Diduga Sabotase Ganti Rugi, Ahli Waris Lahan Bandara Ngada Lapor Menhub

Andreas Muga Lelo

Andreas Muga Lelo

ZONALINENEWS-NGADA, Pembayaran ganti rugi lahan Bandara Udara Turelelo Soa Kabupaten Ngada Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada diduga bermasalah. Pasalnya pihak ahli waris lahan Turelelo, Tiwu Teke Soa Kabupaten Ngada dalam hal ini keluarga Ahli Waris Turelelo Andreas Lelo Tena mengadukan masalah dengan bersurat resmi ke Menteri Perhubungan Republik Indonesia , tembusan Kementerian Pertahanan Nasional, Kapolri, Gubernur NTT, Kapolda NTT bersama sejumlah pihak.

Berdasarkan surat tanggal 23 Mei 2015, dengan kop surat ‘Pembayaran Ganti Rugi Lahan Bandara Udara Soa Kecamatan Soa Kabupaten Ngada Provinsi NTT Tidak pada Peruntukannya, dan surat tersebut dialamatkan kepada Menteri Perhubungan RI di jakarta dengan tembusan sejumlah pihak.

Sementara pada narasi pembukaan diterangkan penegasan isi surat menyatakan telah terjadi ketidakadilan proses ganti rugi tanah bandara dan telah terjadi pemalsuan dokumen yang berkaitan dengan ganti rugi lahan oleh pihak Pemda Ngada.

Salah satu ahli waris pelapor, Eduardus Muga Lelo (35 tahun ) Warga Suku Gaba Ngedo Soa Kabupaten Ngada Senin 25 Mei 2015 menuturkan lahan kering yang terletak di area Bandar Udara Turelelo Soa Kecamatan Soa Kabupaten Ngada yang telah dikelola sejak zaman nenek moyang Lelo Gaba dengan ukuran sekitar 6 (enam) hektar, Saat ini Kami (ahli waris) persoalkan karena lahan kering yang berada di lintasan Bandara sekitar 450 meter persegi yang ditandai dengan berdiri tegak monumen leluhur bernama Tuerelelo Gaba yang setiap tahunnya dilakukan ritual adat disitu bersama semua anak suku lain di Desa Piga Kecamatan Soa atas pengakuan keabsahan adat kepemilikan warisan Lelo Gaba.

Namun pada tahun 2010 Kepemimpinan Bupati Ngada Marianus Sae melalui Badan Pertanahan Kabupaten Ngada melakukan pengukuran di areal Bandar Udara Turelelo Soa Ngada yaitu di lokasi Turelelo Tiwu Teke nama pemilik yang ada dalam buku daftar pengukuran tersebut berbeda yaitu tertera kepemilikan baru berinisial SLG dan AMG.

Dikisahkan selanjutnya pada tahun 2011 Badan Pertanahan Kabupaten Ngada kembali melakukan pengukuran untuk pelebaran Landasan Bandara udara Turelelo Soa namun ketika dikejar oleh turunan ahli waris, lagi-lagi ditemukan munculnya nama baru pada daftar hak kepemilikan, tidak lagi SLG dan AMG tetapi sudah diubah menjadi kepemilikan berinisial KGS.

Atas temuan ini pihak ahliwaris kepada Tim Media menjelaskan pihaknya sudah mengadukan perkara ini kepada pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada mulai dari tingkat Kepala Desa Piga, pihak Kecamatan Soa dan Polsek Soa di Soa bahkan persoalan diadukan langsung kepada Bupati Ngada Marianus Sae.

“Kami sudah mengadukan perkara ini ke beberapa pihak mulai dari Kepala Desa Piga, Kecamatan, Polsek bahkan kepada Bupati Ngada Marianus Sae sendiri. Pada tanggal 9 November 2014 kami bersama anak-anak Eduardus Muga Lelo, Bapak Thomas Soa Rua, Bapak Hendrikus Gabha, menghadap Bupati Ngada Marianus Sae melakukan konsultasi sekaligus mengadukan masalah ini kepada Bupati Ngada. Kami mengatakan kepada Bupati bahwa jika persoalan ini tidak ada penyelesaian dan hak-hak kami disabotase maka kami berniat memagari lokasi itu untuk sementara waktu dan Pa Bupati menjawab ‘pagar boleh pagar yang penting jangan baku bunuh’ dan Bupati menyarankan kami melaporkan perkara ini ke Polres Ngada, ” ungkap pihak ahli waris yang juga termuat uraiannya dalam surat resmi pengaduan yang ditujukan kepada Menteri Perhubungan Nasional di Jakarta tembusan para pihak.

Pihak ahli waris memastikan telah terjadi pemalsuan, sabotase hak serta konspirasi ketat para pihak termasuk dugaan keterlibatan seorang oknum Anggota Polri di wilayah setempat melalui pasal pemalsuan surat pernyataan perdamaian kedua pihak bersengketa.

Pihak ahli waris berharap masalah ini dapat segera disingkap bersama termasuk membongkar para aktor intelektual yang telah mempertidakkan kedudukan ahli waris sah lahan Bandara Turelelo soa Ngada yang jelas-jelas ditandai dengan symbol-symbol budaya adat setempat diantaranya monumen Ture yang berdiri tegak sebagai pilar adat sah dan legal di tengah kawasan Bandara Udara Turelelo Soa Kabupaten Ngada Flores Nusa Tenggara Timur.

Hingga berita ini diturunkan wartawan media ini di Ngada masih terus menghimpun sejumlah informasi ataupun tanggapan para pihak atas pengaduan perkara ini. (*wrn)