak konsentrasi dalam doa diantaranya banyaknya pasukan bersenjata yang diturunkan untuk mengamankan proesisi laut saman santa, ”ungkap Manuk.

Katanya lagi, pasukan bersenjata yang diturunkan untuk melakukan pengamanan semestinya berada dipos –pos penjagaan yang sudah dibuat. Namun yang terjadi sakarang, kehadiran pasukan pengamanan tidak ditempatkan pada pos –pos pengamanan, tetapi dibiarkan berkeliaran yang sangat mengganggu ibadat yang sedang berlangsung.

Manuk melanjutkan, walapun ada perasaan ketakutan, kepada personil keamanan yang diturunkan untuk melakukan pengamanan, kami mengucapkan terimah kasih kepada polisi dan TNI yang sudah bersedia mengamankan jalannya prosesi ini, walapun teguran yang tidak manusiawi kepada pengendara yang salah jalur sangat menyakitkan.

Manuk juga dimarahin oleh aparat keamanan karena salah keluar masuk jalur.“Saya tadi pagi salah jalur karena baru tiba dari Lembata. Saya kira ditegur dengan baik, namun dimarahin dan mengatakan kepada saya, dasar orang bodoh. Bahasa itu yang diungkapkan seorang polisi saat melihat saya salah masuk jalur,”jelas Manuk.

Hal senada juga disampikan peziara lainnya dari Solor. Maria Tapon menuturkan, prosesi laut yang berlangsung pada tahun-tahun sebelumnya tidak sama dengan tahun ini.ketakutan akan terulangnya kejadian tahun lalu, kami juga takut dengan banyaknya anggota polisi dan tentara yang ada.

Katanya lagi, kehadiran pasukan bersenjata yang banyak menyebapkan peziara ketakutan dan tegang. Ketegangan itu, barawal dari kehadiran para pasukan bersenjata. “ketika tiba dipelabuan kami takut dan sangat tegang. Kami kira ada sesuatu kejadian yang luar biasa sekali. Namun baru kami ketahui bahwa anggota yang ada hanya mengamankan prosesi, bukan mau berperang,”tutur Tapon. (*atakey)