Amburadulnya Pasar Wolowona, Pusam Minta Pemda Lahan Alternatif

Para pedagang yang berjualan di emperan jalan pasar wolawaru Ende

Para pedagang yang berjualan di emperan jalan pasar wolawona  Ende

Zonalinenews-Ende, Pusat kajian dan advokasi masyarakat Indonesia meminta pemerintah daerah kabupaten Ende segera membuka atau menyiapkan lahan alternatif. Pasalnya penataan pasar yang dilihat sangat amburadul menyebabkan banyak pedagang pasar semakin tidak teratur dalam berjualan atau berdagang di sekitar area pasar wolowona Ende.

Hal ini mengakibatkan jalur lintas trans flores macet akibat menumpuknya para pedagang, tukang ojek, dan konsumen berada di area pasar tersebut. Ungkap sekretaris Pusam Ende Oskar Vigato Kepada wartawan Zonalinenews ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya. Jumat 8 Mei 2015

Oskar vigato Mengatakan, lahan pasar yang sangat sempit dan menumpuknya para pelaku pasar serta tidak adanya lahan khusus parkiran kendaraan menyebabkan wajah pasar tidak kelihatan sebagai pasar yang selayaknya dikatakan pasar.

Menurutnya, pasar tersebut perlu ditata kembali sehingga pemetaan para pedagang musiman dan pedagang asli kota yang memiliki loos kios, bisa tertata dengan baik. namun dengan melihat kondisi pasar yang sangat sempit oleh karena itu penting untuk Pemda segera menyiapkan lahan baru sebagai salah satu lahan yang dikhususkan untuk para pedagang musiman sehingga tidak berdesak – desakan saat berjualan ditempat area pasar tersebut.

Dijelaskanya, semakin banyaknya angka penduduk menyebabkan semakin meningkatnya angka permintaan kebutuhan akan barang di pasaran. Maka penting untuk pemda tidak bisa hanya sekedar turun melakukan pemantauan atau mengawasi tanpa adanya kepastian kapan pasar wolowona direnovasi atau kapan pemda ende menyiapkan lahan baru sebagai lahan alternatif.

“ketika hal ini hanya berakhir pada pemantauan atau pengawasan semata tanpa adanya keputusan atau kebijakan anggaran yang pasti maka mustahil pasar wolowona akan kelihatan bagus dan baik,” tegasnya.

Salah seorang pedagang papalele, ibu Margareta mengakui pihaknya tidak mendapatkan tempat di dalam pasar karena tempat didalam pasar sudah ditempati oleh para pedagang papalele lainya. Hal ini menyebabkan dirinya terpaksa berjualan di pinggir jalan karena kami tidak memiliki tempat khusus untuk berjualan apalagi kami datang dari jauh ingin mencari nafka dengan berjualan di pasar wolowona ini.

Margareta berharap pemerintah harus memperhatikan nasib papalele dan mamalele karena jika mereka (papalele dan mamalele) tidak turun berjualan di hari pasar maka mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Anggota DPRD Ende, Maksimus Deki mengatakan terkait persoalan ini pihaknya baru pulang melakukan pemantauan dipasar wolowona ternyata keadaan pasar cukup semurawut dan sangat memprihatinkan. ”Kami minta kepada dinas terkait untuk segera melakukan penataan ulang kepada para pedagang pribumi agar tidak terkesan amburadul dalam berjualan di pasar tersebut karena hal tersebut dapat mengantisipasi tidak terjadinya kemacetan lalu lintas,”ungkap Maksimus saat dikonfirmasi diruangannya Jumat 08/05/2015.

Dikatakannya, dalam konsep jangka panjang DPRD akan mengundang Disperindag dan  Kinpraswil untuk melakukan rapat bersama dalam membahas terkait dengan masa depan pasar wolowona Ende. (Ryan laka)