Divonis 10 Tahun Penjara, Topan Menangis

Martinus Oemenu saat mendengar putusan

Martinus Oemenu saat mendengar putusan

Zonalinenews,Kupang– Pelaku pembunuhan anggota polisi, Obaja Nakmofa, yang melibatkan, Martinus Oemenu alias Topan, dituntut 10 tahun penjara. Mendengar putusan tersebut Topan langsung menangis. Isteri dan anak serta keluarga yang datang menyaksikan sidang tersebut pun ikut mengeluarkan air mata. Putusan tersebut dibacakan Hakim Ketua, Achmad Lakomi, dengan Hakim anggota, Jamser simanjuntak dan T. Beny Eko Suoryadi, di Pengadilan Negeri Kupang, Senin (4/5).
Majelis Hakim menilai, esepsi yang diajukan terdakwa tidak sesuai dengan keterangan para saksi. Selain itu, majelis hakim juga menilai, terdakwa berbelit-belit dalam memberikan keterangan. Sedangkan hal yang meringankan terdakwa yakni, terdakwa tidak pernah dihukum dan berlaku sopan dalam persidangan.

Sementara itu, penasehat hukum terdakwa, George Nakmofa, usai sidang mengatakan, akan melakukan banding. Menurutnya keputusan hakim tersebut sangat tidak profesional. Hal ini terbukti dengan saat menelaah kasus tersebut hakim masih menggunakan keterangan para saksi yang memberatkan terdakwa yakni, Frid Boymau dan Robinson. Menurutnya, keterangan kedua saksi tersebut seharusnya tidak boleh dipakai karena kedua saksi tersebut saat memberikan keterangan pada penyidik serta dalam persidangan berbelit-belit bahkan berubah-ubah.

Ia menuturkan, sebelumnya saksi Frit Boymau dalam memberikan kesaksian didepan penyidik mengatakan, Robinson merupakan pelaku penikaman terhadap Obaja Nakmofa. Namun, saat di persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi, Frit memberikan keterangan yang berbeda. Hal ini menurutnya, ada dugaan bahwa saksi telah diintimidasi oleh oknum-oknum tertentu dalam memberikan kesaksian.

Sedangkan saksi Robinson, menurutnya, dalam memberikan keaksian pasti akan memberatkan terdakwa karena dalam kasus ini, polisi pernah menetapkan Robinson sebagai pelaku pembunuhan.
“Kami akan lakukan banding. Seharusnya hakim tidak boleh pakai keterangan kedua saksi itu. Karena berbelit dan berubah-ubah,” ungkapnya.

Sebelumnya, dalam esepsi penasehat hukum menilai, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam tuntutannya terhadap terdakwa, dinilai fiktif karena karena tidak sesuai fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan.

Menurut penasehat hukumn terdakwa, untuk menentukan seseorang telah bersalah telah terbukti melakukan suatu tindak pidana dan dapat dipidana apabila tindak pidana yang didakwakan benar-benar telah memenuhi semua unsur dari rumusan delik yang dianggap dilanggar oleh terdakwa. (*amar)